JAKARTA, Itech – Pemerintah bertekad menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Yakni sektor kelautan yang mampu mensejahterakan rakyat. Meningkatkan kemandirian bangsa, daya saing dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Apalagi, Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas dengan luas laut teritorial 3,1 juta km2, ditambah lagi dengan laut Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 2,7 juta km2, sementara luas total daratan 1,9 juta km2 dari sedikitnya 13.466 pulau yang telah diberi nama. Belum lagi garis pantai yang kedua terpanjang di dunia yakni mencapai 99.093 km2. Ini membuat Indonesia sangat pantas disebut sebagai negara maritim.
Selain sangat luas, wilayah laut Indonesia mengandung potensi yang juga luar biasa besar, baik dari potensi sumber daya energi dan mineral di bawah laut, potensi perikanan dan biota laut lainnya, potensi wisata bahari hingga potensi sebagai jalur perdagangan dunia. Badan Informasi Geospasial (BIG) mengaku siap mendukung program nawacita dibidang kemaritiman diantaranya pembangunan tol laut dengan menyediakan informasi geospasial untuk mendukung pembangunan 24 pelabuhan diseluruh wilayah tanah air dan fasilitas kemaritiman lainnya.
Terkait hal ini, BIG menyediakan data berupa Peta Rupabumi Indonesia (RBI), Peta Lingkungan Laut Nasional (LLN) dan Peta Lingkungan Panatai Indonesia (LPI) dengan berbagai skala. pembangunan kemaritiman berbasis informasi geospasial melalui percepatan penyediaan data IG untuk mendukung rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil,” ungkap Kepala BIG Dr Priyadi Kardono Priyadi pada acara fokus group discussion (FGD) bertema informasi geospasial mendukung pembangunan poros maritim yang diselenggarakan oleh Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Mapiktek) di Jakarta, (18/6). FGD menghadirkan pula pembicara Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin dan Nani Hendarti, asdep Iptek Menko Kemaritiman.
Namun sayangnya kekayaan laut yang sedemikian melimpah, rakyat Indonesia baru sedikit bisa menikmati keuntungan dari sektor kelautan demikian rakyat Indonesia baru sedikit menikmati keuntungan dari sektor kelautan itu, contoh yang paling nyata bisa dilihat dari kesejahteraan para nelayan yang masih di bawah standar, transportasi laut yang masih dikuasai asing, hingga infrastruktur maritim yang terabaikan dan kurang mampu mendukung sektor logistik antar wilayah maupun perdagangan internasional yang menjadi salah satu faktor Indonesia kalah bersaing dengan negara-negara ASEAN lainnya. (red/ju)














