Teknologi Informasi (TI) jadi faktor penting di industri healthcare untuk mengelola proses bisnis yang kompleks, dengan value chain yang panjang, dan banyaknya jaringan fisik (pabrik, jaringan distribusi, apotik, lab) yang tersebar di seluruh Tanah Air. Penting adanya penerapan TI yang handal untuk mengintegrasikan seluruh stakeholder itu dalam satu platform yang terintegrasi. Itulah yang sudah dilakukan PT Kimia Farma (Persero) Tbk dengan transformasi digital untuk memperkuat bisnisnya.
Proses Bisnis di Kimia Farma
Kimia Farma, BUMN di bidang healthcare, menerapkan 2 strategi dalam menjalankan tranformasi digital, pertama, Digital Business Optimization dengan menambahkan nilai yang siginifikan tanpa merubah bisnis model. Tujuannya, meningkatkan produktivitas dan pendapatan serta memberikan pengalaman pelanggan yang lebih baik. Caranya, menerapkan SAP Business Intelligence, IoT di pabrik dan jaringan distribusi, dan menggunakan aplikasi LacaQ dan memanfaatkan big data.
Kedua, menggunakan metode Gartner tahun 2017, menjalankan Digital Business Transformation untuk menghasilkan sumber pendapatan dan bisnis model baru. Tujuannya, mendapatkan penghasilan dari produk dan layanan baru. Caranya, memanfaatkan big data, berbagai solusi dan aplikasi, serta memanfaatkan API dari digitalisasi data di jaringan perusahaan.
“Dengan kedua strategi itu, maka Kimia Farma membangun Health Information Exchange (e-Health Hub) yang mengintegrasikan seluruh stakeholder dalam satu platform yang terintegrasi. Semua dapat menggunakan data atau informasi yang ada di platform ini sesuai kebutuhannya masing-masing,” kata Ferro Armando, Manager IT Kebijakan, Perencanaan, dan Tata Kelola PT Kimia Farma (Persero) Tbk., di sesi Presentasi dan Wawancara dengan Dewan Juri TOP DIGITAL Awards 2019, di Jakarta, 21 Oktober 2019.
Mereka adalah: penyedia layanan kesehatan (dokter, rumah sakit dan klinik, laboratorium, dan apotik), para suplier, lembaga pemerintah di bidang kesehatan (Depkes, BPJS, dll), perusahaan asuransi pemerintah dan swasta, asosiasi profesional (IDI, IAI, dll), lembaga keuangan (perbankan BUMN dans swasta). Implementasi e-Health Hub berupa solusi: e-Hospital (HIS), e-Clinic, e-Puskesmas, e-GP, e-Apotek, e-SCM, e-Claim, dan Telemedicine.
Hasilnya, pertama, ada digital engagement yaitu seluruh proses operasional di Kimia Farma dari hulu ke hilir dan antar entitas telah terdigitalisasi dan dapat diakses menggunakan perangkat bergerak (operational mobility). Dengan ini tercipta Community Loyalty mulai dari 13 pabrik, jaringan perdagangan dan distribusi (gudang, suplier) yang berjumlah 48, 1.300 apotik dan 54 laboratorium diagnostik, 509 klinik, hingga ke end user (dokter, RS, pasien).
Kedua, terjadi Retail Revolution karena data dan informasi yang dihasilkan dari setiap proses operasional itu dialirkan dan diproses untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses operasional itu sendiri.
Internet of Things di Kimia Farma
Dijelaskannya bahwa Kimia Farma juga telah membangun Internet of Things (IoT) untuk meningkatkan efisiensi dari perangkat-perangkat yang ada di pabrik dan memudahkan monitoring. Contohnya, saat memproduksi satu jenis obat ada mesin yang mengatut kadar pH, kelembaban, dan kemurnian air. Data-data itu dialirkan lewat server gateway masuk ke server IoT platform untuk diolah. Informasi atau data itu kemudian dialirkan ke dalam platform terkait, seperti SAP dan EBR dan big data. Hasil pengolahannya ditampilkan lewat IoT Dashboard yang digunakan untuk menghitung biaya cost produksi dan mengetahui efisiensi di setiap divisi perusahaan.
Integrasi Big Data
Seluruh data yang dihasilkan di Proses Bisnis dan Proses IoT itu, dialirkan ke Big Data untuk diproses lebih lanjut. Data-data itu berasal dari pabrik, distributor, para sales, apotik dan klinik, dokter dan rumah sakit, dan medical respresentative. Hasil pengolahan Big Data kemudian ditampilan lewat Dashboard dan Reporting, berupa informasi untuk manajemen Kimia Farma, seperti: persediaan (stocks), pemesanan (orders), pangsa pasar (market share), dan perkiraan kebutuhan dari pasar (demands forecasting). Ini disebut Unified Communication.
Kontribusi Transformasi Digital
Dari sekian banyak keberhasilan proses transformasi digital di Kimia Farma, ada tiga yang dinilai membanggakan. Pertama, sistem track & trace untuk membantu melacak alur distribusi dan keaslian obat, dengan QR barcode dan aplikasi LacaQ. Ini untuk menghindari pemalsuan obat yang sangat merugikan. Kedua, penerapan e-Procurement sehingga perusahaan mendapat harga yang kompetitif untuk proses pengadaan bahan baku dan layanan. Ketiga, Go Green yaitu pengurangan penggunaan kerta yang didapat dari penerapan e-Office berupa nota dinas elektronik, absensi online, cuti online dan SPPD online.
Lainnya, berupa manfaat yang intangible atau tidak terlihat berupa: meningkatnya pengalaman pelanggan, monetisasi aset-aset digital, digitalisasi produk dan layanan, berjalannya Platform Business, diperolehnya industri baru dan revenue secara yoy Juni 2019 meningkat sekitar 18,78 persen. Juga, meningkatkan produktivitas dan optimalisasi persediaan barang atau bahan baku.














