ItWorks
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
ItWorks
No Result
View All Result

Di masa awal Alibaba, Jack Ma tidak pernah merektur kandidat terbaik untuk sebuah pekerjaan

Teguh Imam Suyudi
26 July 2018 | 10:45
rubrik: ICT Profile
Kinerja Alibaba Group pada Kuartal I 2021

Jack Ma, pendiri perusahaan e-commerce Alibaba asal Cina, menjelaskan perusahaannya kepada Presiden Indonesia Joko Widodo di markas besar Alibaba Group di Distrik Yuhang, Hangzhou di Provinsi Zhejiang, Cina bagian timur, 2 September 2016 (Xinhua via AP).

Share on FacebookShare on Twitter

Selama masa booming dot-com, karyawan yang terampil di Cina terus-menerus melompat atau berpindah ke perusahaan pesaing, atau mencari sumber pembiayaan dari perusahaan penyedia dana ventura yang banyak jumlahnya, mencoba peruntungan mereka sendiri dengan membangun start-up. Biaya untuk membayar talenta berbakat mulai naik ke atas, termasuk untuk pengembang perangkat lunak, desainer web, dan manajer proyek sehingga Alibaba harus membuat penawaran yang bagus untuk merekrut mereka.

Alibaba memiliki dua hal penting untuk melakukan itu: Hangzhou dan Jack Ma. Tidak seperti di Beijing dan Shanghai, di mana pergantian karyawan yang berkualitas merupakan masalah besar bagi para pengusaha, di kota Hangzhou, yang menjadi markas Alibaba, terdapat banyak lulusan baru dan sangat sedikit pengusaha lokal.

Selain itu, Alibaba diuntungkan dari lokasi Hangzhou yang relatif terisolasi. Sehingga tidak ada saingan untuk memburu karyawan. Beberapa perusahaan teknologi lainnya berlokasi di kota, seperti UTStarcom atau Eastcom, tetapi dalam usaha dot-com, mereka dengan cepat menjadi “ekonomi lama”.

Alibaba juga mendapat keuntungan dari jarak Hangzhou dengan Shanghai — yang butuh sekitar dua jam. Untuk insinyur muda berbakat di Hangzhou yang ingin bekerja di bidang usaha Internet yang sedang berkembang pesat, Alibaba adalah tempat yang tepat. Ini membantu menjaga biaya tetap rendah juga.

Dengan harga untuk membayar satu insinyur di Beijing atau Shanghai, Alibaba bisa merekrut dua. Perbandingan dengan Silicon Valley di Amerika Serikat bahkan lebih dramatis, seperti yang ditunjukkan Jack: “Untuk membuat satu programmer gembira di Silicon Valley membutuhkan US$ 50.000 hingga US$ 100.000. Dengan uang sebanyak itu di Cina, saya bisa membuat sepuluh orang yang sangat pintar bahagia sepanjang waktu. ”

BACA JUGA:  Siapakah Raja Pasar Speaker Pintar Sekarang?

Sebagai kota lapis kedua, real estat juga lebih murah di Hangzhou. Bahkan setelah Alibaba pindah ke kantor seluas 200.000 kaki persegi pada awal tahun 2000, total tagihan sewa hanya $ 80.000 setahun, hanya sebagian kecil dari apa yang akan terjadi di Beijing atau Shanghai. Jack menyukai jarak dari Beijing: “Meskipun infrastrukturnya tidak sebaik di Shanghai, lebih baik berada sejauh mungkin dari pemerintah pusat.”

https://www.itech.id/wp-content/uploads/2018/07/Alibaba-Jack-Ma.jpg
Founder Alibaba, Jack Ma (new york post)

Jangan merekrut lulusan terbaik

Ketika membangun timnya, Jack lebih suka mempekerjakan orang yang memiliki peringkat satu atau dua tingkat di bawah para lulusan top di sekolah mereka. Lulusan terbaik perguruan tinggi akan mudah frustrasi ketika mereka menghadapi kesulitan di dunia nyata kata Jack. Bagi mereka yang bergabung, bekerja untuk Alibaba bukanlah piknik.

Bayaran yang mereka terima rendah: Para karyawan Alibaba yang paling awal direkrut mendapat penghasilan sekitar US$ 50 per bulan. Mereka bekerja tujuh hari seminggu, sering enam belas jam sehari. Jack bahkan mengharuskan mereka untuk mencari tempat tinggal yang waktu tempuhnya tidak lebih dari sepuluh menit dari kantor sehingga mereka tidak akan membuang waktu berharga untuk pulang-pergi.

Sejak awal, Alibaba telah didorong oleh etika kerja ala Silicon Valley, dengan setiap karyawan mendapat opsi saham perusahaan, yang membutuhkan waktu lebih dari empat tahun untuk dapat dijual. Hal ini masih jarang di Cina, di mana pengaturan tradisional di perusahaan swasta adalah bos seperti kaisar yang memperlakukan karyawan sebagai barang yang mudah diganti dan gaji sebagai diberikan berdasarkan pertimbangan sang bos.

Karena situs Alibaba.com semakin populer – yang dibantu dengan program menawarkan layanannya secara gratis – maka tim di Hangzhou harus berjuang untuk mengikuti volume email yang masuk. Tim layanan pelanggan Alibaba kadang-kadang harus bertindak memberikan dukungan teknis gratis untuk klien, seperti menanggapi pertanyaan tentang cara me-reboot komputer. Namun, karena menganut prinsip pelanggan adalah yang pertama, Alibaba memutuskan untuk memberikan tanggapan kepada setiap email paling lama dalam dua jam.

BACA JUGA:  Alibaba akan menjadikan cloud computing sebagai 'bisnis utama'

Untuk menjaga tim tetap fokus, co-founder Alibaba, Simon Xie ingat bahwa  Jack adalah “budaya dan inti” dari Alibaba. Jack selalu menyambut rekrutan baru dengan pesan yang serius, dan memberi janji. Kemudian ia mengeluarkan salah satu ucapan favoritnya: “Hari ini brutal, besok lebih brutal, tetapi lusa itu indah. Namun, mayoritas orang akan mati besok malam. Mereka tidak akan bisa melihat sinar matahari lusa. Hanya orang-orang khusus yang dapat melihat sinar matahari lusa. ”

Co-founder Lucy Peng, direktur sumber daya manusia pertama Alibaba dan kemudian menjabat “chief people officer,” juga memainkan peran penting dalam proses perekrutan dan dalam membentuk budaya perusahaan. Dalam studi kasus Sekolah Bisnis Harvard di tahun 2000 tentang Alibaba, dia berkomentar bahwa “Karyawan Alibaba tidak membutuhkan pengalaman. Mereka harus memiliki kesehatan yang baik, hati yang baik, dan pikiran yang baik. ”

Jack selalu meremehkan sekolah bisnis: “Tidak perlu belajar menjadi MBA. Kebanyakan lulusan MBA tidak berguna … Kecuali mereka kembali dari studi MBA dan melupakan apa yang telah mereka pelajari di sekolah, maka mereka akan berguna. Karena sekolah mengajarkan pengetahuan, tapi ketika memulai bisnis dibutuhkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan diperoleh melalui pengalaman. Pengetahuan dapat diperoleh melalui kerja keras. ”

Sumber: Channelnewsasia.com

Tags: AlibabaJack Ma
Previous Post

Tips Keluar dari Grup WhatsApp Tanpa Ketahuan

Next Post

2020, Indonesia Merdeka Sinyal

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP DIGITAL AWARDS

hanwha-life-top-digital-awards-2025-level-stars-5

Hanwha Life Raih TOP Digital Awards 2025 Level Stars 5

Teguh Imam Suyudi
23 December 2025 | 16:00

Rumah Pendidikan Kemendikdasmen TOP Digital Awards 2025

Rumah Pendidikan Kemendikdasmen Raih Penghargaan Bergengsi TOP Digital Awards 2025

Teguh Imam Suyudi
7 December 2025 | 09:00

Moratelindo TOP Digital Awards

Moratelindo Perkuat Kepemimpinan Transformasi Digital Lewat Dua Penghargaan Nasional TOP Digital Awards 2025

Teguh Imam Suyudi
6 December 2025 | 09:00

Ilham Habibie: Digital adalah Instrumen Strategis Daya Saing Global, Kedaulatan, dan Ketahanan Ekonomi Bangsa

Ilham Habibie: Digital adalah Instrumen Strategis Daya Saing Global, Kedaulatan, dan Ketahanan Ekonomi Bangsa

Fauzi
5 December 2025 | 13:58

PT Pertamina International Shipping (PIS) Raih Penghargaan TOP Digital Awards 2025 Bintang 5

PT Pertamina International Shipping (PIS) Raih Penghargaan TOP Digital Awards 2025 Bintang 5

Ahmad Churi
5 December 2025 | 11:14

Load More

TERPOPULER

  • Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Inovasi Digital Jadi Fokus Strategi Komunikasi Indonesia Re di Tahun 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ini Sejumlah Manfaat Hot Backup Satellite SATRIA-1

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Autonomous Business Jadi Masa Depan Dunia Usaha, AI Ubah Perusahaan Lebih Mandiri dan Proaktif

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Oppo Rilis Dua Smartphone A Series Terbaru di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
iklan bni
cover it works
cover it works

ICT PROFILE

Transformasi Digital Kian Gencar, Akamai Luncurkan Akamai Connected Cloud dan Layanan Baru

Tunjuk Fiona Zhang, Akamai Perkuat Strategi Channel-First Kawasan APJ

Fauzi
8 April 2026 | 16:26

Akamai menunjuk Fiona Zhang sebagai Wakil Presiden Regional Bidang Penjualan dan Program Saluran untuk kawasan Asia-Pasifik dan Jepang. Penunjukan Fiona...

Intel Tunjuk Pimpinan Baru untuk Kawasan APJ

Intel Tunjuk Pimpinan Baru untuk Kawasan APJ

Fauzi
7 April 2026 | 11:46

Intel Corporation mengumumkan penunjukan Santhosh Viswanathan sebagai Vice President and Managing Director untuk kawasan Asia Pasifik dan Jepang (APJ). Dengan...

EXPERT

Red Hat Berambisi Capai Target Net Zero Emisi Gas Rumah Kaca di 2030

Titik Infleksi AI Selanjutnya: Mengubah Agen AI Menjadi ‘Superusers’ di Enterprise

Fauzi
21 May 2026 | 14:39

Oleh: Matt Hicks, President and CEO, Red Hat Jika Anda menyaksikan keynote di hari pertama Red Hat Summit 2026, Anda...

Seiring Jaringan yang Kian Cerdas, Ketahanan Telekomunikasi Akan Bergantung pada AI yang Tepercaya

Fauzi
20 May 2026 | 10:35

Oleh: Athul Prasad, Global Director, AI Industry Solutions, Telco, Media & Entertainment, Cloudera Ketahanan dalam industri telekomunikasi dulu berarti menjaga...

TIK TALKS

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

redaksi
16 August 2022 | 15:30

Di masa akan datang banyak aplikasi yang akan membutuhkan low latency connectivity. Lalu apa kaitannya dengan Edge DC yang hadir...

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

redaksi
15 August 2022 | 12:30

Bagaimana cara mengolah Big Data sehingga dapat divisualisasikan, serta bagaimana dapat melakukan analitik dan dapat memprediksikan apa yang harus dilakukan...

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Itworks - Inspire Great & Telco for Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto