
Microsoft dan IDC Asia-Pasifik (APAC) telah melakukan studi tentang adopsi Artificial Intelligence (Kecerdasan Buatan – AI) di 15 negara di Asia Pasifik (APAC) pada tahun ini. Judul laporannya adalah “Future Ready Business: Assessing Asia Pacific’s Growth Potential Through AI.”
Organisasi yang dilibatkan dalam studi ini berasal dari industri agrikultur, otomotif, pendidikan, jasa keuangan, pemerintah, kesehatan, manufaktur, ritel, layanan jasa dan telko/media. Responden studi ini terdiri dari 1.605 pemimpin bisnis dan 1.585 karyawan. Meliputi: Australia, Cina, Hong Kong, Indonesia, India, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.
Pemimpin bisnis adalah para pimpinan bisnis dan TI dari organisasi dengan 250 staf. Mereka adalah pengambil keputusan yang terlibat dalam membentuk strategi bisnis dan digital organisasi mereka. Sedangkan karyawan adalah responden yang memiliki pemahaman tentang AI tapi tidak berperan dalam proses pengambilan keputusan dalam organisasi mereka.
Ini 2 Tantangan Implementasi AI di Indonesia
Adopsi AI di Indonesia
“Di Indonesia, survei tersebut dilakukan kepada 112 pemimpin bisnis dan 101 karyawan. Hasilnya, lebih dari separuh organisasi di Indonesia yang terlibat dalam survei ini telah memulai AI journey mereka. Dengan 14 persen organisasi mengatakan telah mengadopsi AI sebagai bagian inti dari strategi bisnisnya, dan 42 persen telah mulai melakukan eksperimen dengan AI sebagai bagian dari strategi mereka,” kata Haris Izmee, Presiden Direktur Microsoft Indonesia pada acara Media Briefing, 12 Maret 2019.
Dengan mengambil contoh dari customer Microsoft di Indonesia, Haris mengatakan bahwa organisasi di Indonesia yang telah mengadopsi AI sebagai strategi bisnisnya berasal dari industri manufaktur, otomotif, energi, dan startup. “Sejumlah kementerian di Indonesia, terutama yang mengelola data dalam jumlah besar, juga telah mengadopsi AI tapi masih sebatas eksperimen,” tambah Haris.
Namun, terlepas dari potensi ekonomi yang mampu diraih dari adopsi AI, studi Microsoft dan IDC itu juga mengungkap bahwa 30 persen organisasi di Indonesia masih menunggu AI menjadi matang sebelum menjadikannya sebagai bagian dari strategi bisnisnya. Dan sisanya yaitu 14 persen belum mempertimbangkan AI sebagai bagian strategi bisnisnya.
Manfaat Positif AI
Studi Microsoft dan IDC juga mengungkap bahwa ke depannya AI tidak hanya akan meningkatkan daya saing organisasi Indonesia melalui inovasi-inovasi yang dihadirkan oleh pelaku usaha ketika mengimplementasikan AI di setiap strateginya, tapi juga produktivitas karyawannya.
Dalam tiga tahun ke depan yaitu tahun 2021, dengan adopsi AI maka nilai inovasi organisasi di Indonesia diprediksi meningkat 1,7x atau mencapai 57 persen dibandingkan saat ini yaitu 34 persen. Sedangan untuk kawasan APAC saat ini rata-rata nilai inovasi organisasi adalah 22 persen dan di tahun 2021 diprediksi mencapai 42 persen yang berarti meningkat 1,9x.
Sedangkan untuk produktivitas karyawan, Indonesia saat ini memiliki nilai sebesar 24 persen dan dengan adopsi AI diprediksi akan mencapai 46 persen di tahun 2021 yang berarti meningkat 1,9x. Untuk kawasan APAC, rata-rata produktivitas karyawan saat ini berada di 19 persen dan diprediksi mencapai 36 persen di tahun 2021 yang berarti meningkat 1,9x.
“Nilai inovasi organisasi di Indonesia diprediksi akan meningkat dengan tumbuh dan berkembangnya ekonomi digital seperti startup, unicorn, decacorn, dan UKM. Dengan pendorong utama atau key-drivers adopsi solusi yang berhubungan dengan AI adalah semakin berkembangnnya budaya co-working space, modern workplace, digital savvy nomad, budaya kerja kolaboratif. Para milenial gemar bekerja dari mana saja sehingga meningkatkan produktivitas,” jelas Haris.
“Dengan memperhatikan hasil studi itu, dengan adopsi AI, dalam tiga tahun ke depan yaitu tahun 2021 maka nilai peningkatan inovasi organisasi di Indonesia akan sangat dekat dengan rata-rata nilai peningkatan inovasi kawasan APAC. Sedangkan, untuk nilai produktivitas karyawan di Indonesia akan sama dengan rata-rata produktivitas karyawan di kawasan APAC,” tutup Haris.
Untuk informasi lebih lanjut tentang hasil studi ini ataupun mengenai inisiatif Microsoft Indonesia untuk meningkatkan talenta digital Indonesia, kunjungi https://news.microsoft.com/id-id/













