ItWorks.id- Laporan Ericsson ConsumerLab 2026 mengungkap meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah pola konsumsi data seluler, terutama pada kebutuhan uplink dan interaksi real-time. Perubahan ini menegaskan pentingnya jaringan dengan performa konsisten guna mendukung pengalaman digital yang optimal.
Laporan tersebut mencatat pergeseran perilaku pengguna dari sekadar konsumsi konten pasif menuju kreasi konten interaktif berbasis AI. Akibatnya, kebutuhan pengiriman data dari perangkat ke jaringan (uplink) meningkat signifikan, sementara kecepatan respons AI menjadi faktor utama yang memengaruhi kepuasan pelanggan terhadap kualitas jaringan.
Head of Government & Industry Relations Ericsson Indonesia, Ronni Nurmal, menyatakan bahwa perkembangan AI di berbagai perangkat menuntut operator menghadirkan jaringan yang lebih adaptif dan stabil. Menurutnya, teknologi 5G dan arsitektur jaringan masa depan menjadi kunci untuk mengakomodasi pertumbuhan data serta kebutuhan AI yang terus berkembang.
“Secara global, pelanggan 5G diperkirakan mencapai 2,9 miliar pada akhir 2025 dan meningkat menjadi 6,4 miliar pada 2031, dengan lebih dari separuh trafik data seluler akan berjalan di jaringan 5G. Di Indonesia sendiri, pemerintah menargetkan cakupan 5G mencapai 32 persen pada 2030,” ungkap Ronni Nurmal dalam rilis pers (02/04/2026), di Jakarta.
Ericsson Mobility Report juga mencatat konsumsi data global mencapai rata-rata 21 GB per smartphone per bulan pada 2025 dan diproyeksikan terus meningkat seiring berkembangnya layanan video dan aplikasi berbasis AI. Di kawasan Asia Tenggara dan Oseania, konsumsi data diperkirakan mencapai 42 GB per bulan pada 2031.
Laporan tersebut menegaskan bahwa kualitas jaringan kini tidak hanya diukur dari kecepatan unduh, tetapi juga performa uplink dan pengalaman aplikasi real-time seperti video call. Integrasi konsep AI for networks dan networks for AI dinilai akan menjadi kunci menghadirkan layanan digital yang lebih efisien dan personal.
Ke depan, penggunaan AI di Indonesia diprediksi semakin masif, dengan tingkat adopsi harian diperkirakan meningkat menjadi 41 persen pada 2030. Jaringan 5G pun dipandang sebagai infrastruktur strategis untuk menopang pertumbuhan ekonomi digital sekaligus menjadi fondasi menuju era 6G.














