Agar Indonesia dapat segera mengadopsi jaringan 5G di masa datang, pemerintah sedang mempersiapkan berbagai hal, mulai dari infrastruktur hingga ekosistem.
Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kominfo, Ismail, dalam webinar “Unlocking 5G Potential for Digital Economy in Indonesia”, Kamis, 24/9 mengatakan, “Infrastruktur untuk jaringan 5G bukan hanya mengenai last mile, namun juga soal ketersediaan jaringan baik di backbone maupun back haul agar bisa mendapatkan dan memanfaatkan jaringan yang berkualitas.
“Kami sedang bekerja, tinggal di ujung yaitu implementasi last mile menunggu spektrum frekuensi, yang akan kita rilis pada saatnya,” ungkapnya.
Ismail berpendapatuntuk spektrum yang ideal bagi 5G,operator seluler sebaiknya memiliki spektrum yang lengkap mulai dari low band, middle band dan high band.
Sayangnya, Ismail mengungkap bahwa ketersediaan spektrum frekuensi saat ini masih mengalami kendala, salah satunya adalah frekuensi low band 700MHz yang digunakan siaran televisi analog.
Ia mengharapkan setelah Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja ditetapkan sebagai undang-undang, maka migrasi siaran analog ke digital bisa ditetapkan periodenya sehingga frekuensi 700MHz bisa digunakan.
Sementara itu, berkaitan dengan ekosistem jaringan 5G, kementerian mengharapkan perusahaan rintisan bisa mulai menyiapkan produk dan layanan yang berbasis jaringan 5G agar ketika teknologi tersebut diadopsi, Indonesia memiliki produk lokal.
“Ketika 5G siap, diisi aplikasi lokal yang bermanfaat buat nasional dan kita jd tuan rumah,” harap Ismail.
Menurut Ismail, Indonesia perlu menyiapkan kebijakan untuk implementasi jaringan 5G, termasuk di dalamnya regulasi untuk industri, model bisnis dan uji coba teknis untuk 5G.














