Di era serba digital ini, setiap bank harus mengatasi disrupsi teknologi yang tidak lagi bisa dihindari. Bank tak hanya wajib menyajikan layanan yang lebih cepat, mudah, dan tetap hati-hati, tapi juga mentransformasikan proses bisnis dengan memanfaatkan teknologi informasi (TI).
Itulah yang jadi landasan bagi PT Bank BPD Bali (BPD Bali) melakukan Transformasi TI. Tujuannya, untuk meningkatkan daya saing dan mendapatkan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Transformasi itu telah dilakukan dalam beberapa tahapan, pertama tahun 2012-2013 Fase Perencanaan yang dimulai dengan BRC 2010. Kedua, 2014-2015 Fase Implementasi dan 2016 sampai sekarang adalah. Fase Pengembangan. Dalam setiap fase, BPD Bali telah mengembangkan solusi teknologi digital
Solusi Teknologi Digital
Solusi teknologi digital BPD Bali berfokus untuk memberikan layanan dengan strategi, pertama, melakukan optimalisasi layanan kepada stakeholder, untuk menjaga CASA (current account saving account), dengan menyediakan layanan Mobile Banking dan Internet Banking. Ini penting untuk menghadapi persaingan di sektor perbankan. Kedua, fokus pada stakeholder utama dan UMKM dengan penyediaan sistem aplikasi sebagai platform agregator terkait pajak dan retribusi daerah serta administrasi pengelolaan sistem keuangan daerah.
Itu dijelaskan IB Gede Setia Yasa, Direktur Operasional PT Bank BPD Bali di sesi Presentasi dan Wawancara dengan Dewan Juri TOP DIGITAL Awards 2019 di Jakarta, 18 Oktober 2019.
Solusi teknologi digital yang sudah disediakan BPD Bali, diantaranya Internet Banking Busines: Solusi layanan transaksi non tunai bagi perusahaan/Pemerintah Daerah. BPD Payment, Platform pembayaran yang terintegrasi melalui berbagai channel layanan untuk memenuhi kebutuhan mitra/instansi yang diluncurkan tahun 2012. SP2D Online: Pionir solusi non tunai untuk efektifitas pengelolaan dan administrasi kas daerah (Implementasi kota Denpasar Tahun 2013). MB/IB: Memudahkan nasabah untuk bertransaksi tanpa harus pergi ke bank (2015). E-SAMSAT: Bank BPD Bali sebagai pelopor layanan SAMSAT online nasional (2017).
Pada Desember 2018 diluncurkan PHR Online, dimana Bank BPD Bali menjadi pilot project KPK untuk optimalisasi penerimaan pajak daerah. Caranya, pembayaran Pajak Hotel dan Restoran di Bali dapat dilakukan secara online. Ini merupakan pengembangan dari BPD Payment.
Pada bulan yang sama, untuk mendukung Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT), BPD Bali bekerja sama dengan Pemerimtah Kota Denpasar telah meluncurkan E-Retribusi sebagai sistem elektronik pungutan pasar.
Solusi digital terbaru adalah E-Link LPD-BPD Bali sebagai yang diluncurkan Juni 2019 lalu. Dengan layanan E-Link, nasabah Lembaga Perkreditan Desa (LPD) di Bali dapat mengakses fitur Mai Laku (agen laku pandai BPD Bali) dan Internet Banking Banking BPD Bali karena LPD belum memiliki sistem layanan online 24 jam. Dengan ini, LPD di Bali dapat jadi mitra strategis BPD Bali dalam meningkatkan inklusi keuangan.
“Kami ingin menjaga ratio CASA. Dengan pengembangan E-Link LPD akan memungkinkan Bank BPD Bali untuk mejaga kelolaan dana dari LPD secara maksimal dan mendorong peningkatan potensi bisnis lainnya seperti perluasan akses layanan keuangan kepada nasabah tanpa memerlukan investasi pembukaan kantor layanan,” tambahnya.
“Bersamaan dengan itu, juga diluncurkan E-ticketing pariwisata sebagai otomatisasi layanan retribusi sehingga transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan destinasi wisata di Bali yang masih dilakukan secar manual. Saat ini, layanan E-ticketing sudah diberlakukan di Kawasan Wisata Tanah Lot sebagai percontohan pada bulan Oktober 2019 ini,” jelas IB Gede Setia Yasa.
Hasil Tranformasi TI
Tranformasi TI yang dilakukan Bank BPD Bali telah memperlihatkan hasil yang cukup baik. Untuk kinerja tahun 2015-2019, jumlah nominal transaksi mengalami peningkatan dan ada pergeseran komposisi persentase transaksi dari teller ke non teller. Juga diperoleh lending-funding yang meningkat.
Untuk Internal Business Process, yang telah dilakukan adalah membuat Help Desk: Aplikasi pemohonan tiket terkait sistem TI, DHN: Aplikasi pelaporan DHN secara terpusat, E-Doc: Penyimpanan arsip digital, SIM SDM: Pengajuan cuti, lembur dilakukan dengan sistem, Warkat Debet: Pengelolaan Warkat Debet terpusat, dan E-Slip: Slip gaji dikirim melalui email.
“Dari itu semua, diperoleh efektifitas dimana jumlah SDM yang dibutuhkan lebih sedikit, sehingga dapat dialihkan ke bagian/unit lain yang membutuhkan. Juga Efisiensi, dengan mengurangi jumlah dokumen fisik sekaligus juga berperan dalam menjaga lingkungan (go green),” kata IB Gede Setia Yasa.














