ItWorks.id- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai memanfaatkan analisis data teks dan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung pengukuran indikator inovasi nasional yang lebih komprehensif dan adaptif.
Analis Data Ilmiah Ahli Pertama BRIN, Shiddiq Sugiono, mengatakan selama ini pengukuran indikator inovasi masih didominasi pendekatan analisis deskriptif konvensional. Padahal, perkembangan teknologi digital membuka peluang pemanfaatan data teks dalam jumlah besar untuk membaca perkembangan inovasi di Indonesia.
“Data teks seperti kebijakan, berita, media sosial, hingga publikasi ilmiah dapat dimanfaatkan untuk melihat perkembangan inovasi di Indonesia,” ujar Shiddiq dalam Indonesia-Australia Science Management & Innovation Symposium di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, (12/5/2026) yang dirilis Humas BRIN, baru-baru ini.
Dalam forum tersebut, Shiddiq memaparkan pengalamannya mengikuti program internship di CSIRO Data61, Sydney, Australia, pada Oktober-November 2025. Melalui program itu, ia mengembangkan kerangka analisis data teks menggunakan metode dynamic topic modeling berbasis natural language processing (NLP) untuk mengidentifikasi perkembangan topik riset secara dinamis.
Ia juga berhasil mengembangkan prototipe dashboard pemetaan topik penelitian berbasis data Scopus yang digunakan untuk memvisualisasikan tren penelitian dan mendukung analisis perkembangan isu riset di berbagai bidang. Metode tersebut kemudian diterapkan pada agenda riset sosial dan resiliensi masyarakat di BRIN. Hasil analisis menunjukkan isu resiliensi masyarakat berkembang dalam penelitian akademik, khususnya terkait urbanisasi, tekanan ekonomi, hingga mitigasi penyakit.
Selain itu, metode serupa diterapkan untuk mengkaji resiliensi sosial di bidang pendidikan guna melihat tren isu dalam publikasi ilmiah.
Meski demikian, Shiddiq mengakui penerapan AI dan machine learning dalam statistik resmi pemerintah masih menghadapi tantangan, terutama terkait konsistensi dan replikasi hasil analisis. “Ketika menggunakan AI dalam statistik resmi, tantangannya adalah memastikan hasil yang diperoleh tetap konsisten dan dapat direplikasi,” jelasnya.
Simposium Indonesia-Australia tersebut menjadi ajang pertukaran pengetahuan dalam penguatan manajemen sains dan inovasi, sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi berbasis data guna mendukung kebijakan riset nasional.














