ItWorks.id- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan pentingnya penguatan kapasitas sumber daya manusia serta kolaborasi internasional dalam mendukung sistem pangan berkelanjutan dan transformasi industri peternakan global.
Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi BRIN, Edy Giri Rachman Putra, saat membuka International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation: Collaborative Solution for Global Nutrition, Resilience and Economic Growth di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, pada (25/3) lalu. “Pertemuan ini merupakan bagian dari upaya strategis untuk memperkuat fondasi ilmiah sistem peternakan berkelanjutan dalam menjawab tantangan ketahanan pangan, perubahan iklim, dan pembangunan ekonomi inklusif,” ujarnya dilansir Humas BRIN melalui portal web resmi, baru-baru ini.
Pertemuan yang berlangsung pada 25–31 Maret 2026 ini merupakan kerja sama BRIN dengan Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) untuk memperkuat kolaborasi ilmiah dan kebijakan dalam mendorong transformasi industri peternakan berkelanjutan serta ketahanan pangan global.
Edy menegaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat fondasi ilmiah sistem peternakan berkelanjutan guna menjawab tantangan ketahanan pangan, perubahan iklim, dan pembangunan ekonomi inklusif. Menurutnya, transformasi sumber daya manusia—mulai dari ilmuwan, pembuat kebijakan hingga praktisi—menjadi faktor kunci keberhasilan agenda tersebut.
Ia juga menekankan pentingnya integritas ilmiah melalui metodologi yang terharmonisasi serta keterhubungan antara sains dan kebijakan sebagai investasi jangka panjang dalam transformasi berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Nugroho Adi Sasongko, menyebut pertemuan ini memperkuat pendekatan ilmiah terstandar, termasuk pada lifecycle assessment, inventarisasi gas rumah kaca, dan pengembangan sistem industri peternakan berkelanjutan. Kolaborasi BRIN dan FAO dinilai mampu menjembatani sains, kebijakan, dan implementasi yang lebih praktis dan inklusif.
Dari pihak FAO, Livestock Policy Officer Dominik Wisser menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan mencakup pertemuan Technical Advisory Group untuk inventarisasi nasional serta pelatihan Global Livestock Environmental Assessment Model, termasuk pengembangan pedoman LEAP terkait ekonomi sirkular.
FAO Representative untuk Indonesia dan Timor Leste, Rajendra Aryal, menegaskan sektor peternakan memiliki peran strategis dalam ketahanan pangan, pemenuhan gizi, dan pembangunan ekonomi global, meski menghadapi tekanan besar akibat perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan meningkatnya permintaan pangan bergizi. Ia menekankan pentingnya pendekatan berbasis bukti dan kolaborasi lintas sektor agar pengetahuan ilmiah dapat diterjemahkan menjadi kebijakan dan tindakan nyata.
Melalui forum ini, BRIN memperkuat perannya sebagai penggerak ekosistem riset dan inovasi sekaligus mendorong pemanfaatan hasil riset yang lebih terintegrasi dalam kebijakan dan implementasi sektor peternakan berkelanjutan.














