Jakarta, It Works- Bank Indonesia (BI) menyambut baik kehadiran perusahaan penyedia layanan teknologi finansial (financial technology/fintech) yang kian marak belakangan ini dan diharapkan bisa mendorong upaya peningkatan penetrasi inklusi keuangan di tengah masyarakat. Sebagai pemegang otoritas regulasi bidang keuangan, BI lebih mendorong agar fintech bisa lebih banyak kolaborasi dengan bank, dan bukan mendisrupsi keberadaan mereka.
“Sebagai regulator, kami perannya kan ada di tengah. Melindungi pelaku usaha bidang keuangan ini, termasuk juga terhadap konsumen. Kami juga harus memberikan proteksi, sehingga apapun yang dilakukan, baik kerja sama atau lainnya, misalnya kontraknya, atau kemudian juga formatnya. Kalau bicara soal transformasi digital di kalangan bank, sebenarnya juga sudah banyak mereka lakukan. Misalnya ada layanan e-money dan lainnya. Dari sisi manajemen ada istilahnya open banking itu ada API (Application Programming Interface). Makanya saya cenderung agar fintech dan bank lebih banyak mengarah kolaborasi,” ungkap Deputi Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Susiati Dewi pada Seminar Nasional bertajuk “Kolaborasi Industri Perbankan dan Fintech dalam Sistem Pembayaran di Indonesia” pad (21/2), Jakarta.
Dikatakan, sejauh ini sejumlah bank juga sudah banyak yang menjalin kerja sama dengan perusahaan fintech, termasuk untuk pertukaran data. Namun diakui, terkait data, konteksnya masih sebatas bilateral. Dalam hal ini, BI menyatakan akan mengatur pertukaran data antara bank dan perusahaan fintech). Hal itu agar kolaborasi keduanya dapat seimbang dan memiliki kekuatan hokum, sekaligus juga untuk memberikan perindungan bagi konsumen.
Ditambahkan, pertukaran data antara bank dan fintech dimungkinkan dan praktik tersebut sudah dilakukan di berbagai negara. Di Eropa, kata dia, ada directive payment system yang di dalamnya juga mengatur mutualisme antara bank dan fintech. Ke d pan, BI selaku otoritas sistem pembayaran pun, akan lebih focus agar bisa memfasilitasi hal tersebut untuk mendukung semakin berkembangnya ekonomi digital dan fintech di Tanah Air. “Ini bukan wacana, ini suatu hal yang terus kita pikirkan untuk nanti kita terjemahkan dalam berbagai bentuk kebijakan atau regulasi,” ujarnya.
Dalam seminar yang dihelat perusahaan Fintech DANA bekerja sama Infobank ini, juga menghadirkan pembicara lain, di antaranya Wakil Ketua Umum Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) Rico Usthavia Frans yang juga bankir dari Bank Mandiri, serta Ceo DANA, Vincent Iswara.
Dalam kesempatan itu, Wakil Ketua Umum ASPI, Rico Usthavia Frans mengatakan, pihaknya juga sependapat bahwa ke depan, kehadiran fintech harus lebih diarahkan untuk bisa saling kerja sama dengan bank-banjk yang sudah lebih dulu eksis. Apalagi bank-bank konvensional saat ini juga sudah banyak yang memiliki infrastruktur digital yang sejalan dengan era transformasi digital yang bisa dikerjasamakan dengan layanan fintech ini.
“Saya sangat setuju ke depan fintech dan bank ini arahnya kolaborasi, bukan mendisrupsi. Tentu kerja sama harus berimbang alias saling menguntungkan dan ini perlu dukungan dari aspek regulasi, termasuk dari BI atau pun OJK (Otoritas Jasa Keuangan),” ujarnya.
Ceo DANA Vincent Iswara juga sepakat dengan hal itu. Bahkan pihaknya selama ini juga sudah banyak menjalin kerja sama dengan sejumlah bank di Tanah Air. Ditambahkan, kolaborasi antara perbankan dan fintech seperti DANA, yang menyediakan infrastruktur pembayaran dan transaksi keuangan digital memungkinkan masyarakat Indonesia untuk bertransaksi nontunai dengan mudah, nyaman, serta terjamin keamanannya.
“DANA juga menyediakan fitur yang memungkinkan pengguna menghubungkan kartu debit dan kartu kreditnya ke dalam aplikasi DANA sehingga mereka dapat bertransaksi secara nontunai dan nonkartu secara aman dan lebih efisien, tanpa terkendala batas saldo DANA dalam aplikasi mereka. Ini adalah salah satu bukti nyata kolaborasi yang menguntungkan bagi perbankan dan fintech, serta masyarakat sebagai pengguna,” papar Vincent.
Diakui bahwa disrupsi dari fintech, khususnya di sektor sistem pembayaran, sebenarnya membuka peluang bagi kalangan bank dan fintech untuk berkolaborasi. Kolaborasi akan membuat ekosistem yang dibangun lebih luas dan berhasil mendorong inklusi keuangan. Jika nantinya bisa dilakukan kerja sama lebih lanjut, misalnya pertukaran data antara fintech dengan bank, ini kana bisa membantu bank atau fintech untuk membuat produk-produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen. “Dengan teknologi, kita bisa hadirkan produk yang lebih relevan untuk para konsumen,” ujarnya. (AC)














