Jakarta, ItWorks – Sebagai bentuk kepedulian sosial bagi pelaku UMKM, Qasir menginisiasi kampanye #JagaUMKM. Kampanye besutan karyawan Qasir ini diluncurkan sebagai bentuk kepedulian terhadap usahawan mikro yang terdampak pandemi agar bisa tetap begairah memasarkan produknya dengan masuk ke ekosistem digital.
Dengan berlakuknya tatanan new normal (kehidupan baru), moment ini juga telah mendorong pertumbuhan transaksi digital, penggunaan internet, serta aktivitas bisnis yang beralih menjadi serba online. Hal ini mau tidak juga mau menuntut semua pelaku usaha untuk bertransformasi atau menyesuaikan diri ke ranah digital.
Melalui kampanye ini, para pelaku UMKM didorong untuk mulai masuk ke ranah binis secara digital. Apalagi di tengah pandemi Covid-19, masyarakat juga sudah mulai beralih ke online untuk meminimalisir kontak fisik. “Inisiatif ini kami pandang strategis untuk mewadahi ikhtiar orang-orang yang mungkin kehilangan pekerjaan, lalu putar haluan jadi usahawan, ataupun usahawan yang tengah berjuang melawan ancaman gulung tikar. Kami harap ini bisa meringankan beban mereka dan bersama-sama pulih dari situasi sulit,“ papar CEO Qasir, Michael Williem melalui siaran pers (22/09/2020), di Jakarta.
Tercatat saat ini terdapat lebih dari 2.500 merchant atau usahawan yang telah terdaftar di website www.jagaumkm.com. Sebesar 52% merupakan usahawan makanan dan minuman (F&B), 9 % usaha minimarket/toko kelontong, dan 39 % usaha lainnya (butik, toko elektronik, kesehatan). Persebaran area merchant yang paling banyak berasal dari DKI Jakarta, Banten, Bekasi, Depok, dan Surabaya.
Michael juga menyadari sebagian besar usahawan mikro Qasir memiliki keterbatasan literasi produk digital sehingga Qasir tidak hanya menawarkan layanan kepada mitranya melainkan juga edukasi dan sosialisasi. ”Sebisa mungkin kami dekat dengan merchant dan tanggap atas pertanyaan-pertanyaan mereka. Kami memiliki tim Customer Success Manager yang selalu siap mendampingi usahawan yang baru bergabung dengan Qasir. Qasir juga menyediakan banyak ruang edukasi dan konsultasi bagi merchant, seperti kolom Tanya-Jawab (FAQ), tutorial via Youtube, pertemuan online/offline EduQasir, sampai pembuatan beberapa grup pengguna di platform WhatsApp dan Telegram. Pembuatan grup WA usahawan ini misalnya, ternyata sangat diminati, sampai-sampai dibentuk lagi Komunitas Usahawan Qasir yang organik atas inisiatif merchant sendiri,” jelas Michael.
Disebutkan, sebagai aplikasi yang fokus membangun ekosistem ramah bagi usahawan dari berbagai skala, Qasir tetap mempertahankan fitur-fitur gratis meski menghadirkan juga fitur-fitur berbayar. Namun berbeda dengan aplikasi point-of-sale lainnya, fitur berbayar Qasir dijual secara satuan dengan harga yang sangat terjangkau.
Qasir menyebut konsep ini dengan pay-as-you-grow. Di antara fitur premium tersebut adalah fitur “Kelola Diskon” dan “Tiket Pesanan” yang dibandrol dengan harga hanya Rp15.000 (sekali bayar untuk pemakaian selamanya). Ada pula fitur untuk kebutuhan lain yang lebih kompleks dan canggih seperti “Website Usaha” dan fitur “Absensi” dengan konsep subscription / berlangganan.
Tersedia model bisnis freemium atau pay-as-you-grow ini telah dirancang dengan cermat dengan tujuan agar pengguna bisa memilih sendiri fitur yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan tipe dan fase usahanya pada saat itu. Sehingga dengan konsep ini, juga berguna bagi para usahawan yang baru memulai bisnisnya namun ingin segera mendapat value dari produk Qasir secara instan tanpa biaya yang mahal. (AC)














