Jakarta, Itech – Memasuki era Big Data peranan data sebagai komoditas strategis semakin nyata. Dipaparkan dalam disertasi Rudi Rusdiah sebagai contoh Information is Power, dengan bagaimana mengantisipasi masalah dampak El Nino, misalnya memanfaatkan Big Data Analytics (BiDA) dari berbagai sumber data seperti yang dilakukan oleh AS, Malaysia dan negara maju lainnya.
Di Indonesia, misalnya dengan sintesis data dari citra satelit cuaca, GPS dan penginderaan jauh, sensor-sensor cuaca BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika) serta stok pangan BULOG dan Kementerian Pertanian hingga Badan Pusat Statistik (BPS), Kementrian Pertahanan, Kementrian Lingkungan Hidup dan Hutan, Kementrian Kelautan, hingga Kementerian Kominfo untuk mendistribusi informasi Big Data Analytics (BiDA). Masalah utama dari sintesis Big Data ini adalah ego sektoral dan koordinasi dimana Kementerian Kominfo dapat berkoordinasi dengan MenkoPolhukam atau MenkoEkonomi, karena masalah di Indonesia adalah masalah koordinasi dan kita mengalami krisis koordinasi.
Paparan juga memperingatkan sejak dini bahwa sektor (31) Jasa Telematika(, dari analisa matrik Tabel IO 36×36 yang diagregasi dari matrik BPS 172×172) diprediksi akan meningkat sangat cepat seiring dengan ledakan data yang massif akibat teknologi Convergency Gadget (PC, Tablet Smartphone dan sebagainya); Clouds Computing/Internet; OTT/ Social Media (Facebook, Twitter, Google dan sebagainya; E-dagang dan yang akan datang IOE (Internet of Everything), untuk menghindar Internet traffic jam (kemacetan) dan lalu lintas informasi dan data dimasa mendatang, jika tidak dilakukan investasi dan perencanaan yang matang oleh Kementrian Kominfo dan regulator sektor telematika.
NSA (National Security Agency) AS saja memanfaatkan BiDA dengan koordinasi data selain dari data Statistik ekonomi seperti Tabel IO dan neraca-neraca ekonomi; juga menintegrasi dengan data intelijen yang diperoleh dari berbagai perusahaan OTT/Sosial Media seperti Facebook; Twitter; google dan sebagainya.Data Sekunder Tabel IO BPS yang dipaparkan terbukti sudah dapat menghasilkan data-data atau informasi yang strategis; yang dalam disertasi Rudi Rusdiah dapat menghasilkan indikator2x baik sektoral (misalnya sektor Jasa Telematika) maupun tentunya nasional. untuk indikator ekonomi suatu negara.
Karena itu kedepan, Indonesia tidak perlu tergantung pada data analisis global seperti IDC, Google, World Bank bahkan data Global CIA dari Internet; serta dapat menghasilkan informasi BiDa dan perencanaan dalam pembuatan regulasi untuk menarik Investasi baik domestik maupun global, apalagi riset Rudi Rusdiah ini menggambarkan sektor (31) JasTel ini sangat prospektif dan pangsa pasar RI memang paling gemuk di Asean. Terbukti dengan usaha berbagai perusahaan teknologi global dimotori oleh AS untuk mempengaruhi regulasi melindungi pasar nasional seperti PP 82/2012 untuk data Center domestic; peraturan mengenai TKDN dari Smartphone dan keharusan sertifikasi perusahaan pada kebijakan RPP E-Dagang misalnya.
Namun seiring cepatnya pertumbuhan ICT, terkadang BPS mempunyai kendala waktu dan koordinasi survey nasional, sehingga sering data yang terkumpul menggunakan data update yang sudah agak kadaluwarsa; misalnya data sekunder riset Rudi yang diawali tahun 2004 menggunakan kurun waktu riset 2009-2013) lima tahun. Penggunaan data yang sudah lama ini terjadi karena survey tidak dilakukan secara reguler karena terkendala minimnya anggaran “BPS dalam mengeluarkan data 2015, bisanya menggunakan basis data yang di survey tahun 2010 denga metode tertentu. Dengan perkembangan big data, kita berharap kesenjangan data jangan sampai lima tahun mengingat perkembangan ICT begitu cepatnya,” kata Rudi Rusdiah yang juga Ketua Umum DPP Apkomindo dalam sidang terbuka promosi doktor bidang Ekonomi di Gedung Sharief Thayeb, Universitas Trisakti, Jakarta, kemarin
Dalam kesempatan tersebut, Rudi menyampaikan disertasinya yang berjudul Peranan Dampak Investasi di Sektor Jasa ICT terhadao Nilai Tambah (Value Added), “ dengan ketua sidang oleh rektor Universitas Trisakti Prof Dr Thoby Mutis. Adapun riset tersebut fokus pada satu sekror (31) jasa ICT dengan faktor teknologi mutakhir seperti internet aplikasi, cloud dan data center yang ditengarai akan terimbas secara masif oleh ledakan Big data
“Kedepan dapat dikembangkan ke sektor lainnya seperti hardware ICT , pertanian maupun perdagangan yang terdapat dalam matrix sektor industri BPS,” paparnya seraya menambahkan, dalam penelitiannya, Rudi menggunakan metode Leontief. dan metode penelitian yang mengkontruksikan proposisi dari teori dasar Leontief inverse. Hasil penelitian menunjukkan dampak nilai investasi rata-rata (2009-2013) sebesar Rp3,29 Triliun terhadap beberapa indikator strategic sektor jasa ICT .Sidang promosi doktor bidang Ekonomi Konsentrasi studi Suistanable Development ini di gelar dengan tim promotor , Prof Dr Zulkifli Husin, dan Prof Dr Wan Usman. Rudi pun berhasil meraih gelar doktor dengan yudisium Cumlaud. (red)














