Jakarta, Itech- Nanoteknologi dalam perkembangan baterai lithium (li-ion) melibatkan aplikasi khususnya dalam peningkatan energi efesiensi yang diklaim mampu menyimpan energi tinggi per satuan volume. Terkait perkembangannya saat ini Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) telah berhasil menguasai teknologi baterai padat lithium yang merupakan salah satu alat penyimpan energi tercanggih saat ini.
Apalagi, baterai menjadi kebutuhan utama yang akan bersinar pada masa depan terutama untuk kebutuhan mobil listrik, teknologi gadget portable dan perangkat nirkabel maupun dunia medis. Kepala BATAN, Djarot Wisnubroto, mengungkapkan pemanfaatan teknologi nano sudah diterapkan untuk mendukung green ekonomi maupun green energy sangatlah erat. Melalui nanoteknologi, suatu material dapat didesain dan disusun dalam orde atom per atom atau molekul per molekul.
“Peran material energi dan material padat ionic sangatlah penting, khsusunya di dalam pengembangan sumber energi baru dan terbarukan. Pengembangan baterai lithium untuk kendaran listrik dan peralatan elektronik sudah menjadi kebutuhan dunia,” kata Djarot disela Konferensi Internasional Materials Sains dan Teknologi atau International Conference on Materials Science and Technology 2014 (ICMST 2014) bertema Innovation in Advanced Materials for Better World, di Gedung DRN, Puspiptek, Serpong, (13/10).
Dalam kesempatan itu juga BATAN mengadakan pekan sains internasional yang terdiri dari tiga kegiatan sekaligus pada 13-17 Oktober yakni konferensi internasional material dan teknologi, riset bersama mengenai baterai, dan “AONSA Scattering Neutron School”. Tujuannya untuk edukasi kepada peneliti muda di kawasan Asia dan Oceania untuk belajar mengenai hamburan neutron untuk material.
Dilanjutkan, baterei lithium adalah baterei yang digerakkan ion metal lithium (rumus kimia Li). Teknik neutron atom ringan maka lithium dan hidrogen dapat diidentifikasi. Pasalnya, teknik neutron bisa mengetahui pergerakan lithium dan selanjutnya bisa di modifikasi. “Dengan teknik neutron atom yang ringan seperti lithium dan hydrogen dapat di identifikasi. Lain halnya dengan hamburan sinar-X. Dalam penelitian baterai lithium, teknik nuklir tak dapat tergantikan,” ujar Peneliti utama Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Prof Evy Kartini.
Batan sendiri telah berhasil memproduksi baterai dalam skala laboratorium yaitu prototype baterai pouch, yang berbentuk persegi dan baterai cylinder ukuran 18650. Sedangkan dalam skala produksi massal dilakukan LIPI. Pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp100 miliar untuk pengembangan dan produksi baterai yang akan digunakan untuk mobil listrik itu. Batan mendapatkan dana sebesar Rp20 miliar untuk pembuatan laboratorium dan pengembangan baterai, sedangkan LIPI mendapat Rp80 miliar untuk produksi.
“Yang menjadi persoalan, dalam memproduksi baterai belum ditemukannya sumber Lithium, yang berasal dari batuan, karbonat, dan air laut,” kata Peniliti BATAN, Edy Giri Rachman Putra. Sekedar diketahui, sejak diperkenalkan oleh Sonny pada 1990, teknologi baterai lithium berkembang sangat pesat dan telah menggantikan teknologi baterai sebelumnya yang berbasis Ni-Cd dan lead-Acid. Keuntungan dari baterai lithium karena mempunya energi densitas yang lebih tinggi, lebih ringan dan lebih tahan lama, dan dapat diisi ulang. (ju/red)














