ItWorks- Seiring berkembangnya Internet of Things [IoT], Huawei memprediksi 5G bakal memantik gelora teknologi baru, salah satunya Augmented Reality (AR). Pasar AR diperkirakan akan menyentuh hingga US$300 miliar di tahun 2025.
Dinamika dan predikasi 5G ini dibahas dalam acara “Huawei Better World Summit (BWS) dengan mengangkat topik 5G + AR. Dalam rilis persnya (18/06) lalu disebutkan, sejumlah figur penting dunia hadir dalam perhelatan tersebut untuk menyampaikan pandangan-pandangan mereka, seperti He Chengjian, Director of Shenzhen Communication Management Bureau, David MacQueen, Executive Director of Strategy Analytics, Huang He, Chief Produser Shenzhen TV Station, Wei Rongjie, RealMax CEO, Hiroshi Fukuda, meleap CEO, Liang Jinhao, perwakilan dari HADO China Region, serta Fu Jie, Executive Director di Shenzhen AR Association. Mereka menyampaikan pandangan mereka terkait tren masa depan di kancah AR, serta unjuk kasus-kasus penggunaan AR mutakhir.
Dalam kesempatan itu, Huawei Carrier BG Chief Marketing Officer Bob Cai menyampaikan pidatonya bertajuk ‘5G + AR, Turning Dreams into Reality.’ Dalam pidatonya, Cai menuturkan bahwa 5G ke depan akan menghidupkan teknologi AR (Augmented Reality) dan begitu pula sebaliknya, AR akan memantik gelora 5G.
Dalam acara tersebut, dia jkuga mengumumkan perilisan buku putih yang bertajuk ‘AR Insight and Application Practice White Paper,’ yang mengupas mengenai industri AR dari sisi perangkat, aplikasi, hingga jaringan. Cai juga menyerukan kepada seluruh pelaku industri untuk menguatkan jalinan kerja sama menuju terbangunnya sebuah ekosistem 5G + AR yang akan membawa kesejahteraan bagi umat manusia.
Selaras dengan temuan dari pihak ketiga, Huawei juga memprediksikan bahwa pasar AR nantinya akan menyentuh hingga US$300 miliar di tahun 2025. Pengadopsian AR pertama secara besar-besaran akan terlihat di lima industri prioritas, yakni edukasi, jejaring sosial, belanja, usaha perjalanan dan navigasi, serta gim. ”Teknologi AR benar-benar akan menjadi pemampu terjadinya konvergensi antara dunia fisik dengan digital, mewujudkan mimpi menjadi kenyataan ,” ujar Cai.
Dalam kesempatan itu, disampaikan juga sejumlah studi kasus penerapan AR oleh Huawei. Pandemi Covid -19 yang melanda global saat ini menghalangi pelanggan untuk berkunjung secara langsung ke lokasi-lokasi demo produk dan solusi Huawei. Oleh karenanya, Huawei memanfaatkan teknologi AR untuk mendemonstrasikannya secara daring, sehingga komunikasi bisa terjalin lebih efisien. Huawei juga menggunakan AR untuk mempercepat penyiapan BTS 5G. Cara ini diharapkan akan mampu meningkatkan efisiensi dalam setiap pembangunan dan penyiapan BTS 5G.
Dalam perhelatan tersebut, Cai juga unjuk kebolehan akan kemampuan Huawei dalam ‘memproduksi’ AR. Huawei Air Photo menggunakan algoritma unik untuk mengonversikan foto 2D menjadi model 3D digital. Cara ini dianggap mampu mensimplifikasikan pemodelan karakter AR dalam mode 3D.
Kemudian diperkenalkan pula solusi mutakhir Huawei AR Engine, yakni sebuah platform untuk pengembangan teknologi AR yang dikembangkan oleh Huawei sendiri. Platform ini berorientasi pada perangkat-perangkat bergerak. Dengan Huawei AR Engine, pengembang hanya perlu menuliskan 10 baris kode untuk membuat efek-efek AR. Cara ini jauh lebih efisien untuk mengembangkan aplikasi-aplikasi AR.
Sementara itu, He Chengjian, Direktur Biro Manajemen Komunikasi Shenzhen, menyampaikan keberhasilan Shenzhen menjadi kota pertama di dunia yang sudah terjangkau oleh jaringan 5G SA secara penuh. Layanan TIK yang direpresentasikan oleh teknologi AR ini, berpotensi bisa diadopsi oleh semua lini industri, seperti produksi industri, e-commerce, perumahan, dekorasi rumah, kebudayaan, olah raga, pariwisata, layanan kesehatan, hingga edukasi. Aplikasi-aplikasi AR menjadi mesin pendorong utama dalam transformasi digital, merombak bagaimana proses-proses produksi dijalankan, hingga dalam kehidupan sehari-hari. (AC)














