Menanggapi tingginya kebutuhan pokok selama pandemi, Bukalapak telah memperluas jangkauan Bukamart ke 90 kota di seluruh Indonesia dan menggandeng toko-toko offline untuk bergabung dan mempermudah akses bagi pengguna dalam membeli barang-barang kebutuhan sehari-hari, terutama di masa pandemi ini.
Bisnis Bukalapak lain, yakni BukaPengadaan yang diluncurkan sejak tahun 2017 sebagai salah satu core business Bukalapak untuk mendukung UMKM saat ini juga berada di pasar permintaan yang lebih besar, mencatatkan pertumbuhan yang menggembirakan dengan pertumbuhan jumlah buyer sebesar lebih dari 48% dan lebih dari 32% seller sejak Januari hingga Agustus 2020.
Selain alat-alat industrial maintenance, repair dan operation (MRO) dalam pola kenormalan baru seperti masker, desinfektan, APD & rapid test, maka kebutuhan voucher listrik, pulsa, dan voucher belanja, smartphone dan laptop, serta pendukung gaya hidup seperti sepeda dan alat-alat kesehatan menjadi daftar kebutuhan teratas korporasi atau pemerintah yang dipenuhi oleh para pelaku UMKM.
Baca: Inilah Produk Virtual Unggulan dari Bukalapak untuk Mendukung Inklusi Keuangan
Dalam siaran pers, 11/9, CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin menjelaskan Bukalapak mencatatkan pertumbuhan Total Processing Value (TPV) secara signifikan dari kuartal I 2018 hingga kuartal II 2020, sebanyak hampir 400%. Capaian ini didominasi oleh transaksi yang berasal dari kota-kota di luar tier 1 dan pertumbuhan market share yang tetap stabil walau di masa pandemi.
Pengguna Bukalapak yang berasal dari berbagai latar belakang ekonomi dan tidak hanya dari kota-kota besar ini menunjukkan keberhasilan upaya perusahaan teknologi unicorn asal Indonesia ini menciptakan dampak ekonomi yang menyeluruh dan menciptakan pola perilaku di masyarakat yang memanfaatkan keberadaan marketplace dan teknologi sebagai bagian dari aktivitas ekonomi.
Baca: Strategi Bukalapak untuk Ciptakan Keadilan Ekonomi dan Tumbuh Berkelanjutan














