Ketua Tim Pelaksana Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Wantiknas), Dr. Ing. Ilham Akbar Habibie, MBA, menegaskan bahwa transformasi digital merupakan instrumen strategis bagi daya saing, kedaulatan, dan ketahanan ekonomi Indonesia. Pernyataan itu disampaikan Ilham, saat memberikan sambutannya di acara puncak penghargaan TOP Digital Awards 2025 yang diselenggarakan di Hotel Raffles, Kamis (4/12/2025) kemarin.
Untuk diketahui sejak tahun 2014, Ilham memimpin Wantiknas dan mengemban mandat untuk merumuskan kebijakan umum, arah strategis, serta koordinasi lintas instansi dalam bidang TIK.
“Tugas kita adalah memberikan informasi, masukan, usulan, rekomendasi. Kita bukan kementerian dalam hal ini, kita tidak punya tanggung jawab untuk memutuskan atau implementasi,” ujarnya di hadapan peserta peraih penghargaan TOP Digital Awards 2025.
Dalam paparan, Ilham menyoroti bahwa seluruh pilar pada visi Indonesia 2045 memiliki unsur digital yang sangat kuat, terutama pada pilar pertama: pembangunan manusia dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). “Tidak bisa kita membayangkan adanya negara maju yang tidak bisa menguasai, menerapkan, bahkan mengembangkan teknologi,” tegasnya.
Teknologi, menurutnya, bukan sekadar alat, tetapi fondasi inovasi dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Karena itu, kontribusinya harus dirasakan merata untuk mencegah meningkatnya ketimpangan. “Tidak ada manfaatnya kalau kita mengembangkan ekonomi menjadi emas, kalau tidak bisa meratakan hasilnya,” katanya.
Tidak luput pula, dalam paparannya Ilham juga menyinggung soal visi pemerintah saat ini, yaitu Asta Cita. Ilham menilai bahwa visi pemerintahan saat ini, yang terangkum dalam Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden, menempatkan digital sebagai fondasi kemandirian nasional.
“Kemandirian bangsa kita ini bukan saja soal pangan dan energi, tapi juga kedaulatan data dan kemandirian teknologi,” ujarnya.
Karena itu, transformasi digital bukan sekadar agenda penguatan sektor teknologi, tetapi strategi besar untuk menopang seluruh aspek pembangunan nasional.
Digital sebagai Instrumen Strategis
Ilham menekankan bahwa digital harus dipahami melampaui penggunaan sehari-hari seperti ponsel atau media sosial. “Digital sama dengan instrumen strategis daya saing global. Digital sama dengan instrumen kedaulatan nasional. Dan digital sama dengan instrumen ketahanan ekonomi,” ungkapnya.
Namun, pemanfaatan digital yang efektif membutuhkan operational excellence — pemanfaatan data real time, integrasi sistem yang saling terhubung, serta pengambilan keputusan berbasis analitik dan kecerdasan buatan.
Wantiknas, menurut Ilham, juga telah lama menyoroti pentingnya digital leadership. Ia menegaskan bahwa transformasi digital bukan hanya soal pembelian teknologi. “Yang paling penting dalam transformasi digital adalah digital leadership. Adanya kepemimpinan yang berani membuat proses, bukan hanya membeli teknologi,” katanya.
Kepemimpinan digital ini harus diikuti tata kelola digital yang baik serta pemanfaatan teknologi secara efektif. Ketiga komponen tersebut akan melahirkan budaya kerja baru yang kolaboratif, adaptif, inklusif, dan berbasis data. Pada akhirnya, orientasinya adalah peningkatan pelayanan publik dan kepercayaan masyarakat.
Kontribusi Ekonomi Digital dan Tantangannya
Saat ini, ekonomi digital global diperkirakan menyumbang 15 persen terhadap PDB dunia. Meski Indonesia belum mencapai angka tersebut, Ilham menyebut tren pertumbuhannya sangat positif. Namun, ia mengingatkan bahwa Indonesia perlu memastikan penggunaan teknologi digital tidak hanya bersifat konsumtif.
“Kalau kita sudah pintar melihat website atau sosmed kita, kita belum menjadi pengguna digital yang produktif. Kita lebih konsumtif,” ujar Ilham.
Lebih lanjut Ilham menilai bahwa kalau kita ingin menjadi maju sebagi negara dan bangsa, kita harus meningkatkan jumlah SDM yang mampu menggunakan teknologi digital ini secara produktif. Jadi tantangan utama adalah dalam hal ini kesenjangan infrastruktur.
“Karena saya sadar tanpa kita mempunyai infrastruktur digital yang baik, kita juga susah mencapai tujuan kita menjadi seorang insan digital yang lebih produktif. SDM ini memang (masalah) tersendiri. Perlu adanya kurikulum yang lebih jitu di berbagai instansi pendidikan, integrasi sistem, dan juga keamanan.
Berkaitan dengan cybercrime, Ilham menilai bahwa hal ini menjadi satu kekhawatiran tersendiri dan menjadi satu tantangan yang sering kita alamii.
“Jadi, saya yakin kalau kita bisa kelola semuanya dengan baik, maka ekonomi digital ini menjadi salah satu motor utama, salah satu bagian utama dalam hubungan menuju ke visi Indonesia 2045 yang menjadi emas,” tandasnya.
Teknologi Game Changer dan Risiko Siber
Ilham memaparkan sejumlah teknologi yang ia sebut game changing, mulai dari artificial intelligence (AI), quantum computing, robotics, 5G, hingga internet of things (IoT). Seiring peningkatan penggunaan digital, ancaman keamanan siber pun meningkat.
“Biaya rata-rata kebocoran data global saat ini sudah mencapai 4,4 juta dolar per insiden,” sebutnya.
Ancaman cyber, lanjut Ilham, meningkat itu seiring dengan permanfaatan AI dan juga cloud. Menurutnya, semakin kita tergantung dengan sistem digital, baik dalam bentuk cloud, pemanfaatan AI, tentu itu banyak kesempatan juga untuk para pelaku cybercrime untuk mengambil kesempatan atau menyalahgunakan apa yang kita sudah manfaatkan.
“Dan keamanan adalah prasyarat utama daripada transformasi. Susah saya bayangkan kita menjadi orang yang dengan giat dan intensif menggunakan digital ekonomi, digital teknologi, kalau kita merasa tidak aman di situ. Jadi kita bisa menjadi korban, bisa kehilangan banyak hal, jadi ini bukan saja keamanan cyber, atau cyber safety, cyber security, bukan lagi pilihan tambahan, tapi dia melainkan sudah menjadi prasyarat utama,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Ilham juga menyoroti minimnya konten digital berbahasa Indonesia, yang hanya sekitar 1 persen dari total konten digital global. Dominasi bahasa Inggris menuntut masyarakat Indonesia untuk memiliki pemahaman dasar bahasa tersebut agar mampu berpartisipasi secara produktif di ruang digital global.
“Digital itu adalah instrumen strategis daya saing, kedaulatan, dan ketahanan ekonomi bangsa. Kita (Wantiknas) siap menjadi pemasuk, pengarah, penghubung, dan pengawal transformasi digital Indonesia,” pungkasnya.














