
Artificial Intelligence (Kecerdasan Buatan – AI) tidak hanya meningkatkan daya saing Indonesia melalui inovasi-inovasi yang dihadirkan oleh pelaku usaha ketika mengimplementasikan AI di setiap strateginya, tetapi juga mentransformasi masyarakat menjadi lebih kompetitif melalui perubahan-perubahan yang terjadi di ruang lingkup bisnis.
Untuk dapat meraih potensi-potensi tersebut secara menyeluruh, diperlukan elemen pendukung seperti keterampilan sumber daya yang memadai untuk dapat tetap relevan di lingkungan bisnis yang berbasis AI. Hal tersebut diungkapkan oleh Haris Izmee, Presiden Direktur Microsoft Indonesia.
Studi Microsoft dan IDC Tentang Adopsi AI di APAC
Microsoft dan IDC Asia-Pasifik (APAC) telah melakukan studi tentang adopsi Artificial Intelligence (Kecerdasan Buatan – AI) di 15 negara di Asia Pasifik (APAC) pada tahun ini. Judul laporannya adalah “Future Ready Business: Assessing Asia Pacific’s Growth Potential Through AI.”
Studi Microsoft dan IDC: Artificial Intelligence Diprediksi Makin Banyak Diadopsi di Indonesia
Organisasi yang dilibatkan dalam studi ini berasal dari industri agrikultur, otomotif, pendidikan, jasa keuangan, pemerintah, kesehatan, manufaktur, ritel, layanan jasa dan telko/media. Responden studi ini terdiri dari 1.605 pemimpin bisnis dan 1.585 karyawan. Meliputi: Australia, Cina, Hong Kong, Indonesia, India, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.
Pemimpin bisnis adalah para pimpinan bisnis dan TI dari organisasi dengan 250 staf. Mereka adalah pengambil keputusan yang terlibat dalam membentuk strategi bisnis dan digital organisasi mereka. Sedangkan karyawan adalah responden yang memiliki pemahaman tentang AI tapi tidak berperan dalam proses pengambilan keputusan dalam organisasi mereka.
Memahami Tantangan Adopsi AI di Indonesia
Haris Izmee, Presiden Direktur Microsoft Indonesia mengungkapkan bahwa terlepas dari potensi ekonomi yang mampu diraih Indonesia, hasil studi Microsoft dan IDC mengungkap hanya 14% organisasi di Indonesia yang telah benar-benar mengimplementasikan AI. Rendahnya angka ini, menurut hasil studi disebabkan adanya sejumlah tantangan adopsi AI di Indonesia.
“Ada tiga tantangan utama atau hambatan adopsi AI di Indonesia yaitu, pertama, Leadership: kurangnya gagasan dari pimpinan dan komitmen pimpinan untuk berinvestasi di AI (30 persen). Kedua, Skills: kurangnya keterampilan, sumber daya dan program pelatihan yang berkelanjutan (23 persen). Ketiga, Culture: organisasi yang terpisah-pisah dan budaya resistensi organisasi (13 persen),” papar Haris di Jakarta, (12/3).
Budaya yang diperlukan untuk adopsi AI masih kurang di Indonesia budaya. Ada empat budaya yang diperlukan yaitu: Empowerment, Innovation, Going Beyond, dan Collaboration. Para pegawai di Indonesia yang disurvei lebih skeptis dibandingkan para pemimpin bisnis tentang kesiapan budaya organisasi mereka untuk mengadopsi AI.
AI Akan Menghasilkan Pekerjaan Baru
Studi tersebut juga mengungkap dalam penerapannya AI akan menciptakan pekerjaan-pekerjaan baru untuk manusia, yang bahkan saat ini belum tersedia. Adanya pekerjaan-pekerjaan baru ini turut didampingi oleh transformasi keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan kerja berbasis, baik di bidang keterampilan teknis seperti pemrograman dan juga soft skills seperti keterampilan untuk beradaptasi dan belajar serta rancangan teknologi (technology design). Tingginya permintaan terhadap keterampilan soft skills ini menandakan bahwa teknologi berbasis AI masih membutuhkan peran manusia, bukan menggantikan manusia.
“Pusat dari AI adalah manusia. Teknologi bertenaga AI dirancang untuk melakukan pekerjaan yang menghambat produktivitas manusia seperti pekerjaan yang bersifat repetitif. Namun, teknologi tersebut tidak dirancang untuk berinteraksi selayaknya manusia. Sehingga, keterampilan yang dibutuhkan tidak hanya keterampilan teknis ataupun mengelola data, tetapi juga keterampilan yang hanya dapat dilakukan manusia seperti keberanian mengambil inisiatif serta bekerjasama dalam sebuah tim,” ujar Haris lagi.
Tiga keterampilan untuk masa depan yang dibutuhkan oleh para pemimpin bisnis di Indonesia meliputi (1) keterampilan analitis, (2) kewirausahaan dan keterampilan mengambil inisiatif, serta (3) keahlian dan pemrograman di bidang Teknologi Informatika. Saat ini, permintaan akan keterampilan tersebut lebih tinggi daripada suplai yang ada. Studi ini juga mengungkap bahwa para pemimpin bisnis lebih menghargai soft skills, berbeda dengan prediksi yang diharapkan para karyawan.
Lebih lanjut lagi, hasil studi ini juga menunjukkan bahwa para pemimpin bisnis menyadari pentingnya kegiatan reskilling dan retraining demi peningkatan kapabilitas karyawan untuk tetap relevan menghadapi perubahan lanskap bisnis ini. Untuk membantu memberdayakan karyawan, 81% pelaku bisnis memprioritaskan pemberdayaan keterampilan karyawan di masa depan melalui alokasi investasi.
Meski demikian, ternyata 48% pemimpin bisnis belum menerapkan rencana untuk membantu karyawan mereka memperoleh keterampilan yang tepat dan sebanyak 20% pemimpin bisnis merasa karyawan tidak tertarik untuk mengembangkan keterampilan baru. Padahal, hanya 2% karyawan yang tidak tertarik dengan pemberdayaan keterampilan baru ini.
“Bagi Microsoft, AI adalah tentang meningkatkan kecerdikan manusia, bukan menggantikan manusia secara keseluruhan. Pola pikir seperti inilah yang kami bangun dan sosialisasikan ke masyarakat. Kami melihat AI sebagai instrumen yang akan mendorong manusia untuk mampu mencapai lebih, melalui keterampilan-keterampilan baru yang dibutuhkan untuk dapat mengoperasikan teknologi tersebut. Kami percaya dan optimis bahwa kesempatan-kesempatan yang tercipta karena AI akan memperkuat kecerdikan manusia untuk masa depan yang lebih baik, bagi semua,” tutup Haris.
Dalam upaya pemenuhan kebutuhan keterampilan ini, Microsoft Indonesia telah bekerja sama dengan beberapa entitas baik pihak Pemerintah maupun Swasta untuk melaksanakan program-program reskilling generasi muda Indonesia, diantaranya melalui Digital Talent Scholarship bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang pada tahun lalu telah melahirkan 1.000 lulusan yang memiliki kompetensi di bidang teknologi seperti AI, Cloud Computing, Cybersecurity, Big Data dan Bisnis Digital.
Di tahun 2019, Microsoft Indonesia akan kembali mendukung Kominfo dalam program Digital Talent Scholarship yang ditargetkan untuk melahirkan 20.000 lulusan. Program Microsoft lainnya yang juga mendukung peningkatan keterampilan digital generasi muda diantaranya GenerasiBisa! Bersama Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB), Imagine Cup serta Hour of Code.
Final Microsoft Imagine Cup Asia 2019 Tingkat Regional Dimenangkan oleh Tim Caeli dari India
2019, Microsoft Indonesia Gelar Sejumlah Program Edukasi Digital
Pemenang Program Edukasi Digital Microsoft Indonesia Bertemu Menkominfo
Untuk informasi lebih lanjut tentang hasil studi ini ataupun mengenai inisiatif Microsoft Indonesia untuk meningkatkan talenta digital Indonesia, kunjungi https://news.microsoft.com/id-id/














