Jakarta, Itech- Berbagai strategi dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam rangka percepatan hasil inovasi teknologi bahan baku obat dan obat herbal agar berdaya saing serta mampu mewujudkan kemandirian obat. Diantaranya melalui program hilirisasi riset pengembangan obat baru yang giat dijalankan BPPT . Selain itu, BPPT juga mendorong peningkatan penguasaan bahan baku obat dan alat kesehatan dalam negeri. Sebab, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang bisa dijadikan bahan baku obat herbal dan fitofarmaka.
Adapun strategi percepatan inovasi pengembangan obat perlu memperhatikan 4 kata kunci, diantaranya pertama, penguatan koordinasi dan komunikasi antar lembaga riset. Kedua, mendokumentasikan penelitian yang lengkap dan akurat ke lembaga BPOM. Ketiga, mendorong insentif fiskal dan non fiskal untuk mempercepat inovasi. Terakhir mempercepat hilirisasi hasil riset dengan bersinergi akademisi (lembaga), pemerintah (regulator) dan indutsri farmasi yang efektif.
Pastinya, perlu adanya upaya untuk mempercepat transformasi industri farmasi sehingga Indonesia dapat lebih mandiri dalam penyediaan bahan baku obat, mengingat sekitar 90% pasokan bahan baku untuk obat masih berasal dari luar negeri atau impor. “Indonesia memiliki keanekaragaman hayati bahkan dari sisi tanaman cukup banyak, kalau dieksplor lebih lanjut tentunya ini akan memperkuat struktur industri obat ,” demikian Imam Paryanto, Direktur Pusat Teknologi farmasi Medika BPPT dalam seminar bertajuk Inovasi Teknologi bahan baku obat dan obat herbal di Jakarta Convention Center, (4/4). Seminar yang digelar BPPT dalam Forum Nasional: Inovasi Teknologi Pangan.
Sementara itu, Kepala Balai Bioteknologi BPPT Agung Eru Wibowo menyampaikan paparannya tentang “Inovasi teknologi pengembangan bahan baku obat berbasis bioteknologi”. Menurutnya, potensi tumbuhan tropis yang besar belum banyak dimanfaatkan secara optimal dibandingkan dengan negara lain seperti China, yang lebih dikenal sebagai negara penghasil obat herbal terkemuka di dunia. Padahal, pemanfaatan tanaman obat sebagai obat herbal, dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat .
Dikesempatan yang sama, Muhammad Karyam, Direktur Industri Kimia Hulu, Kementerian Perindustrian menjelaskan tentang implementasi RIPIN dalam percepatan industri bahan baku obat. Dia menyatakan 90% dari kebutuhan bahan baku obat-obatan dibeli dari luar negeri. Angka ini menunjukkan betapa lemahnya industri bahan baku dan farmasi. Pemerintah dalam hal ini Kemenperin mulai menelaah kembali perkembangan industri bahan baku obat. Khayam menyatakan Indonesia setidaknya harus mampu memproduksi beberapa macam bahan baku obat. Kemenperin menilai pola pengembangan industri yang harus ditekuni ke depan ialah dengan mengombinasikan aspek herbal dan kimiawi.(red/ju)














