ItWorks
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
ItWorks
No Result
View All Result

Mengapa Harga Smartphone iPhone dan Android Makin Mahal?

adam
14 August 2018 | 07:00
rubrik: Product
Mengapa Harga Smartphone iPhone dan Android Makin Mahal?

iPhone dan Android

Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta, Itech – Apabila Anda merasa harga ponsel high-end saat ini semakin mahal, bisa jadi pemikiran itu tidak salah. Banderol harga tinggi untuk sebuah smartphone flagship terkini akan menjadi suatu kewajaran baru ke depannya.

Ketika Apple merilis iPhone X dengan banderol 1.000 dollar AS tahun lalu (sekitar Rp 13 juta saat itu), sempat terbersit keraguan apakah ada yang mau merogoh kocek begitu dalam demi satu unit perangkat yang terlampau mahal dibanding iPhone 8 dan iPhone 8 Plus?.

Keraguan itu dijawab dengan pengakuan CEO Apple, Tim Cook yang mengklaim bahwa iPhone X menjadi yang paling laris di antara perangkat Apple lainnya, seminggu setelah dirilis.

Larisnya iPhone X menjadi awal keyakinan Apple bahwa konsumen rela membayar lebih untuk sebuah ponsel, sebagaimana mereka merogoh kocek lebih untuk mendapatkan laptop yang canggih.

Tren iPhone mahal akan berlanjut pada lini iPhone 2018 yang diperkirakan akan rilis akhir 2018. Banderol ponsel mahal tak hanya dimiliki iPhone. Vendor Android yang memiliki pasar lebih besar pun menjual ponsel high-end mereka semakin mahal dari tahun ke tahun.

Saat Ini Sebut saja Samsung, Huawei, atau OnePlus. Hanya dalam dua tahun saja, harga jual Samsung Galaxy S9 di pasar Amerika Serikat naik 15,1 persen, terhitung dari Galaxy S7 yang rilis tahun 2016.

Seri Huawei P harganya juga naik 33 persen sejak tahun 2016. Sementara harga ponsel OnePlus naik 32,6 persen di pasar AS dan 42,6 persen. Lalu, apa sebenarnya alasan vendor terus-terusan mengatrol harga ponsel high-end mereka?

Ponsel menjadi kebutuhan Tak dipungkiri, konsumen memegang peran penting dalam penentuan harga ponsel. Tren harga ponsel papan atas yang semakin melambung menegaskan pentingnya kehadiran ponsel dalam kegiatan komunikasi pengguna sehari-hari, baik untuk pekerjaan, fotografi maupun hiburan.

BACA JUGA:  IDC Ungkap Penyebab Pasar Smartphone di Indonesia Lesu

Kebutuhan kualitas dan kritisnya dari generasi ke generasi juga meningkat, seperti ketelitian pemilihan prosesor, teknologi kamera, daya tahan baterai dan kecepatan konektivitas.

“Konsumen siap membayar lebih untuk ponsel, karena bisa dibilang, ponsel menjadi bagian penting dari hidup mereka,” jelas kepala analis lembaga riset CCS Insight, Ben Wood.

Hal senada juga diungkap perwakilan OnePlus yang berdalih bahwa peningkatan kualitas komponen perangkat selaras dengan permintaan peforma yang unggul. “Saat kepercayaan pada smartphone meningkat tajam dalam waktu singkat, peningkatan kualitas komponen dibutuhkan untuk mengimbangi permintaan peningkatan kinerja,” ujar perwakilan OnePlus.

Tentu saja hal ini sesuai dengan hukum penawaran yang mengatakan, semakin tinggi harga, jumlah ketersediaan barang atau jasa yang ditawarkan juga akan meningkat. Bagi konsumen kelas atas, harga ponsel yang melambung bukan lagi barang baru.

Mereka paham betul, komponen yang lebih baik, lebih cepat seperti chipset dan kamera membutuhkan biaya produksi yang tidak murah. Biaya lain yang turut memengaruhi produk final adalah penelitian dan pengembangan (R&D) material baru, serta inflasi yang mungkin saja terjadi di luar biaya produksi.

Penciptaan kelas atas baru Namun perlu diketahui bahwa biaya riset dan inflasi bukan satu-satunya alasan mahalnya ponsel high-end. Para vendor sekelas Apple, Samsung dan lainnya yang selalu menaikkan harga ponselnya tiap kali merilis seri baru, dengan sengaja menciptakan kelas konsumen anyar untuk pasar mereka, yakni ultra high-end.

Kelas ini menjadi mesin profit sendiri bagi vendor. Segmen ini rata-rata menggunakan ponsel mereka lebih lama, antara tiga tahun atau lebih. Menurut salah satu analis International Data Corporation (IDC), Anthony Scarsella, meski pengapalan smartphone menurun pada tahun 2018, namun rata-rata penjualannya justru naik.

BACA JUGA:  Bidik Segmen Gen Z, Advan Luncurkan Smartphone Terbaru Berotak Dimensity 7060 ‘Advan Macha’

“Walaupun secara keseluruhan pengapalan smartphone menurun tahun 2018, harga jual rata-rata (ASP) ponsel mencapai 345 dollar AS (Rp 5 jutaan), naik 10,2 persen dari 313 dollar AS (4,5 juta) yang didapat tahun 2017,” jelasnya.

Ia menambahkan, bahwa kenaikan harga khususnya terjadi pada jajaran ponsel high-end. Perbandingan yang jelas terdapat pada model ponsel yang sama yang dirilis tahun ini dengan ponsel keluaran dua tahun lalu.

Biaya produksi terus naik Dari tabel di atas, terlihat hanya Google yang menjaga harga Google Pixel tetap berada pada angka 649 dollar AS. Selain Samsung, vendor lain asal Korea Selatan, LG juga terlihat menaikan harga ponselnya.

Menurut senior director global communication LG, Ken Hong, naiknya harga komponen, insentif operator, dan banderol ponsel pesaing yang juga naik menjadi alasan LG ikut mendongkrak harga.

“Faktanya, biaya input juga naik, jadi kami dipaksa mengikutinya,” imbuh Hong.

Layaknya barang elektronik lainnya, ponsel juga butuh pasokan komponen lain. Komponen tersebut memengaruhi biaya produksi, yang akhirnya berdampak pada harga jual.
Jika diamati, ponsel high-end dalam setahun terakhir banyak yang menawarkan kapasitas RAM dan ROM yang besar. Hal tersebut ternyata berpengaruh pada permintaan storage dan memicu kenaikan harga.

Tingginya permintaan memori akan mendorong pemasok untuk berinvestasi lebih, membangun pabrik lain untuk mencukupi permintaan. Selain memori, smartphone high-end juga bersaing dalam keunggulan kamera.

Tengoklah iPhone X dengan sensor 3D di kamera depan, atau Huawei P20 Pro dengan triple kamera di punggung, tentu memiliki ongkos produksi yang mahal. Belum kemewahan pada desain yang membalut ponselnya dengan bahan keramik atau kaca, dan alumunium untuk bingkai depan.

Dengan demikian, bisa dibayangkan harga jual untuk ponsel dengan layar kaca berlian pertama atau yang mengadopsi Vibrant Satin Corning Gorilla Glass nantinya, tidak akan murah.

BACA JUGA:  realme 13 Series 5G 'Performance Beyond Limit', Segera Hadir di Indonesia,

“Saya setuju bahwa beberapa biaya elemen berasal dari komponen dan proses manufakturing, tapi tidak menjadi yang terbesar,” jelas Wood kepada Cnet.

“Saya juga yakin jika Apple membuat keputusan strategis untuk menaikan harga ponsel flagship iPhone untuk memaksimalkan laba,” imbuh Wood.

Tren yang diprediksi terus berlanjut “Selama ponsel menjadi kebutuhan perangkat komputer utama sehari-hari, konsumen akan merogoh kantong lebih dalam,” kata Carolina Milanesi, analis dari Creative Strategies.

Seperti dijelaskan di awal, banderol iPhone X yang tembus Rp 13 jutaan kala itu, menjadi awal tren harga ponsel high-end yang semakin mencekik. Apple menempatkan titik baru untuk industri kelas high-end secara keseluruhan, tidak hanya pada lini iPhone saja.

Diikuti fitur ikonik lain yang mulai diikuti ponsel Android, seperti desain layar “poni”, menghilangkan tombol home, adopsi 3D depth-sensing untuk membuka dan mengunci layar, serta meniadakan sensor fingerprint.

Kemungkinan, Apple akan mengulang pola untuk semakin menaikan harga ponselnya saat meluncurkan lini iPhone 2018. Ponsel midrange masih aman Sementara itu, pasar ponsel level mid-range dan low-end semakin ramai.

Beberapa vendor menjadi pemain utama di pasar ini dengan harga perangkat berkisar Rp 2-5 jutaan. Vendor high-end juga mulai menyasar papan tengah. Huawei misalnya dengan sub-brand nya Honor, yang mengusung desain dan fitur populer dengan banderol terjangkau.

Oppo, Xiaomi, Asus, dan Nokia juga menelurkan ponsel-ponsel untuk menjangkau konsumen berdompet tipis.

Tags: Smartphone
Previous Post

Lenovo Indonesia Luncurkan Laptop Yoga 530, Harganya?

Next Post

Facebook Luncurkan Game Augmented Reality (AR) di Messenger

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP DIGITAL AWARDS

hanwha-life-top-digital-awards-2025-level-stars-5

Hanwha Life Raih TOP Digital Awards 2025 Level Stars 5

Teguh Imam Suyudi
23 December 2025 | 16:00

Rumah Pendidikan Kemendikdasmen TOP Digital Awards 2025

Rumah Pendidikan Kemendikdasmen Raih Penghargaan Bergengsi TOP Digital Awards 2025

Teguh Imam Suyudi
7 December 2025 | 09:00

Moratelindo TOP Digital Awards

Moratelindo Perkuat Kepemimpinan Transformasi Digital Lewat Dua Penghargaan Nasional TOP Digital Awards 2025

Teguh Imam Suyudi
6 December 2025 | 09:00

Ilham Habibie: Digital adalah Instrumen Strategis Daya Saing Global, Kedaulatan, dan Ketahanan Ekonomi Bangsa

Ilham Habibie: Digital adalah Instrumen Strategis Daya Saing Global, Kedaulatan, dan Ketahanan Ekonomi Bangsa

Fauzi
5 December 2025 | 13:58

PT Pertamina International Shipping (PIS) Raih Penghargaan TOP Digital Awards 2025 Bintang 5

PT Pertamina International Shipping (PIS) Raih Penghargaan TOP Digital Awards 2025 Bintang 5

Ahmad Churi
5 December 2025 | 11:14

Load More

TERPOPULER

  • Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ratusan Perusahaan Terkemuka Raih Penghargaan TOP CSR Awards 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Inovasi Digital Jadi Fokus Strategi Komunikasi Indonesia Re di Tahun 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ini Sejumlah Manfaat Hot Backup Satellite SATRIA-1

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tak Terdampak Corona, Samsung Indonesia Pastikan Pasokan Galaxy Z Flip Aman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
iklan bni
cover it works
cover it works

ICT PROFILE

Transformasi Digital Kian Gencar, Akamai Luncurkan Akamai Connected Cloud dan Layanan Baru

Tunjuk Fiona Zhang, Akamai Perkuat Strategi Channel-First Kawasan APJ

Fauzi
8 April 2026 | 16:26

Akamai menunjuk Fiona Zhang sebagai Wakil Presiden Regional Bidang Penjualan dan Program Saluran untuk kawasan Asia-Pasifik dan Jepang. Penunjukan Fiona...

Intel Tunjuk Pimpinan Baru untuk Kawasan APJ

Intel Tunjuk Pimpinan Baru untuk Kawasan APJ

Fauzi
7 April 2026 | 11:46

Intel Corporation mengumumkan penunjukan Santhosh Viswanathan sebagai Vice President and Managing Director untuk kawasan Asia Pasifik dan Jepang (APJ). Dengan...

EXPERT

Red Hat Berambisi Capai Target Net Zero Emisi Gas Rumah Kaca di 2030

Titik Infleksi AI Selanjutnya: Mengubah Agen AI Menjadi ‘Superusers’ di Enterprise

Fauzi
21 May 2026 | 14:39

Oleh: Matt Hicks, President and CEO, Red Hat Jika Anda menyaksikan keynote di hari pertama Red Hat Summit 2026, Anda...

Seiring Jaringan yang Kian Cerdas, Ketahanan Telekomunikasi Akan Bergantung pada AI yang Tepercaya

Fauzi
20 May 2026 | 10:35

Oleh: Athul Prasad, Global Director, AI Industry Solutions, Telco, Media & Entertainment, Cloudera Ketahanan dalam industri telekomunikasi dulu berarti menjaga...

TIK TALKS

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

redaksi
16 August 2022 | 15:30

Di masa akan datang banyak aplikasi yang akan membutuhkan low latency connectivity. Lalu apa kaitannya dengan Edge DC yang hadir...

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

redaksi
15 August 2022 | 12:30

Bagaimana cara mengolah Big Data sehingga dapat divisualisasikan, serta bagaimana dapat melakukan analitik dan dapat memprediksikan apa yang harus dilakukan...

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Itworks - Inspire Great & Telco for Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto