Grab menggandeng Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kantor Staf Presiden, Badan Koordinasi Penanaman Modal dan Badan Ekonomi Kreatif untuk menggelar Konferensi Thinkubator dan Kompetisi Startup.
“Indonesia ini talentanya luar biasa hebat,” kata Menko Maritim, Luhut Binsar Pandjaitan, ditemui usai pembukaan Thinkubator di Jakarta, Kamis (28/3).
Thinkubator merupakan kompetisi tingkat nasional untuk meningkatkan ekspansi dan pengembangan industri teknologi serta startup di Indonesia. Edisi perdana ini berhasil menjaring 150 startup dari 1.165 pendaftar.
Enam finalis akan terpilih untuk mempresentasikan ide mereka di hadapan dewan juri, yaitu pendiri Tokopedia William Tanuwijaya, Ketua CT Corp Chairul Tanjung dan Direktur Eksekutif Kustodian Sentral Efek Indonesia Friderica Widyasari Dewi.
Para pemenang Thinkubator akan mendapatkan pendanaan dengan total sebesar Rp3 miliar, juga akses ke Microsoft Azure untuk mengembangkan bisnis mereka.
Baca: Neneng Goenadi, Managing Director Grab Indonesia yang Baru
Presiden Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata menyatakan Thinkubator di Indonesia merupakan peluncuran perdana program baru mereka untuk startup dan akan diperkenalkan ke negara Asia Tenggara lainnya.
Grab juga memiliki program lain untuk mendukung startup yaitu Grab Ventures Velocity, perbedaanya program ini untuk perusahaan rintisan tingkat lanjut, sementara Thinkubator untuk pemula, maksimal berada di tahap seri A.
Strategi Grab Bikin GrabFood Jadi Nomor Satu di Indonesia
Grab Indonesia terus menggenjot layanan GrabFoodnya dengan sejumlah inovasi. Marketing Director Grab Indonesia Mediko Azwar mengatakan Grab fokus meningkatkan layanan antar makanan, mengingat layanan transportasi Grab yang sudah matang dan bagus.
“Pasar untuk antar makanan kita lihat besar dan sekarang di transportasi kita menjadi pemimpin. Makanya, kami berencana untuk membersarkan layanan antar makanan,” katanya di Jakarta.
Mediko mengatakan layanan GrabFood masih memiliki prospek yang besar karena masih ada gap dengan layanan transportasi. “Meski kami (layanan GrabFood) sudah tumbuh pesat, tapi kami masih ingin tumbuh lebih di tahun ini dan menjadi pemimpin pasar,” ujarnya.
Dari laporan terbaru, layanan GrabFood memang mencatat pertumbuhan antar makanan hampir 10 kali dalam kurun waktu Desember 2017 hingga Desember 2018.
“Kami memang tidak ada spesifik dana investasi untuk GrabFood. Namun, dari pendanaan terakhir dengan total USD 4,5 miliar, memang diinvestasikan salah satu fokusnya adalah Indonesia termasuk layanan dengan pertumbuhan yang tinggi, seperti GrabFood,” ujar Ridzki menjelaskan.
Pengembangan layanan GrabFood yang kian serius memang tidak lepas dari aksi akuisisi Uber oleh Grab tahun lalu.
“Akusisi Uber adalah awal mulanya kami masuk ke bisnis antar makanan dan superapp. Itu memang komitmen kami untuk mengembangkan layanan yang sesuai konsumen Indonesia dan memang sejalan dengan layanan transportasi digital milik kami,” tuturnya mengakhiri pembicaraan.















