ItWorks.id-Bethsaida Healthcare memperkuat transformasi digital melalui pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, keselamatan pasien, dan efisiensi operasional rumah sakit. Implementasi teknologi tersebut mulai memberikan dampak nyata, salah satunya memangkas waktu tunggu pasien rawat inap yang akan pulang dari sebelumnya 4–6 jam menjadi 2–4 jam.
Chief Technology Officer Bethsaida Healthcare, Hasan Widjaja, mengatakan pemanfaatan teknologi digital dan AI menjadi bagian strategis perusahaan dalam membangun ekosistem pelayanan kesehatan yang lebih terintegrasi, cepat, dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
Hal tersebut disampaikan Hasan dalam presentasi penjurian TOP Digital Awards 2026 yang dilakukan secara daring, Kamis (5/11/2026). Dalam kesempatan tersebut, turut hadir Hospital Director Bethsaida Healthcare, Dr. Tirta Mulya Juandi. Selain itu ada Willy (IT Security Manager), Oka Mahardikan (IT Manager), Herman (Corporate IT Officer), Wawan Sattiawan (Marketing & Business Development).
Menurut Hasan, transformasi digital Bethsaida Healthcare tidak hanya berfokus pada digitalisasi administrasi, tetapi juga mencakup proses klinis, integrasi peralatan medis, pengelolaan data, hingga pengambilan keputusan manajemen.
Salah satu hasil implementasi digitalisasi terlihat pada perbaikan proses kepulangan pasien rawat inap di Bethsaida Hospital Serang. Sebelumnya, pasien membutuhkan waktu sekitar 4–6 jam untuk menyelesaikan seluruh proses administrasi dan pelayanan sebelum meninggalkan rumah sakit.
Kondisi tersebut berdampak pada lambatnya perputaran penggunaan kamar, khususnya kamar VIP, serta meningkatnya keluhan pasien. Untuk mengatasi persoalan itu, Bethsaida menerapkan fitur alert dan pemantauan secara langsung terhadap status pasien yang akan pulang.
Melalui sistem tersebut, setiap bagian terkait dapat memantau perkembangan proses kepulangan pasien secara real time. Hasilnya, waktu tunggu berhasil ditekan menjadi sekitar 2–4 jam.
Perbaikan proses tersebut turut mempercepat ketersediaan kamar bagi pasien berikutnya, meningkatkan pemanfaatan kamar VIP, dan mendorong pertumbuhan pendapatan. Dari sisi pengalaman pelanggan, tingkat kepuasan pasien juga meningkat dari sekitar 81 menjadi 96.”Transformasi digital yang kami lakukan harus memberikan dampak nyata, baik dari sisi klinis, operasional, pengalaman pasien, maupun kinerja bisnis,” ujar Hasan.
Selain efisiensi operasional, Bethsaida Healthcare mengembangkan berbagai inovasi berbasis AI untuk membantu tenaga medis memberikan pelayanan yang lebih cepat dan akurat.
Salah satunya melalui integrasi alat pemantau pasien di ruang Intensive Care Unit (ICU) dengan Hospital Information System (HIS). Dengan integrasi tersebut, dokter dapat memantau kondisi pasien tanpa harus selalu datang langsung ke ruang ICU.“Informasi kondisi pasien bahkan dapat diakses melalui perangkat mobile sehingga dokter bisa lebih cepat mengambil tindakan medis apabila diperlukan,” ujar Hasan.
Integrasi juga dilakukan pada perangkat pemeriksaan tanda-tanda vital pasien. Data hasil pemeriksaan secara otomatis masuk ke sistem informasi rumah sakit sehingga mengurangi pencatatan manual sekaligus meminimalkan potensi kesalahan input.
Bethsaida juga menerapkan teknologi AI pada kamera pengawas atau CCTV di layanan hiperbarik. Teknologi tersebut dapat membedakan pasien dan petugas, sekaligus menghitung jumlah pasien yang masuk ke dalam ruang atau fasilitas hiperbarik. Sistem ini membantu memastikan kesesuaian antara jumlah pasien yang terdaftar dan pasien yang menjalani pelayanan.
Inovasi lainnya adalah AI Assistant untuk pencarian rekam medis elektronik (Electronic Medical Record/EMR). Melalui fitur ini, dokter dapat mencari informasi riwayat pemeriksaan pasien menggunakan perintah atau pertanyaan sederhana.
Sebagai contoh, dokter dapat mengetikkan pertanyaan mengenai waktu pemeriksaan laboratorium terakhir dan jenis pemeriksaan yang telah dilakukan. Sistem kemudian menampilkan informasi yang dibutuhkan tanpa dokter harus membuka setiap menu rekam medis secara manual.
Bethsaida juga tengah mengembangkan teknologi AI berbasis speech-to-text yang dapat mengubah percakapan antara dokter dan pasien menjadi dokumentasi medis dengan format SOAP atau Subjective, Objective, Assessment, dan Plan.
Hasil konversi tersebut tetap harus diperiksa dan dikonfirmasi oleh dokter sebelum disimpan ke dalam sistem. Dokter juga dapat melakukan koreksi atau penambahan informasi apabila diperlukan. Dengan demikian, AI berfungsi membantu proses dokumentasi, sementara keputusan dan validasi medis tetap berada di tangan dokter.
Pemanfaatan AI juga diterapkan pada peralatan radiologi, termasuk Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan CT Scan, untuk membantu meningkatkan kualitas hasil pemeriksaan, ketajaman gambar, serta presisi analisis.
Perlindungan Data Medis
Dalam penerapan AI, kata Hasan, Bethsaida Healthcare memilih pendekatan on-premise AI inference dengan memproses data melalui server internal rumah sakit, bukan menggunakan layanan cloud eksternal.
Hasan menjelaskan, keputusan tersebut diambil karena rekam medis dan informasi kesehatan pasien merupakan data yang bersifat rahasia sehingga harus dilindungi secara ketat.
Dengan infrastruktur AI yang ditempatkan di lingkungan internal, data medis dapat tetap berada di dalam sistem rumah sakit. Pendekatan ini juga memungkinkan AI mengacu pada data rekam medis yang tersedia sehingga hasil informasi yang diberikan lebih relevan dan mengurangi risiko munculnya jawaban yang tidak sesuai atau halusinasi AI.
Dari sisi keamanan siber, Bethsaida menerapkan sistem perlindungan berlapis, mulai dari firewall, endpoint protection, multi-factor authentication (MFA), perlindungan email dari spam, hingga web application security.
Perusahaan juga menggunakan teknologi AI untuk mendukung perlindungan database dan mendeteksi aktivitas jaringan yang tidak normal. Sistem tersebut mampu mempelajari pola aktivitas jaringan dan melakukan investigasi terhadap potensi ancaman secara otomatis.
Menurut Hasan, penerapan teknologi tersebut berhasil mengurangi beban kerja manual tim Security Operations Center (SOC) hingga 90%. Dengan otomatisasi investigasi dan respons terhadap ancaman tertentu, tim keamanan dapat lebih fokus menangani insiden yang membutuhkan analisis lebih mendalam.
Pengawasan keamanan dilakukan selama 24 jam setiap hari melalui tim yang bekerja secara bergiliran. Bethsaida juga menjalankan penetration testing secara internal setiap enam bulan dan pengujian eksternal satu kali dalam setahun dengan melibatkan vendor bersertifikasi.
Untuk memastikan keberlangsungan operasional, perusahaan menyiapkan sistem Business Continuity and Disaster Recovery (BCDR) dengan tiga lapisan pencadangan. Apabila server utama mengalami gangguan, sistem dapat dialihkan ke infrastruktur cadangan yang dapat diaktifkan dalam waktu sekitar 15 menit.
Sementara itu, pemulihan server utama dilakukan melalui proses restore dari cadangan data yang dilindungi, termasuk immutable backup.
Menuju Smart Hospital
Menurut Hasan, transformasi digital Bethsaida Healthcare dijalankan melalui roadmap lima tahun, yakni periode 2024–2028. Roadmap tersebut mencakup lima fokus utama, yaitu penguatan infrastruktur, pengembangan aplikasi, kemudahan akses melalui berbagai kanal, penerapan AI dan Internet of Things (IoT), serta integrasi dan pemanfaatan data.
Pada tahap awal, perusahaan memperkuat infrastruktur teknologi informasi dan mengembangkan aplikasi yang terintegrasi. Selanjutnya, akses layanan diperluas melalui platform mobile dan berbagai kanal digital.
Memasuki 2026, Bethsaida mulai memperkuat implementasi konsep smart hospital dengan mengintegrasikan AI dan IoT untuk mendukung keselamatan pasien, meningkatkan pengalaman pelayanan, serta menghasilkan analisis data yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan.
Sebelum 2024, sebagian besar proses rumah sakit masih menggunakan dokumen kertas dan sistem informasi berbasis desktop yang lebih banyak berfungsi untuk kebutuhan administrasi. Pada 2024, perusahaan mulai menerapkan EMR dan dokumentasi digital.
Selanjutnya, pada 2025, pengembangan diarahkan pada konsep digital hospital melalui peningkatan kemampuan EMR, integrasi peralatan medis, serta peralihan aplikasi ke sistem berbasis web dan mobile.
Pada 2026, pengembangan diarahkan menuju smart hospital dengan memperluas penerapan AI, IoT, dan analitik data. Inovasi digital juga menjangkau proses internal perusahaan. Bethsaida telah mengembangkan employee portal yang dilengkapi AI Assistant untuk membantu karyawan mencari informasi, termasuk ketentuan perusahaan dan data masa berlaku lisensi.
Perusahaan juga menyediakan dokter portal berbasis aplikasi mobile untuk membantu dokter memantau jadwal praktik, janji temu pasien, jumlah pasien yang dirawat, transaksi pasien, hingga jadwal operasi.
Sementara itu, kata Hasan, manajemen dashboard yang dilengkapi AI Search memungkinkan manajemen memantau kinerja seluruh unit usaha, mulai dari dua rumah sakit, klinik, Serap Medical Center, hingga apotek. Manajemen dapat mencari informasi tertentu melalui pertanyaan sederhana untuk memperoleh data pendapatan, jumlah pasien, maupun kinerja dokter.
Dashboard tersebut juga digunakan untuk memantau kondisi pelayanan di instalasi gawat darurat (IGD), termasuk jumlah pasien, lama penanganan, serta pencapaian standar waktu pelayanan atau service level.“Apabila terdapat penanganan yang melampaui standar waktu, sistem dapat memberikan peringatan sehingga manajemen dapat segera melakukan tindak lanjut,” ujar Hasan.
Perkuat Kematangan Digital
Dalam presentasinya, Hasan juga menyampaikan bahwa Bethsaida Hospital Serang telah memperoleh validasi Electronic Medical Record Adoption Model (EMRAM) Stage 6 dari HIMSS (Healthcare Information and Management Systems Society). Capaian tersebut menunjukkan tingkat kematangan penerapan rekam medis elektronik di rumah sakit.
Berdasarkan pengukuran IT Maturity Level yang dipaparkan, Bethsaida mencatat skor keseluruhan 81%, dengan skor data capture mencapai 94%.
Saat ini, Bethsaida Healthcare mengelola dua rumah sakit yang berlokasi di Gading Serpong, Tangerang, dan Serang, Banten. Ekosistem layanannya juga mencakup klinik, Serap Medical Center, serta apotek Rafa Signature.
Hasan menegaskan, penerapan AI bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, melainkan menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk mewujudkan layanan kesehatan yang lebih aman, cerdas, dan personal. Ke depan, menurut Hasan, Bethsaida berkomitmen memperluas penerapan dan integrasi AI di berbagai aspek ekosistem pelayanan kesehatan. Upaya tersebut diharapkan memberikan manfaat bagi pasien, tenaga kesehatan, dan masyarakat, sekaligus memperkuat daya saing perusahaan dalam industri layanan kesehatan. (Nurdian)














