Teknologi artificial intelligence (AI) yang terus berkembang membuat semakin banyak pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan kemampuan manusia kini dapat dilakukan dengan bantuan mesin. Mulai dari menulis, menganalisis data, merangkum informasi, membuat kode, menerjemahkan bahasa, hingga menghasilkan berbagai alternatif solusi.
Namun, kemajuan tersebut justru membuat kemampuan manusia menjadi semakin penting. Ketika kemampuan eksekusi semakin mudah dan murah diperoleh melalui teknologi, nilai manusia bergeser pada kemampuan yang lebih sulit untuk dikomoditaskan, seperti menentukan masalah, mengambil keputusan, memahami konteks, membangun kepercayaan, serta menentukan hal yang benar-benar penting.
Strategic Advisor & Managing Partner FIP Advisory Firm | PT Ferali Investa Primatama, Feby M. Faisal, mengatakan perkembangan AI perlu dilihat bukan hanya dari sisi kemampuan teknologi, tetapi juga dari bagaimana manusia memanfaatkan teknologi tersebut untuk meningkatkan kapasitasnya.
“Semakin banyak pekerjaan yang dapat dilakukan mesin, semakin penting pertanyaan tentang apa yang seharusnya dilakukan manusia,” ujar Feby.
Menurutnya, perubahan terbesar di era AI bukan semata-mata semakin mudahnya memperoleh jawaban, melainkan munculnya kelimpahan pilihan yang dihasilkan oleh teknologi.
“AI dapat menghasilkan puluhan bahkan ratusan pilihan. Tantangannya kemudian adalah memilih. Seorang pemimpin tetap harus menentukan opsi yang sesuai dengan posisi perusahaan, risiko, budaya, waktu, dan prinsip organisasi,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, nilai manusia secara bertahap bergeser dari sekadar menghasilkan berbagai kemungkinan menuju kemampuan memilih kemungkinan yang paling relevan.
Kemampuan Merumuskan Masalah Semakin Penting
Di tengah kemudahan memperoleh solusi dari AI, kemampuan merumuskan masalah atau problem framing menjadi salah satu kompetensi yang semakin penting.
Feby menjelaskan, solusi yang sangat efisien tetap dapat menghasilkan keputusan yang keliru apabila masalah yang hendak diselesaikan sejak awal didefinisikan secara tidak tepat.
“Problem framing menjadi semakin penting. Solusi yang sangat efisien tetap dapat salah arah jika masalahnya didefinisikan secara keliru,” ujarnya.
Kemampuan memahami akar persoalan, melihat trade-off, serta merumuskan pertanyaan yang tepat akan menjadi bagian penting dari human capability.
“Future advantage mungkin bukan hanya knowing more, tetapi knowing what to ask,” kata Feby.
Menurutnya, kemampuan tersebut menjadi semakin relevan karena AI dapat membantu memperluas informasi yang tersedia, tetapi tidak otomatis menentukan pertanyaan strategis yang harus dijawab oleh sebuah organisasi.
Judgment dan Creativity Tetap Menjadi Kekuatan Manusia
Pengambilan keputusan di dunia nyata juga tidak selalu dapat dilakukan berdasarkan informasi yang lengkap. Dalam banyak situasi, pemimpin harus mengambil keputusan dengan mempertimbangkan risiko, keterbatasan data, waktu, kepentingan berbagai pihak, hingga konsekuensi jangka panjang.
Dalam kondisi tersebut, judgment menjadi semakin penting.
“AI dapat memperluas basis informasi, tetapi manusia tetap harus mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas konsekuensinya,” jelas Feby.
Hal yang sama berlaku pada kreativitas. Ketika AI mampu menghasilkan berbagai ide dalam waktu singkat, manusia justru membutuhkan kemampuan untuk menentukan ide mana yang memiliki relevansi dan makna.
Menurut Feby, kemampuan tersebut berkaitan dengan taste, pemahaman terhadap konteks, budaya, emosi, serta kemampuan membedakan sesuatu yang sekadar baru dengan sesuatu yang benar-benar bernilai.
AI Mengubah Peran Pemimpin
Perkembangan AI juga membawa perubahan terhadap konsep kepemimpinan. Ketika informasi dan analisis semakin mudah diperoleh, seorang pemimpin tidak lagi semata-mata dinilai dari seberapa banyak informasi yang dikuasainya.
Peran pemimpin bergeser ke kemampuan menentukan arah organisasi.
“Ketika informasi dan analisis semakin mudah diakses, pemimpin tidak lagi terutama bernilai karena menjadi orang yang paling tahu. Nilainya bergeser menjadi orang yang mampu menentukan arah,” kata Feby.
Menurutnya, pemimpin harus mampu menentukan apa yang perlu dikejar, apa yang tidak perlu dilakukan, risiko apa yang dapat diterima, serta prinsip apa yang tidak boleh dikompromikan.
“Leadership bergerak dari information advantage menuju direction advantage,” ujarnya.
Strategi Karier di Tengah Perubahan Teknologi
Perubahan akibat AI juga berdampak pada strategi pengembangan karier individu. Spesialisasi tetap memiliki peran penting, tetapi kemampuan menghubungkan beberapa bidang keahlian dinilai semakin relevan.
Feby mencontohkan kombinasi antara teknologi dan bisnis, data dan domain expertise, keuangan dan strategi, maupun healthcare dan teknologi.
Konsep T-shaped capability menjadi relevan dalam konteks tersebut. Seseorang memiliki kedalaman kompetensi pada satu bidang, tetapi juga memiliki pemahaman yang cukup luas untuk menghubungkan bidang tersebut dengan disiplin lainnya.
“Spesialisasi tetap penting, tetapi kombinasi kemampuan menjadi semakin bernilai,” katanya.
Kemampuan lintas bidang tersebut dapat membantu individu memahami persoalan secara lebih utuh sekaligus berkomunikasi dengan berbagai fungsi dalam organisasi.
Perusahaan Perlu Mendesain Ulang Pekerjaan
Bagi perusahaan, dampak AI juga tidak berhenti pada keputusan untuk membeli atau menggunakan software baru. Teknologi perlu diikuti dengan perubahan cara kerja dan desain pekerjaan.
Jika AI mengambil alih sebagian tugas yang bersifat rutin, waktu dan kapasitas manusia perlu dialihkan ke aktivitas yang memiliki nilai lebih tinggi.
“Jika AI mengambil sebagian tugas, waktu manusia harus dialihkan ke aktivitas bernilai lebih tinggi. Jika tidak, AI hanya menciptakan efficiency tanpa transformation,” ujar Feby.
Menurutnya, perusahaan juga tidak dapat mengandalkan teknologi sebagai satu-satunya sumber keunggulan. Pasalnya, perangkat dan teknologi AI yang sama dapat digunakan oleh banyak perusahaan.
Keunggulan yang lebih sulit ditiru dapat muncul dari kualitas sumber daya manusia, budaya organisasi, kualitas pengambilan keputusan, kepemimpinan, serta kemampuan menerjemahkan insight menjadi eksekusi.
“Human capability, budaya, kualitas keputusan, leadership, dan kemampuan mengubah insight menjadi execution dapat menjadi moat,” katanya.
Dari Automation Menuju Augmentation
Karena itu, menurut Feby, AI lebih produktif dipahami bukan hanya sebagai teknologi automation, tetapi juga sebagai teknologi augmentation yang memperkuat kemampuan manusia.
“Pertanyaannya bukan apa yang dapat dilakukan mesin tanpa manusia, melainkan apa yang dapat dilakukan manusia jika kemampuannya diperkuat oleh mesin,” ujarnya.
Perspektif tersebut menempatkan manusia dan AI bukan sebagai dua kekuatan yang harus saling menggantikan, melainkan sebagai kombinasi yang dapat menghasilkan kemampuan baru.
Pada akhirnya, perkembangan AI membawa pertanyaan yang lebih mendasar mengenai masa depan kemampuan manusia.
“Pertanyaan terbesar bukan seberapa pintar AI akan menjadi, tetapi seberapa mampu manusia menjadi ketika memiliki AI,” kata Feby.
Menurutnya, manusia tidak perlu menjadi mesin, sementara mesin juga tidak harus menjadi manusia. Yang perlu diperkuat justru kemampuan yang sulit direplikasi oleh teknologi, seperti judgment, curiosity, courage, empathy, imagination, dan responsibility.
“Ketika intelligence menjadi semakin murah, sesuatu yang jauh lebih langka akan muncul: wisdom to use it,” ujar Feby.
Ia menilai, kemampuan menggunakan kecerdasan secara tepat, bertanggung jawab, dan sesuai konteks pada akhirnya dapat menjadi salah satu pembeda utama manusia di tengah perkembangan AI.
“Mungkin, di situlah keunggulan manusia yang sesungguhnya di era AI,” pungkasnya.














