Berdiri sejak tahun 2018, Tjetak merupakan perusahaan teknologi yang diprakarsai oleh tiga alumni Universitas Indonesia, yaitu Anggara Pranaspati, Raffisal Damanhuri, dan Hasandi Patriawan.
“Kami melihat bahwa industri kemasan memiliki beberapa pain points, misalnya proses untuk mendapatkan harga membutuhkan waktu yang lama serta spesifikasi rumit. Selain itu, proses desain kemasan yang tidak tepat juga dapat menimbulkan kerugian, baik secara harga maupun produk. Terakhir, proses produksi kemasan tidak berjalan transparan sehingga dapat mengganggu waktu produksi yang sangat vital bagi semua pelaku bisnis,” jelas Anggara Pranaspati, dalam siaran pers, 25/8..
Tjetak kemudian hadir melayani klien dengan menawarkan kombinasi kecanggihan teknologi dan keahlian dalam kemasan. Misalnya, dalam proses permintaan harga, terdapat teknologi Tjetak Pricing Engine yang dapat mengkalkulasi harga hingga 70 persen lebih cepat dibandingkan prosedur konvensional.
“Tjetak juga menawarkan efisiensi harga hingga untuk berbagai jenis kemasan dan membantu klien dalam proses pengembangan kemasan yang tepat untuk produk mereka,” tambah Angga.
Selama dua tahun berdiri, Tjetak berhasil mengembangkan bisnisnya dengan melayani klien-klien dari berbagai jenis industri. Di segmen FMCG misalnya, Tjetak menjadi penyedia kemasan bagi PT. Enzym Bioteknologi Internusa (produk pasta gigi), juga untuk industri F&B, e-commerce, logistik, dan farmasi dengan skala bisnis mulai dari enterprises hingga UMKM.
“Kami awalnya memilih Tjetak sebagai packaging provider untuk kemasan pasta gigi Enzim karena mereka dapat memberikan harga yang kompetitif untuk produk SKU kami dengan kuantitas yang relatif lebih rendah dari produk SKU kami yang lain. Selain itu, menurut kami sistem Tjetak bisa memberikan waktu fulfillment kemasan lebih cepat dibandingkan provider lainnya,” ungkap Jonsen Sulaeman, Procurement Manager PT. Enzym Bioteknologi Internusa.
Baca: Tjetak Startup Kemasan Gaet Dana Segar dari Grup Temasek














