Ajang konferensi global SAP SAPPHIRE NOW 2021 untuk kawasan Asia Pasifik digelar 21-24 Juni 2021 lalu. Sebagai bagian dari rangkaian acara, pada 25 Juni 2021 Redaksi It Works mendapat kesempatan mengikuti sesi Media Roundtable Discussion secara online dengan Sinar Mas Land, sebagai salah satu pelanggan SAP.
Selama satu jam lebih, 09:30-10:30 WIB, Mulyawan Gani selaku Chief Transformation Officer (CTO) Sinar Mas Land menjelaskan agenda transformasi bisnis yang mencakup transformasi digital perusahaan Sinar Mas Land, mengidentifikasi peluang bisnis baru dan membuat strategi berbasis data untuk perusahaan.
Mulyawan Gani adalah Chief Transformation Officer di Sinar Mas Land. Sebagai CTO, ia memimpin agenda transformasi yang mencakup upaya digitalisasi di seluruh perusahaan, identifikasi peluang bisnis baru, dan memungkinkan kemampuan pengambilan keputusan berbasis data.
Untuk mendukung perannya saat ini, ia mengambil pengalaman dari memiliki pengalaman kerja di berbagai industri (manufaktur yang beragam, ride-hailing, konsultasi, perbankan, ekuitas swasta) dan melihat masalah dari berbagai sudut (Pengembangan Bisnis, Operasi, Penasehat).
Gani, nama panggilannya, memegang gelar MBA Chicago Booth dari University of Chicago, Master of Science di bidang Financial Engineering dari DePaul University, dan Bachelor of Business Administration dari University of Wisconsin.
Berikut petikan penjelasan Gani terkait transformasi digital di Sinar Mas Land, kepada It Works.
Apa alasan Sinar Mas Land melakukan transformasi?
Terkait transformasi, kita sebenarnya bertransformasi setiap hari. Kalau sebagai bisnis, transformasi itu juga menjadi keharusan. Ditambah lagi dengan pandemi ini, semua agenda transformasi, kalau kita lihat di semua perusahaan di Indonesia, maupun di dunia, semua menjadi lebih cepat, diakselerasi.
Sinar Mas Land merupakan salah satu perusahaan di Indonesia yang sudah puluhan tahun. Untuk Sinar Mas Land dan untuk bisnis Sinar Mas Land Properti Group, kita sudah ada dalam 50 tahun terakhir. Dan properti itu adalah salah satu industri yang cukup tua dan adalah bisnis yang sangat konvensional. Sangat tradisional.
Jadi tantangan untuk melakukan transformasi sangat besar tapi peluangnya banyak. Karena dengan melakukan transformasi kita bisa melakukan banyak hal. Jadi itulah mengapa di Sinar Mas Land dan Sinar Mas Group secara keseluruhan kita fokus untuk melakukan transformasi meski di masa masa yang sulit seperti sekarang.
Contoh terkait digital journey yang sudah Sinar Mas Land lakukan?
Kalau kita lihat secara keseluruhan, perbedaan antara the new economy and old economy pada dasarnya customer engagement. Di old economy, customer itu harus mereka yang bergerak, harus aktif mencari tahu dan segala macam. Tapi di new economy, pelaku bisnis itu membuka kanal–kanal kesempatan supaya interaksi dengan konsumen jauh lebih dekat.
Kalau kita di old economy, apalagi di properti, biasanya kalau mau lihat properti itu susah kalau lihat lewat website karena kebanyakan informasi yang disuguhkan di website bukan datang dari pemiliki properti sendiri. Bukan dari developer-nya sendiri. Jadi informasinya tidak sama atau standard dan beda–beda.
Kita melihat di new economy, dimana kita sendiri yang akan membuka semua kanal interaksi, jadi kita musti berbenah, dalam hal data, dalam hal informasi yang ingin kita sampaikan secara standard dan konsisten, Memang hampir semua perusahaan properti di Indonesia semuanya punya website, tapi apakah website itu memberi satu dampak yang positif bagi mereka yang ingin memiliki informasi lebih tanpa harus pergi ke marketing office, tanpa harus minta brosur? Jadi salah satu yang kita buat di Sinarmas Land itu kita punya e-catalog yang bisa diakses konsumen untuk mengetahui semua produk yang kita miliki.
Sinar Mas Land memiliki produk di beberapa kota, dari yang paling besar otomatis konsentrasinya ada di BSD, terus kita punya Kota Wisata, Grand Wisata, di Surabaya, Balikpapan, Batam, kita punya banyak di beberapa tempat. Dan kita punya pilihan produk banyak sekali, tidak hanya residential, ada commercial, kavling, ruko, apartemen, dan segala macam. Itu susah kalau mau dikumpulin pakai brosur atau pdf. Berapa banyak pdf yang musti dikirim ke konsumen? Nah bagaimana kalau kita punya e-catalog ini? Konsumen itu bisa memiliki keleluasaan untuk mencari produk kami dengan menggunakan smartphone atau desktop. Saya rasa ini yang membuat interaksi kita di new economy ini jauh lebih leluasa dan convenience buat konsumen kita.
Di Sinar Mas Land, kami fokus pada customer experience, untuk perkembangan bisnis kami. SAP Customer Experience memberikan semua solusi yang kami perlukan bagi transformasi kami. SAP CRM tool membantu kami untuk melihat customer engagement kami di satu platform.
Mulyawan Gani adalah Chief Transformation Officer di Sinar Mas Land
Interaksinya jadi bisa lebih direct tanpa lewat agen atau middle man?
Betul, saya rasa trendnya ke arah sana tapi kalau kita lihat fungsi agen, broker dan semua keperluan offline, saya rasa masih akan ada. Tapi yang ingin kita lakukan adalah menggabungkan offline presence dengan online. Jadi kalau secara offline, kita punya marketing center, in house agent, agen eksternal yang berafiliasi dengan pihak luar.
Dan bagaimana untuk melengkapi itu dengan online dimana ada segmen seperti millennial ingin investasikan ke dalam perumahan. Untuk segmen orang–orang seperti ini, yang millennial, tech savvy, investor yang tahu mungkin mereka tidak perlu lagi untuk hadir secara offline. Jadi cukup dengan online. Nah, kita ingin menjembatani experience online untuk sama seperti offline. Karena dengan pandemi ini otomatis ada PSBB segala macam kita ingin make sure kalau kita siap melayani setiap segmen dan dengan adanya teknologi dan tools yang sekarang ada, itu memungkinkan. 5-10 tahun lalu mungkin sulit dilakukan, tapi sekarang ini sudah sangat memungkinkan untuk punya jembatan antara offline dan online.
Apa saja tantangan industri properti jika mau melakukan transformasi digital?
Transformasi itu banyak sekali urusannya dengan data, Karena kita perlu memiliki asupan data yang cukup. Nah, tantangannya jarang sekali transformasi dicanangkan dalam industri yang tidak memiliki banyak asupan data seperti industri properti. Beda sekali dengan industri telco, banking, atau fast moving consumer goods, dimana datanya banyak. Karena datanya banyak, datanya bisa diolah dan digunakan untuk keperluan transformasi.
Nah kendala utama di properti adalah data. Kenapa? Karena datanya itu ada di mana–mana, ada di gambar, sesuai dengan site plan, ada juga di sales, jadi datanya itu berceceran di mana–mana. Nah, kalau kita mau bertransformasi, kita perlu satu tempat atau platform dimana data–data ini bisa dikumpulkan. SAP punya platform seperti itu, dimana data ini tidak hanya dikumpulkan tapi distruktur dan dibantu dianalisa.
Jadi salah satu kendalanya di properti, datanya tidak tidak banyak, jadi bingung ketika mau transformasi, bagian mana yang mau ditransformasi kalau data tersebut tidak pernah di kumpulkan sebelumnya? Tapi kalau cuma mengumpulkan data juga tidak bisa, mau disimpan dimana ini data supaya aman? Dan data ini kan bukan hanya dihasilkan oleh perusahaan tapi ada juga data yang kita kumpulkan dari konsumen. Perpaduan–perpaduan itulah yang membuat transformasi sering kali dikaitkan dengan data.
Dan kalau kita bicara data, sebenarnya lebih berat lagi karena seperti yang tadi saya utarakan, hampir sebagian besar dari kita punya rumah satu seumur hidup. Jadi experience apa yang mau didata? Biasanya kita bertemu dengan agen, setelah itu kita beli, rumahnya jadi, kita pakai notaris bikin AJB, sertifikat dapat, selesai. Jadi datanya itu total cuma 10 touch point, tidak banyak. Jadi bagaimana dapat 10 data ini yang 20 tahun lalu? Jadi susah. Karena setelah itu tidak ada interaksi lagi.
Maka Sinar Mas Land ingin memberikan kesempatan kepada konsumen kita untuk memberikan interaksi yang jauh lebih panjang, bukan hanya beli rumah pertama. Seperti bagaimana kalau ada complain jalan di depan rumahnya retak, jadi kita ingin tahu kenapa bisa retak? Terus yang complain siapa saja? Kalau retaknya terus terjadi ada kemungkinan struktur di bawah jalannya yang rusak. Jadi kita akan cari tahu siapa kontraktor kita.
Jadi kita di properti ini bukan hanya mengurus jual rumah saja. Tapi kita harus pikirkan supaya kepuasan konsumen itu tercapai. Karena konsumen kita itu akan tinggal di sana 30 atau 40 tahun lagi. Pelayanan seperti apa yang harus kita berikan kepada konsumen kita. Untuk bisa seperti itu, data–data itu harus dikumpulkan. Kita letakan di satu platform yang aman.
Apa transformasi digital yang akan diluncurkan dalam waktu dekat ini?
Tahun 2021 ini, e-catalog untuk potential konsumen kita dan community apps jadi semua resident yang ada di BSD sekarang bisa mengakses beberapa fitur dengan menggunakan mobile phone mereka.
Di belakangnya ini kita juga sudah Go Live SAP CX di bulan Mei 2021 kemarin. Ke depannya, kita masih mempersiapkan beberapa produk digital supaya membantu konsumen dalam mendapatkan informasi yang cukup sesuai dengan kenyamanan mereka.
Di era sekarang ini, offline saja tidak cukup, kita perlu produk digital yang mendukung produk kita seperti CRM tool, e-catalog, community apps, developer property management tools, dll.
Bukan saja aplikasi yang kita buat langsung untuk konsumen, tapi dibelakang secara back office, kita juga terus bertransformasi supaya informasi dan data ini bisa kita pakai untuk melayani konsumen kami.
Di back end kita sudah pakai sistem ERP dari SAP dan kita ingin integrasikan dengan front end. Teknologi itu hanya enabler. Jadi kita tidak mau terlalu banyak fokus ke core technology di belakang kalau tidak membantu customer experience kami. Jadi kita bisa fokus ke bisnis yaitu ke konsumen kita.
Jadi, kenapa kami pakai SAP? Di Sinar Mas Land, kami fokus pada customer experience, untuk perkembangan bisnis kami. SAP Customer Experience memberikan semua solusi yang kami perlukan bagi transformasi kami. SAP CRM tool membantu kami untuk melihat customer engagement kami di satu platform.
Baca: Ini Lho, Perusahaan Properti Pertama di Indonesia yang Pakai Solusi SAP Customer Experience














