Gebrakan Telkom yang Kini Beralih dari Paradigma IT ke Digital

Penulis Fauzi

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang jasa layanan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan jaringan telekomunikasi di Indonesia.

Mengusung tema paparan ‘Indonesia Digital Future’, perusahaan yang memiliki visi’ menjadi digital telco pilihan utama untuk memajukan masyarakat’ itu, kini beralih dari paradigma IT menjadi paradigma Digital. Hal itu seperti diungkap Rizal Akbar, Vice President of IT Strategy and Governance Telkom pada sesi Presentasi dan Wawancara dengan Dewan Juri TOP DIGITAL Awards 2020 secara online yang diselenggarakan majalah IT Works.

Gelar Fiber Optik 4x Keliling Bumi
Sejalan visi dan paradigma baru yang diusungnya, guna memberikan layanan kepada masyarakat luas, dari sisi infrastruktur Telkom telah merambah wilayah Tanah Air dari Sabang sampai Merauke. Dalam hal ini Telkom telah menggelar fiber optik sepanjang 166.343 km.

“Kita sudah menggelar (fiber optic) dari Sabang sampai Merauke, ini posisinya kalau dilihat kira-kira empat kali keliling bumi fiber (yang) kita gelar. Jadi, kami bisa mengklaim sebagai the biggest infrastructure fiber di Indonesia,” ungkap Rizal.

Tidak hanya Indonesia, Telkom yang kini sudah menjadi digital hub, juga telah menghubungkan wilayah di benua lain, seperti ke Eropa lewat SEA-ME-WE dan ke Amerika lewat SEA-US. Pun dari sisi teknologi, di mana Telkom sudah mengadopsi teknologi yang ada di telekomunikasi.

“Seluruh teknologi yang ada di telekomunikasi sudah kita deploy, baik itu fiber, satellite, mobile, kemudian yang terbaru adalah kita juga sudah bermain juga ke digital, (dengan) mulai fokus membangun data center yang hyperscale,” ujar Rizal yang juga mengungkap bahwa perusahaan sudah mulai membangun digital platform.

High Maturity Level
Sebagai perusahaan telko dengan layanan yang sangat luas, Telkom tentu memiliki master plan, termasuk yang berkaitan dengan teknologi informasi. Dalam hal ini, Telkom telah menggabungkan antara master plan yang related dengan IT, Connectivity, dan Services.

Sementara dari mengelola kebijakan IT, seperti dikatakan Rizal, Telkom mengacu pada framework global practice. “Jadi, kalau tata kelola teknologi informasi secara kebijiakan umum itu referensinya adalah COBIT (Control Objective for Information and related Technology). Kemudian tata kelola keamanan informasi itu referensinya adalah ISO 27000,” ujar Rizal.

Selanjutnya, untuk tata kelola data, Telkom menerapkan Data Management. Adapun untuk hal yang terkait dengan Kebijakan Portal Kolaborasi Elektronik, Telkom juga sudah membuat aturan-aturan lengkap untuk memastikan eksekuusinya terkelola dengan baik.

Dari sisi human capital, Telkom menerapkan apa yang disebut pengelolaan talent dan competence building yang berorientasi pada talent-talent digital. Dalam hal ini, Telkom juga telah memastikan human capital-nya tersertifikasi dari lembaga yang bersifat global (world class) seperti CISA, CGEIT, dan seterusnya.

Hebatnya, dari segi Maturity Level, berdasarkan Gartner IT Score Assessment for CIO, Telkom telah menempati status High Maturity Level. “Secara maturity level kalau mengikuti framework-nya Gartner, kita dapat score 4 plus (4,2 dengan skala 5),” jelas Rizal.

Solusi Unggulan
Selain hal menarik yang telah tersaji di atas, hal lain yang tidak luput dari garapan Telkom adalah solusi bisnis yang telah banyak dihasilkan oleh perusahaan ini. Misalnya, untuk mengatur bagaimana interaksi perusahaan dengan pelanggan, Telkom memiliki apa yang disebutnya sebagai Customer Experience Management (NCX/New Customer Experience). Sementara untuk memonitor dan mengontrol asset telekomunikasi Telkom melalui NOSSF. Telkom juga sudah punya TiBS (Telkom Integrated Billing System). Nah ketiga solusi tersebut tercakup dalam kategori Business Transformational.

Untuk kategori Internal Bussines Collaboration, Telkom juga telah memiliki sejumlah solusi, antara lain Portal Telkom sebagai media internal berbagai informasi dan sarana kolaborasi, Nota Dinas Elektronik sebagai media surat-menyurat kedinasan, dan Diarium sebagai sosial media dan online avatar yang bermanfaat untuk melakukan absensi, sharing tracking pekerjaan dan sebagainya.

Dari kategori SInergi BUMN, Telkom telah mengembangkan sejumlah solusi, satu di antaranya adalah Digitalisasi SPBU Pertamina. “Belum selesai memang, tetapi prinsipnya adalah bagaimana kami mendigitalisasi seluruh SPBU nasional, ada 5518 SPBU. Jadi, berapa liter yang keluar, berapa yang bersubsidi berapa yang tidak itu secara real-time masuk ke desk-nya Pertamina dan Kementerian Energi untuk memonitor bagaimana pemerintah melakukan subsidi,” tandas Rizal.

Dua perusahaan BUMN lain yang proses digitalisasinya mendapat dukungan dari Telkom adalah Jasa Marga dan Kimia Farma. Di Jasa Marga, Telkom menjadi bagian penting dari sistem e-Tol. “Kemudian di Kimia Farma, ERP-nya juga kami yang membantu,” singkatnya.

Berlanjut ke solusi lainnya, Telkom juga telah membuat PaDI UMKM (Pasar Digital UMKM) sebagai portal B2B yang menjembatani kebutuhan BUMN dengan suplai UMKM. Adapun dari kategori Customer Engagement, Telkom menawarkan aplikasi MyIndiHome dan MyTDS (Telkom Digital Solution).

Tidak ketinggalan, untuk solusi bisnis di era New Normal, Telkom telah mengembangkan sejumlah solusi, seperti Portal Kolaborasi Elektronik, WinDigital yang merupakan portal internal untuk tanda tangan digital secara kolaboratif. Adapun untuk solusi lainnya, Telkom juga telah membesut aplikasi UMeetMe yang tak lain adalah tool untuk online video conference. Satu lagi solusi yang berkaitan dengan era new normal dan tergolong cukup populer adalah aplikasi PeduliLindungi yang merupakan online tracking tools untuk Covid-19. (Fauzi)

BACA JUGA

Leave a Comment