Untuk meningkatkan produktifitas on farm serta mewujudkan best agricultural practices, PTPN X mengimplementasikan sistem e-farming yang merupakan sistem pengelolaan on-farm berbasis android dan web.
Direktur Operasional PTPN X, Aris Toharisman dalam wawancara penjurian TOP DIGITAL Awards 2019 di Jakarta, Selasa (29/10) menuturkan implementasi e-farming merupakan salah satu upaya dari PTPN X untuk menghadapi persaingan di era industri 4.0 serta memacu produktifitas para petani gula.
“Permasalahan besar di industri gula adalah produktivitas (on-farm). Sisi on-farm ini banyak faktor yang mempengaruhi seperti kesuburan tanah, ketersediaan tenaga kerja, ketidaksesuaian antara varietas tebu dengan lokasi pertanian yang tersedia, sistem irigasi dan penerapan teknologi. Ekspektasi kita e-farming yang kita kembangkan ini bisa menjawab permasalahan permasalahan itu,” kata Aris.
E-farming merupakan aplikasi pendaftaran lahan dan monitoring kemajuan pekerjaan kebun melalui web dan mobile application (android) yang didukung dengan teknologi GIS dan satelit. “Kita mengembangkan aplikasi ini sejak tahun 2012 dengan nama SIMBUN atau Sistem Informasi Kebun. Lalu di tahun 2016 menjadi e-farming versi 1.0. Dan tahun lalu sudah mengalami penyempurnaan jadi e-farming versi 2.0,” ujar Aris.
Menurut Aris, implementasi e-farming setidaknya memiliki 6 manfaat yaitu: pertama, kemudahan registrasi lahan dan petani di beberapa pabrik gula (semua permintaan kontrak divalidasi oleh ID card. Kedua, kemudahan dalam melacak dan mengenali data lahan terdaftar (fitur untuk mengidentifikasi lahan petani terdekat secara real time). Ketiga, kemudahan berkomunikasi antara petani dengan petugas dari pabrik gula. Para petani yang sudah teregistrasi bisa mengakses informasi tentang lahannya dan berkomunikasi dengan petugas pabrik gula melalui aplikasi e-farming 1×24 jam.
Keempat, keakuratan verifikasi lahan untuk menghindari overlapping area. Kelima, menyediakan data makro dari lahan dan administrasi mulai dari data administrasi sejak musim tanam, varietas, kategori, bulan tumbuh, hingga tipologi tanah. Terakhir, kemudahan monitoring lahan lewat aplikasi.
“Untuk sistem monitoring kita juga menggunakan drone untuk pengolahan data citra dari hasil foto udara. Dengan memanfaatkan drone, satu kali pengamatan/terbang mampu meng-cover areal rata-rata seluas 25 hektar secara utuh. Hasil dari foto udara kemudian diolah dan dianalisis secara tematik apakah ada petak yang beralih komoditi atau beralih fungsi lahan serta untuk melihat homogenitas pertumbuhan tanaman yang digunakan sebagai dasar perkiraan potensi produksi,” papar Aris.
Aris menyebut, pengimplementasian e-farming sejauh ini dinilai terbukti sukses meningkatkan produktifitas dan bahkan mendongkrak kinerja perseroan. Ini terbukti dengan PTPN X menjadi satu-satunya dari 7 PTPN gula yang mengalami keuntungan di tahun lalu.
Tercatat, PTPN X berhasil memproduksi 336.259 ton gula dengan tebu digiling sebesar 4,1 juta ton tebu. Produksi 2018 ini membuat PTPN X kembali menjadi produsen gula terbesar di Indonesia dengan kontribusi 15% terhadap produksi gula nasional. Dari kinerja keuangan pada tahun 2018, PTPN X berhasil membukukan laba sebesar Rp 105,68 Miliar yang diperoleh dari total pendapatan sebesar Rp 2,597 Triliun. Angka tersebut melampaui Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2018 yang ditargetkan sebesar Rp 104 Miliar.
“Karenanya di tahun lalu holding PT Perkebunan Nusantara secara resmi mengadopsi sistem e-farming kita dan mengintruksikan agar semua PTPN gula ikut mengimplementasikannya. Harapannya semua 7 PTPN gula juga bisa meningkatkan produktifitas on farm-nya dan bisa mendukung industri gula nasional,” tutur Aris.
Beberapa tahapan pengimplementasian telah dilakukan oleh PTPN X selaku role model dan implementator sejak awal Juli 2018 yang lalu. Tahapan tersebut yakni overview e-farming, penyusunan Business Blue Print & Key User Training, End User Training, hingga penyesuaian aplikasi dengan level korporasi Holding Perkebunan. Nantinya, akan ada 2.700 user di 7 PTPN Gula yang akan mengoperasikan e-Farming ini.
Penulis: Abi Abdul Jabar














