Hakaaston Pakai ERP untuk Jadi Perusahaan Manufaktur Konstruksi Terkemuka di Indonesia

Penulis redaksi

Penulis: Teguh Imam S.

Dalam beberapa tahun terakhir, PT Hakaaston, anak perusahaan dari PT Hutama Karya (Persero), telah melakukan ekspansi usaha dengan cara backward integration, vertical integration, dan forward integration. Tujuannya untuk menciptakan keunggulan kompetitif di pasar eksternal dan mengoptimalkan sinergi internal dengan HK Group.

Eskpansi Hakaaston secara kuantitatif menimbulkan gap (kesenjangan) antara kebijakan, infrastruktur dan budaya digital. Sehingga Hakaaston memutuskan untuk menerapkan Tranformasi Digital yaitu mengoptimalkan pemanfaatan teknologi-informasi (TI) dalam operasional perusahaan, salah satunya dengan menerapkan ERP SAP, mulai Februari 2020.

Tranformasi Digital di Hakaaston juga untuk mendukung visinya “Menjadi Industri Manufaktur Pendukung Konstruksi Terkemuka di Indonesia.”

Demikian disampaikan Dindin Solakkhudin, Direktur Utama, PT Hakaaston saat Penjurian TOP DIGITAL Awards 2020 secara online, 26/11/2020.

Milestones Hakaaston

Dalam kesempatan ini, Dindin memaparkan perjalanan bisnis (milestones) Hakaaston yang ekspansif sehingga jadi salah faktor pendorong dilakukannya Transformasi Digital.

“25 November tahun 2010, PT Hakaaston berdiri sebagai anak perusahaan dari PT Hutama Karya (Persero) dengan memulai usaha dibidang Hotmix.”

“2016, berjalan 6 tahun, PT Hakaaston memperlebar bisnis usaha Precast dan Readymix dengan mendirikan pabrik precast spunpile di Bojonegara, Banten dan Batching Plant (BP) di beberapa wilayah.”

“2017, Hakaaston mendapatkan kepercayaan ikut serta dalam mensukseskan Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS) sepanjang 2.765 kilometer yang merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diamanatkan oleh Pemerintah kepada PT Hutama Karya (Persero).”

“Berbagai produk manufaktur konstruksi pendukung Hakaaston, diaplikasikan di setiap ruas JTTS,” ujar Dindin.

“2018, sejalan dengan penugasan pekerjaan JTTS dan keberhasilan penetrasi pasar retail eksternal, Hakaaston mengalami pertumbuhan pendapatan yang signifikan. Di tahun ini juga, Hakaaston merubah Visi, Misi, dan Value perusahaan serta dilakukan pengesahan RJPP.”

“Visi baru kami, “Menjadi Industri Manufaktur Pendukung Konstruksi Terkemuka di Indonesia,” terang Dindin.

“Itu semua mendukung pengembangan bisnis organik maupun anorganik untuk memperlebar sayap sebagai manufaktur konstruksi pendukung dalam menangkap captive market dan juga menjaga sustainability perusahaan,” tambahnya.

“2019 – 2020, potensi pasar JTTS yang besar dan mengalami percepatan target penyelesaian ruas tol menuntut akan kepastian ketersediaan material strategis seperti aspal, besi beton, baja dan agregat yang berkualitas. Sehingga dalam pengamanan material strategis tersebut Hakaaston mengembangkan bisnis secara organik dan anorganik untuk memperkuat backward integration.

“Hakaaston mengakuisisi PT Bhirawa Steel, perusahaan manufaktur produsen besi beton dengan mutu tinggi di Surabaya sebagai langkah strategis perusahaan menyerap kebutuhan pasar besi beton. Selanjutnya, Hakaaston mengakuisisi perusahaan produsen spesialis Readymix yakni PT Semen Indogreen Sentosa, dan perusahaan produsen spesialis konstruksi struktur baja PT Armindo Catur Pratama.”

“Ketiga perusahaan itu diakusisi tahun 2020 untuk mendukung penyerapan pasar JTTS akan kebutuhan Readymix dan material baja. Selain itu, ketiga perusahaan tersebut juga telah memiliki market eksternal tersendiri,” jelas Dindin.

“Kami juga melakukan pengembangan bisnis organik dengan mendirikan Tangki Aspal Curah (TAC) dan Stone Crusher.”

Menurut Dindin, ekspansi Hakaaston, akan terus berlanjut di tahun 2021 dengan rencana akan dilakukan pengembangan bisnis dalam bidang kimia konstruksi dan jasa pemancangan, peningkatan kapasitas unit produksi, dan fokus pada kelanjutan proyek JTTS.

“Di tahun 2022, kami akan ekspansi ke wilayah Jawa dan Sumatera dan masih fokus ke proyek JTTS dan peningkatan kapasitas.”

PT Hutama Karya Aspal Beton saat Penjurian TOP DIGITAL Awards 2020 secara online, 26/11/2020. (Dokumentasi IT Works).

Pertumbuhan Hakaaston

Dengan berbagai ekspansi itu, kini lini bisnis Hakaaston meliputi: Hotmix & Penghamparan, Readymix, Precast, Besi Beton, Guardrail, Tower, Steel Structure & Galvanizing.

“Kinerja perusahaan mulai tahun 2015 sampai 2019 lalu juga terus tumbuh yang tercermin di Laporan Neraca (Assets tumbuh 103 persen, Liabilities tumbuh 115 persen dan Equity tumbuh 74 persen); dan Laporan Rugi-Laba (Revenue tumbuh 102 persen, Gross Profit tumbuh 77 persen, EBITDA tumbuh 102 persen, dan Net Income tumbuh 112 persen),” ungkap Dindin

“Saat ini, kami mengelola fasilitas Asphalt Mixing Plant 19 Unit; Batching Plant 19 Unit; Casting Yard 10 Unit; Stone Crusher 6 Unit; Terminal Aspal Curah 3 Unit; Pabrik Precast 1 Pabrik; dan Anak Perusahaan 3 Perusahaan.”

“Untuk SDM, saat ini ada 283 orang tenaga inti yang ada di kantor,” tambahnya.

Dengan pertumbuhan eksponensial Hakaaston selama 5 tahun itu, maka memunculkan sejumlah tantangan yang harus diantisipasi manajemen secepatnya. Seperti adanya gap (kesenjangan) antara kebijakan, infrastruktur dan budaya digital. Serta kebutuhan untuk mengetahui kondisi Unit Produksi yang tersebar di sejumlah Wilayah Kerja dengan cepat.

“Maka pilihannya adalah bagaimana Hakaaston bisa melakukan Transformasi Digital secara lebih cepat. Sebagai bagian kebijakan yang harus kami jalankan. Transformasi digital ini sudah kami jalankan dalam 2 tahun terakhir,” jelas Dindin.

Transformasi Digital di Hakaaston

Dalam kesempatan ini, Misgianto, Manajer TI, Hakaaston memaparkan kepada dewan juri proses Tranformasi Digital di Hakasaaton dengan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi-informasi (TI) dalam operasional perusahaan.

“Ada 6 prinsip dasar dalam pelaksanaan Transformasi Digital, terkait pengelaan data untuk ERP,  yang kami jalankan: User Friendly atau mudah digunakan, TI bukan hanya sekedar sistem; Data dan Informasi hasil olahan sistem harus Up-to-Date agar bisa digunakan, tidak useless; Obyektif, bukan rekayasa, data apa adanya karena jadi informasi untuk bahan pengambilan keputusan; Adaptif-Regulasi, sistem terikat dengan regulasi seperti PSAK, ISO, dan WBS-sistem pengaduan; Integrated, proses kontrolnya sentralisasi di kantor pusat, sementara operasionalnya desentralisasi, ada di 30 Unit Produksi yang tersebar se-Indonesia.”

“Kemudian, perjalananan pemrosesan Data atau Hirarki, dimulai dari  Pencatatan, Proses input data ke dalam media sistem sebagai dasar dalam suatu kesatuan sistem; Monitoring, Proses pengolahan data berdasarkan pencatatan untuk mengetahui tindakan berdasarkan fenomena data yang tersaji.”

“Reporting, Proses pelaporan hasil olah data & sebagai acuan pengambilan keputusan yang tepat pada hasil pengolahan data; dan Early Warning, Sistem peringatan berdasarkan pengolahan data untuk mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan,” ujar Misgianto.

Menurutnya, proses Transformasi Digital berupa penggunaan sistem TI dalam operasional perusahaan sebenarnya sudah dimulai tahun 2018 dengan Sistem Administrasi Terpadu (SAT), sistem terintegrasi yang mempermudah transaksi yang biasanya manual menjadi digital dan otomatisasi dalam transaksi input data.

“Saat itu, sudah diimplementasikan di 2 Unit Produksi, Precast dan Hotmix. Sementara, Microsoft Excell merupakan instrument yang digunakan dalam seluruh transaksi yang ada pada PT Hakaaston dan Sistem Informasi Akuntansi Keuangan (SIAK),” terang Misgianto.

“Berlanjut tahun 2019, ada iPOP, Integrasi Pengendalian Operasi dan Produksi yang merupakan sistem untuk menunjang pengendalian operasi dan produksi.”

“MONAP, sistem monitoring dan pengendalian hutang, dan MONARP merupakan sistem monitoring dan pengendalian piutang.”

“KBM, Knowledge Base Management, sistem yang digunakan sebagai wadah segala informasi yang ada di Hakaaston. Ini termasuk Prosedur Kerja.”

Hakaaston Implementasi SAP ERP S/4 HANA

Dan puncaknya Februari 2020, Hakaaston Go-Live 6 modul SAP ERP S/4 HANA, mulai dari Kick-Off sampai Go-Live hanya dalam waktu 5 bulan. Modulnya meliputi, Sales and Distribution, Material Management, Production Planning, Financial, Controling, dan HCM.

SAP ERP S/4 HANA merupakan sistem digitalisasi tersentral yang dapat mengintegrasikan seluruh bisnis proses yang tersebar di Indonesia.

“Kami merupakan perusahaan pertama dalam industri Manufaktur Konstruksi yang menerapkan SAP S/4 Hana (Feb 2020) dan mampu secara smooth go live 6 modul dalam 5 bulan. Itu waktu yang tergolong singkat jika dibandingkan anak perusahaan Hutama Karya yang lain, dimana perlu waktu 12 bulan untuk go live,” ungkap Misgianto.

Sebagai informasi, Acara Kick Off Implementasi ERP Hakaaston digelar di ruang Komunal HK Tower, Jakarta, Sabtu (28/9/2019). Dalam acara tersebut, dilakukan pula Lauching Project SAP Hakaaston yang diberi nama BRAIN, yang merupakan singkatan dari Brave to Face Industrial Revolution with Integrated System.

Dengan BRAIN Go Live pada Februari 2020, Hakaaston siap melakukan perubahan manajemen produksi yang terintegrasi dengan seluruh unit produksi Hakaaston yang tersebar di seluruh Indonesia.

Misgianto melanjutkan, bagi Hakaaston, tahun 2018-2020 merupakan tahun transformasi digital dan sebagai persiapan memasuki tahun 2021, dimana perusahaan akan mulai bersaing di Industri 4.0

“Kami akan bersaing di Industri 4.0 berdasarkan Bussiness Information (berbasis web dan mobile),  Bussiness Indicator, yang dilengkapi dengan Early Warning System (berbasis web dan mobile) yang sudah kami terapkan.”

“Whistle Blowing Systems, mekanisme bagi perusahaan dalam pelaporan atas dugaan pelanggaran atau kecurangan yang berindikasi merugikan bagi perusahaan atau hal-hal lain yang melanggar kode etik dan/atau peraturan perundang–undangan,” tutupnya.

BACA JUGA

1 komentar

I Wayan Sugata 30 November 2020 - 15:28

Bravo PT. Hakaaston!!! Implementasi Best Practice dari Teknologi Informasi dengan Transformasi Digital akan memberikan peluang pengembangan perusahaan tanpa batas dengan risiko yang terkontrol.

Balas

Leave a Comment