ItWorks.id- Kinerja investasi yang terus menguat menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi Kota Batam sepanjang 2025. Tanpa bergantung pada sektor minyak dan gas (migas), Batam mampu mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 6,76 persen secara tahunan (year-on-year), tertinggi di Provinsi Kepulauan Riau sekaligus melampaui rata-rata nasional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau pada 2025 berada di level 5,88 persen. Sedangkan pertumbuhan ekonomi nasional tercatat 5,11 persen. Capaian tersebut menegaskan posisi Batam sebagai motor penggerak ekonomi kawasan barat Indonesia.
Di bawah kepemimpinan Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam Amsakar Achmad bersama Wakil Wali Kota Batam yang juga Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra, arah pembangunan ekonomi Batam semakin difokuskan pada penguatan industri dan peningkatan arus investasi.
Tercatat sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi Batam menunjukkan tren meningkat secara konsisten, dari 5,17 persen pada Triwulan I, 6,66 persen pada Triwulan II, 6,89 persen pada Triwulan III, hingga mencapai puncaknya 7,49 persen pada Triwulan IV. “Kinerja tersebut mencerminkan kuatnya peran industri dan investasi sebagai mesin utama pertumbuhan Batam.Batam tumbuh karena industri dan investasi. Ketika investasi meningkat 9,53 persen dan industri pengolahan menyumbang lebih dari 57 persen terhadap PDRB, itu menunjukkan mesin produksi Batam benar-benar bergerak,” ujar Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, dilansir Humas BP Batam dalam rilis pers, baru-baru ini.
Secara regional, Batam juga menempati posisi teratas dalam pertumbuhan ekonomi tanpa migas di Kepulauan Riau. Kabupaten Bintan mencatat pertumbuhan 6,43 persen, disusul Karimun 5,44 persen, Kota Tanjungpinang 3,31 persen, Kabupaten Lingga 3,53 persen, Kabupaten Kepulauan Anambas 2,87 persen, sementara Kabupaten Natuna mengalami kontraksi sebesar -1,61 persen.
Tak hanya mencatat pertumbuhan tertinggi, Batam juga menjadi kontributor terbesar perekonomian Kepulauan Riau dengan sumbangan mencapai 66,44 persen terhadap total ekonomi provinsi pada 2025.
Anggota/Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis, secara terpisah mengatakan capaian tersebut menunjukkan transformasi ekonomi Batam semakin bertumpu pada sektor industri produktif dan investasi.“Pertumbuhan ekonomi Batam sebesar 6,76 persen tanpa migas menunjukkan mesin ekonomi digerakkan sektor manufaktur, perdagangan, logistik, serta investasi yang terus meningkat. Ini menjadi bukti Batam berkembang sebagai pusat industri dan perdagangan internasional yang semakin kompetitif,” ujar Fary.
Menurutnya, indikator pertumbuhan tanpa migas memberikan gambaran lebih akurat mengenai kekuatan ekonomi daerah karena tidak dipengaruhi fluktuasi harga energi global.“Sektor migas sangat dipengaruhi harga energi dunia dan volume produksi. Dengan melihat pertumbuhan tanpa migas, terlihat jelas ekonomi Batam tumbuh karena kekuatan industri, perdagangan, dan investasi,” katanya.
Kinerja ekonomi Batam sepanjang 2025 didorong meningkatnya aktivitas industri pengolahan, konstruksi, perdagangan, transportasi, serta logistik. Struktur ekonomi yang berbasis manufaktur dan perdagangan internasional dinilai menjadi fondasi pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.
Fary menambahkan, posisi strategis Batam di jalur perdagangan internasional serta kedekatannya dengan Singapura dan Malaysia menjadi keunggulan kompetitif dalam menarik investor global. Pengembangan kawasan industri, dukungan infrastruktur, serta kemudahan investasi turut memperkuat daya saing daerah.“Dengan konektivitas logistik internasional dan ekosistem industri yang kuat, Batam semakin memperkokoh perannya sebagai hub investasi dan industri berdaya saing global,” ujarnya.
Capaian pertumbuhan ekonomi tanpa migas tertinggi di Kepulauan Riau tersebut menjadi sinyal kuat bahwa Batam terus berkembang sebagai pusat aktivitas ekonomi modern sekaligus gerbang investasi internasional di wilayah barat Indonesia.














