ItWorks
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
ItWorks
No Result
View All Result

Human Capability Semakin Penting di Era AI

Fauzi
23 September 2026 | 13:55
rubrik: Digital
Human Capability Semakin Penting di Era AI
Share on FacebookShare on Twitter

Teknologi artificial intelligence (AI) yang terus berkembang membuat semakin banyak pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan kemampuan manusia kini dapat dilakukan dengan bantuan mesin. Mulai dari menulis, menganalisis data, merangkum informasi, membuat kode, menerjemahkan bahasa, hingga menghasilkan berbagai alternatif solusi.

Namun, kemajuan tersebut justru membuat kemampuan manusia menjadi semakin penting. Ketika kemampuan eksekusi semakin mudah dan murah diperoleh melalui teknologi, nilai manusia bergeser pada kemampuan yang lebih sulit untuk dikomoditaskan, seperti menentukan masalah, mengambil keputusan, memahami konteks, membangun kepercayaan, serta menentukan hal yang benar-benar penting.

Strategic Advisor & Managing Partner FIP Advisory Firm | PT Ferali Investa Primatama, Feby M. Faisal, mengatakan perkembangan AI perlu dilihat bukan hanya dari sisi kemampuan teknologi, tetapi juga dari bagaimana manusia memanfaatkan teknologi tersebut untuk meningkatkan kapasitasnya.

“Semakin banyak pekerjaan yang dapat dilakukan mesin, semakin penting pertanyaan tentang apa yang seharusnya dilakukan manusia,” ujar Feby.

Menurutnya, perubahan terbesar di era AI bukan semata-mata semakin mudahnya memperoleh jawaban, melainkan munculnya kelimpahan pilihan yang dihasilkan oleh teknologi.

“AI dapat menghasilkan puluhan bahkan ratusan pilihan. Tantangannya kemudian adalah memilih. Seorang pemimpin tetap harus menentukan opsi yang sesuai dengan posisi perusahaan, risiko, budaya, waktu, dan prinsip organisasi,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, nilai manusia secara bertahap bergeser dari sekadar menghasilkan berbagai kemungkinan menuju kemampuan memilih kemungkinan yang paling relevan.

Kemampuan Merumuskan Masalah Semakin Penting
Di tengah kemudahan memperoleh solusi dari AI, kemampuan merumuskan masalah atau problem framing menjadi salah satu kompetensi yang semakin penting.

Feby menjelaskan, solusi yang sangat efisien tetap dapat menghasilkan keputusan yang keliru apabila masalah yang hendak diselesaikan sejak awal didefinisikan secara tidak tepat.

BACA JUGA:  Gandeng CYFIRMA & NEXTGEN Indonesia, ViBiCloud Siap Perkuat Keamanan Siber di Indonesia

“Problem framing menjadi semakin penting. Solusi yang sangat efisien tetap dapat salah arah jika masalahnya didefinisikan secara keliru,” ujarnya.

Kemampuan memahami akar persoalan, melihat trade-off, serta merumuskan pertanyaan yang tepat akan menjadi bagian penting dari human capability.

“Future advantage mungkin bukan hanya knowing more, tetapi knowing what to ask,” kata Feby.

Menurutnya, kemampuan tersebut menjadi semakin relevan karena AI dapat membantu memperluas informasi yang tersedia, tetapi tidak otomatis menentukan pertanyaan strategis yang harus dijawab oleh sebuah organisasi.

Judgment dan Creativity Tetap Menjadi Kekuatan Manusia
Pengambilan keputusan di dunia nyata juga tidak selalu dapat dilakukan berdasarkan informasi yang lengkap. Dalam banyak situasi, pemimpin harus mengambil keputusan dengan mempertimbangkan risiko, keterbatasan data, waktu, kepentingan berbagai pihak, hingga konsekuensi jangka panjang.

Dalam kondisi tersebut, judgment menjadi semakin penting.

“AI dapat memperluas basis informasi, tetapi manusia tetap harus mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas konsekuensinya,” jelas Feby.

Hal yang sama berlaku pada kreativitas. Ketika AI mampu menghasilkan berbagai ide dalam waktu singkat, manusia justru membutuhkan kemampuan untuk menentukan ide mana yang memiliki relevansi dan makna.

Menurut Feby, kemampuan tersebut berkaitan dengan taste, pemahaman terhadap konteks, budaya, emosi, serta kemampuan membedakan sesuatu yang sekadar baru dengan sesuatu yang benar-benar bernilai.

AI Mengubah Peran Pemimpin
Perkembangan AI juga membawa perubahan terhadap konsep kepemimpinan. Ketika informasi dan analisis semakin mudah diperoleh, seorang pemimpin tidak lagi semata-mata dinilai dari seberapa banyak informasi yang dikuasainya.

Peran pemimpin bergeser ke kemampuan menentukan arah organisasi.

“Ketika informasi dan analisis semakin mudah diakses, pemimpin tidak lagi terutama bernilai karena menjadi orang yang paling tahu. Nilainya bergeser menjadi orang yang mampu menentukan arah,” kata Feby.

BACA JUGA:  Wujudkan Tata Kelola AI, Pemerintah Siapkan Roadmap AI Ditarget Rampung dalam Tiga Bulan

Menurutnya, pemimpin harus mampu menentukan apa yang perlu dikejar, apa yang tidak perlu dilakukan, risiko apa yang dapat diterima, serta prinsip apa yang tidak boleh dikompromikan.

“Leadership bergerak dari information advantage menuju direction advantage,” ujarnya.

Strategi Karier di Tengah Perubahan Teknologi
Perubahan akibat AI juga berdampak pada strategi pengembangan karier individu. Spesialisasi tetap memiliki peran penting, tetapi kemampuan menghubungkan beberapa bidang keahlian dinilai semakin relevan.

Feby mencontohkan kombinasi antara teknologi dan bisnis, data dan domain expertise, keuangan dan strategi, maupun healthcare dan teknologi.

Konsep T-shaped capability menjadi relevan dalam konteks tersebut. Seseorang memiliki kedalaman kompetensi pada satu bidang, tetapi juga memiliki pemahaman yang cukup luas untuk menghubungkan bidang tersebut dengan disiplin lainnya.

“Spesialisasi tetap penting, tetapi kombinasi kemampuan menjadi semakin bernilai,” katanya.

Kemampuan lintas bidang tersebut dapat membantu individu memahami persoalan secara lebih utuh sekaligus berkomunikasi dengan berbagai fungsi dalam organisasi.

Perusahaan Perlu Mendesain Ulang Pekerjaan
Bagi perusahaan, dampak AI juga tidak berhenti pada keputusan untuk membeli atau menggunakan software baru. Teknologi perlu diikuti dengan perubahan cara kerja dan desain pekerjaan.

Jika AI mengambil alih sebagian tugas yang bersifat rutin, waktu dan kapasitas manusia perlu dialihkan ke aktivitas yang memiliki nilai lebih tinggi.

“Jika AI mengambil sebagian tugas, waktu manusia harus dialihkan ke aktivitas bernilai lebih tinggi. Jika tidak, AI hanya menciptakan efficiency tanpa transformation,” ujar Feby.

Menurutnya, perusahaan juga tidak dapat mengandalkan teknologi sebagai satu-satunya sumber keunggulan. Pasalnya, perangkat dan teknologi AI yang sama dapat digunakan oleh banyak perusahaan.

Keunggulan yang lebih sulit ditiru dapat muncul dari kualitas sumber daya manusia, budaya organisasi, kualitas pengambilan keputusan, kepemimpinan, serta kemampuan menerjemahkan insight menjadi eksekusi.

BACA JUGA:  Tembus Pasar Dunia, Gim Buatan Anak Bangsa Digemari Jutaan Pemain Internasional

“Human capability, budaya, kualitas keputusan, leadership, dan kemampuan mengubah insight menjadi execution dapat menjadi moat,” katanya.

Dari Automation Menuju Augmentation
Karena itu, menurut Feby, AI lebih produktif dipahami bukan hanya sebagai teknologi automation, tetapi juga sebagai teknologi augmentation yang memperkuat kemampuan manusia.

“Pertanyaannya bukan apa yang dapat dilakukan mesin tanpa manusia, melainkan apa yang dapat dilakukan manusia jika kemampuannya diperkuat oleh mesin,” ujarnya.

Perspektif tersebut menempatkan manusia dan AI bukan sebagai dua kekuatan yang harus saling menggantikan, melainkan sebagai kombinasi yang dapat menghasilkan kemampuan baru.

Pada akhirnya, perkembangan AI membawa pertanyaan yang lebih mendasar mengenai masa depan kemampuan manusia.

“Pertanyaan terbesar bukan seberapa pintar AI akan menjadi, tetapi seberapa mampu manusia menjadi ketika memiliki AI,” kata Feby.

Menurutnya, manusia tidak perlu menjadi mesin, sementara mesin juga tidak harus menjadi manusia. Yang perlu diperkuat justru kemampuan yang sulit direplikasi oleh teknologi, seperti judgment, curiosity, courage, empathy, imagination, dan responsibility.

“Ketika intelligence menjadi semakin murah, sesuatu yang jauh lebih langka akan muncul: wisdom to use it,” ujar Feby.

Ia menilai, kemampuan menggunakan kecerdasan secara tepat, bertanggung jawab, dan sesuai konteks pada akhirnya dapat menjadi salah satu pembeda utama manusia di tengah perkembangan AI.

“Mungkin, di situlah keunggulan manusia yang sesungguhnya di era AI,” pungkasnya.

Tags: Agentic AIAIGenerative AIHuman CapibilityHuman Capital
Previous Post

Huawei Cloud Luncurkan Produk AI Enterprise untuk Semua Segmen

Next Post

Haier Resmi Menjadi Mitra Global UEFA Champions League Musim 2027–2031

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP DIGITAL AWARDS

TOP Digital Awards 2026: Bank Tulungagung Perkuat Digital Banking, Kembangkan Tulungagung Apps untuk Perluas Layanan Nasabah

TOP Digital Awards 2026: Bank Tulungagung Perkuat Digital Banking, Kembangkan Tulungagung Apps untuk Perluas Layanan Nasabah

Albarsah
15 October 2026 | 08:00

TOP Digital Awards 2026: Kembangkan Frontera, Kata.ai Bantu Organisasi Adopsi AI Lebih Cepat, Aman, dan Terukur

TOP Digital Awards 2026: Kembangkan Frontera, Kata.ai Bantu Organisasi Adopsi AI Lebih Cepat, Aman, dan Terukur

Fauzi
14 October 2026 | 21:20

TOP Digital Awards 2026: RS Universitas Hasanuddin Perkuat Transformasi Digital, Hadirkan Layanan Kesehatan Terintegrasi

TOP Digital Awards 2026: RS Universitas Hasanuddin Perkuat Transformasi Digital, Hadirkan Layanan Kesehatan Terintegrasi

Mi’roji
14 October 2026 | 15:30

TOP Digital Awards 2026: Dari Portal Mandiri Hingga AI-IX, Inovasi Digital DE-CIX Indonesia Melesat

TOP Digital Awards 2026: Dari Portal Mandiri Hingga AI-IX, Inovasi Digital DE-CIX Indonesia Melesat

Busthomi
14 October 2026 | 11:29

TOP Digital Awards 2026: Concentrix Perkuat Digital Trust melalui Tata Kelola AI dan Keamanan Siber

TOP Digital Awards 2026: Concentrix Perkuat Digital Trust melalui Tata Kelola AI dan Keamanan Siber

Agus Haryanto
8 October 2026 | 08:34

Load More

TERPOPULER

  • Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • NVIDIA RTX AI PC Day Back to School Campaign Sambangi UPH Lippo Karawaci

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • TOP Digital Awards 2026: RS Universitas Hasanuddin Perkuat Transformasi Digital, Hadirkan Layanan Kesehatan Terintegrasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • TOP Digital Awards 2026: Bank Tulungagung Perkuat Digital Banking, Kembangkan Tulungagung Apps untuk Perluas Layanan Nasabah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Laporan Cisco: Lebih dari 50% Serangan Siber di Indonesia Manfaatkan Teknologi AI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
iklan bni

ICT PROFILE

Google Cloud Tunjuk Karim Siregar Jadi Country Director untuk Indonesia

Google Cloud Tunjuk Karim Siregar Jadi Country Director untuk Indonesia

Fauzi
23 June 2026 | 14:43

Google Cloud menunjuk Karim Siregar sebagai Country Director untuk Indonesia. Karim akan memimpin operasional dan strategi pasar Google Cloud di...

Transformasi Digital Kian Gencar, Akamai Luncurkan Akamai Connected Cloud dan Layanan Baru

Tunjuk Fiona Zhang, Akamai Perkuat Strategi Channel-First Kawasan APJ

Fauzi
8 April 2026 | 16:26

Akamai menunjuk Fiona Zhang sebagai Wakil Presiden Regional Bidang Penjualan dan Program Saluran untuk kawasan Asia-Pasifik dan Jepang. Penunjukan Fiona...

EXPERT

Survei: 80% Perusahaan Nyatakan AI Masih Terhambat oleh Tantangan Akses Data

Agen AI Menguji Asumsi Keamanan Perusahaan

Fauzi
2 October 2026 | 15:36

Oleh: Carolyn Duby, Field CTO dan Cybersecurity Lead, Cloudera ItWorks.id - Pembahasan keamanan siber seputar AI sering kali berpusat pada...

Adopsi AI Makin Tinggi, Keamanan Siber Harus Diperkuat

Adopsi AI Makin Tinggi, Keamanan Siber Harus Diperkuat

Ahmad Churi
24 September 2026 | 16:30

Oleh: Sheila S. Fauzi Regional Marketing Manager, Concentrix. Dewasa ini perkembangan penggunaan atau adopsi teknologi kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia...

TIK TALKS

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

redaksi
16 August 2022 | 15:30

Di masa akan datang banyak aplikasi yang akan membutuhkan low latency connectivity. Lalu apa kaitannya dengan Edge DC yang hadir...

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

redaksi
15 August 2022 | 12:30

Bagaimana cara mengolah Big Data sehingga dapat divisualisasikan, serta bagaimana dapat melakukan analitik dan dapat memprediksikan apa yang harus dilakukan...

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Itworks - Inspire Great & Telco for Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto