Menurut Asia Pacific SMB Digital Maturity Study tahun 2020 yang dibuat berdasarkan hasil survei UKM dari seluruh kawasan Asia Pasifik yang dilakukan oleh International Data Corporation (IDC) sesuai penugasan dari Cisco, terdapat empat tingkatan kematangan digital UMKM.
“Stage pertama adalah digital indifferent, lalu digital observer, digital challenger, dan yang tertinggi atau yang paling siap adalah digital native,” kata Marina Kacaribu, Managing Director, Cisco Indonesia melalui siaran virtual, Rabu, 9/9.
Digital indifferent merupakan tingkatan dimana pelaku UMKM bersifat cenderung reaktif dan berfokus ke efisiensi. Mayoritas dari proses di perusahaan masih dilakukan secara manual dengan sedikit aktivitas digital. Jumlah talenta digital pun masih belum banyak untuk terlibat di UMKM.
Digital observer, UMKM yang sudah memulai membuat perencanaan digital, dan memanfaatkan teknologi baru seperti komputasi awan, cloud.
Digital challenger, UMKM mulai lincah memanfaatkan produk digital dan memiliki strategi digital, walaupun masih berjangka pendek. UMKM di tahapan ini juga memiliki peta jalan teknologi dan mulai mengadaptasi hybrid cloud.
Terakhir, digital challenger sudah adaptif dan matang memanfaatkan segala bentuk digitalisasi untuk mendongkrak bisnisnya.
Digitalisasi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) tak lepas dari kematangan digital (digital maturity) yang mempengaruhi kesiapan UMKM di sebuah wilayah untuk memperluas bisnisnya melalui adaptasi dan penggunaan teknologi.
Menurut studi tersebut, mayoritas UMKM di Indonesia masih berada di tahapan pertama, atau lebih tepatnya di peringkat 13 di kawasan Asia Pasifik.
Namun, 82 persen UMKM di Indonesia memiliki keinginan bertransformasi secara digital agar bisa menghadirkan produk dan layanan baru ke pasar.
Hasil studi tersebut menunjukkan tiga prioritas investasi teknologi teratas untuk UMKM di Indonesia, yaitu investasi pada cloud (20 persen), diikuti oleh keamanan siber (18 persen), dan pembelian atau peningkatan perangkat lunak IT (13 persen).
Selain itu, UMKM juga menghadapi tantangan lainnya. Menurut para responden, kurangnya bakat terampil (20 persen) dan kurangnya wawasan tentang pelanggan dan data operasional (17 persen) adalah dua kendala terbesar yang UMKM hadapi.














