Jakarta, ItWorks- PT Jakarta International Container Terminal (JICT) sebagai pelabuhan peti kemas tersibuk di Indonesia, terus berupaya meningkatkan layanan berskala internasional (world class port services) dengan dukungan digital technology. Upaya ini dilakukan juga dalam rangka mewujudkan layanan pelabuhan yang makin smart berbasis digital (smart port), termasuk dalam hal transaksi dan pembayaran yang bersih, bebas pungli.
Di era konvergensi digital, PT JICT sebagai pengelola pelabuhan peti kemas terbesar di Indonesia, juga banyak melakukan inovasi transformasi digital, baik sistem manajemen maupun operasional dalam kaitan layanan pelanggan. Seperti untuk pertukaran data dan informasi permohonan layanan peti kemas secara online, trucking system untuk layanan pengangkutan peti kemas, bingkar muat dan lainnya. Hal ini sejalan dengan komitmen perusahaan untuk menjadikan JICT sebagai Terminal Peti Kemas pilihan utama di Indonesia dengan memanfaat kemajuan teknologi informasi yang dapat di andalkan oleh pengguna jasa.
Salah satu yang kini jadi fokus dari digitalisasi yakni pengembangan ekosistem transaksi dan pembayaran digital (ekosistem digital payment). Hal ini juga sebagai respons JICT terhadap kebutuhan layanan berbasis digital yang kian meningkat di masa pandemi Covid-19, utamanya dalam hal transaksi dan pembayaran digital.
“Memanfaatkan momentum ini, JICT berupaya mengakselerasi terbentuknya ekosistem digital payment (pembayaran digital) agar lebih solid. Di antaranya kami lakukan melalui sinergi dengan pihak lain, seperti bank agar akselerasinya bisa lebih ditingkatkan. Selain untuk akselerasi, upaya ini juga untuk mempermudah proses transaksi secara non-tunai yang aman dan efektif bagi pengguna jasa JICT, termasuk pada fase new normal ini, di mana kebutuhan layanan transaksi electronic ini juga makin tinggi,” ungkap Aris Hikmat, Senior Manager ICT PT JICT, didampingi Indira Gita Lestari, Manager Corporate Affair JICT, saat presentasi dan wawancara penjurian “Top Digital Awards 2020” yang berlangsung yang berlangsung belum lama (secara virtual yang dihelat Majalah ItWorks bekerjasama dengan Konsultan Independent, dan didukung sejumlah Asosiasi TI & TELCO Indonesia, di Jakarta.
Ditambahkan, terkait ekosistem digital payment ini, ada beberapa fitur yang bisa makin memudahkan layanan. Di antaranya ada billing secara online dan real time bekerjasama dengan beberapa Bank ternama.Terdapat juga layanan pencetakkan Gate Pass secara online menggunakan QR Code Scanner. Layanan Assign Truck secara online bekerjasama dengan aplikasi 3rd Party. Sehingga bisa mengurangi antrian pengguna jasa di loket-loket pembayaran, sekaligus juga bisa cost efficiency.
Sebagai pendukung, juga terdapat aplikasi digital untuk Document Tracking sebagai solusi penerimaan dokumen penagihan invoice. Aplikasi berbasis web ini juga memudahkan vendor untuk mengurus atau menagih pembayaran atas jasa atau barang yang telah diberikan. “Bagi perusahaan, ini sangat bermanfaat untuk mendukung terwujudnya Good Corporate Governance (GCG) dengan sistem layanan yang bersih dan transparans. Sebab tidak perlu lagi harus face to face sehingga memudahkan, baik bagi perusahaan maupun pengguna jasa,” ujarnya.
Selain digitalisasi terkait ekosistem payment, JICT tahun ini juga fokus untuk penguatan infrastruktur digital seperti sistem layanan dokumen untuk mendukung implementasi kebijakan penataan ekosistem logistik nasional. Terutama dari sisi JICT sebagai operator atau penyelenggara pelabuhan peti kemas.
Sebagaimana diketahui dalam rangka meningkatkan kinerja logistik nasional, memperbaiki iklim investasi, dan meningkatkan daya saing perekonomian nasional, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menandatangani Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2020 tentang Penataan Ekosistem Logistik Nasional pada tanggal 16 Juni 2020. Salah satu point dari kebijakan ini, yakni penataan layanan kepelabuhanan terkait distribusi barang agar terintegrasi dengan sistem ekosistem logistik nasional melalui Indonesia National Single Window (INSW). Termasuk sistem perizinan dan layanan dokumen ekspor- impor yang terintegrasi untuk kelancaran distribusi barang.
“Kebijakan ini hampir memiliki kesamaan urgensi dari sebelumnya, yakni Indonesia National Single Window (INSW) dalam kaitan penimngkatan daya saing dan sistem logistic nasional. Dalam hal ini, peran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) memang sangat besar sebagai enabler dan katalisator yang signifikan untuk mengintegrasikan dan mendukung e-logistik nasional ini,” ungkapnya.
Solusi Inovasi di Masa Pandemi
Terkait digitalisasi, di masa pandemi ini JICT juga melakukan berbagai inovasi, di antaranya modul Work From Home (WFH) bebasis teknologi informasi, aplikasi Absen Online, Aplikasi Document Tracking, Solusi Video Conference (Online Meeting), dan beberapa lainnya.
Modul WfH terutama dengan menyediakan tools dan aplikasi untuk melakukan pekerjaan dari rumah masing-masing sesuai aturan/protokol kesehatan pandemi COVID-19. Fitur unggulan CISCO VPN Client, CISCO Webex Meeting and Zoom dan Whatsapp. Selain itu juga ada aplikasi Employee Self Service (ESS), sehingga mereka tetap bisa produktif di tegah pandemi Covid-19 ini.
Sebagai dukungan untuk kineraja di era new normal, juga dihadirkan aplikasi absen online berbasis marketplace (web based), dalam melakukan perekaman kehadiran karyawan. Terutama sebagai tools untuk memantau kinerja karyawan jarak jauh, kerja shift dan sistem WFH. “Aplikasi absensi secara online ini kita kembangkan dengan menggunakan teknologi feature perekaman wajah /face dan Geo location recognize menggunakan smartphone, sehinga bisa real time dan akurat. Absensi ini juga terintegrasi dengan payroll dan HR system,” ujarnya.
Ditandaskan, memasuki era era industri 4.0, digitalisasi adalah keniscayaan yang harus hadir setiap lini, termasuk industri jasa layanan pelabuhan yang dikenal dengan digital port. Terutama untuk meningkatan kinerja dan produktivitas layanan kepelabuhanan sebagai subsistem dari sistem logistik nasional, agar daya saing Indonesia malkin tinggi. (AC)














