ItWorks- Deretan inovasi dari Pulau Dewata –Bali, dihadirkan di ajang Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) tahun 2021 yang diselenggarakan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPANRB). Solusi inovasi hadirkan dengan sentuhan teknologi informasi (TI) menyangkut berbagai bidang, sistem tata kelola pemerintahan, pelayanan publik, layanan kesehatan, perlindungan ibu dan anak, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan lainnya.
Sebagaimana dirilis Humas KemenPANRB, memasuki hari kesebelas presentasi dan penjurian KIPP 2021 pada (12/07/2021), sesi presentasi didominasi peserta dari Pulau Bali yang mengusung berbagai inovasi baru berbasis IT. Di antaranya Pemkot Kota Denpasar dengan presentasi berjudul Administrasi Kependudukan Untuk Warga Denpasar (Aku Waras) yang disampaikan Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara.
“Aku Waras merupakan inovasi yang mewadahi semua aplikasi berbasis web dalam pengurusan administrasi kependudukan untuk warga Kota Denpasar. Terdapat tiga aplikasi online dalam inovasi tersebut, yaitu Antrean Online (Sianline), Cek Dokumen (Sicemen), dan Persyaratan dan Formulir (Simyandes),” ujar Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara dalam
presentasinya yang dilakukan secara virtual.
Bagi pengguna, tahapan pendaftaran daring melalui Aku Waras dimulai dari pembuatan akun, pengajuan permohonan, dan penentuan pilihan penyelesaian dokumen yang keseluruhan prosesnya dilakukan secara daring, tanpa perlu datang ke kantor Disdukcapil Kota Denpasar.
Inovasi lain yang dibawa Kota Denpasar adalah Pelayanan Pengaduan Kekerasan Perempuan dan Anak (Nayaka Prana). Menurut I Gusti Ngurah Jaya Negara, Nayaka Prana merupakan program inovasi dari Pemerintah Kota Denpasar sebagai wujud Sewaka Dharma dalam penanganan kasus kekerasan pada perempuan dan anak. Inovasi ini terintegrasi dengan pengaduan masyarakat secara online di PRO Denpasar serta Call Centre Pusdalops 112 atau 223333, dan telah ditambahkan pelayanan masyarakat secara online yang dapat diakses melalui bit.ly/UPTDPPAKOTADENPASAR.
Nayaka Prana memiliki tiga tujuan utama yaitu menurunkan angka serta mencegah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, meningkatkan kecepatan dan kemudahan akses pelaporan kekerasan pada perempuan dan anak, juga memberikan pelayanan yang maksimal kepada korban kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Presentasi berikutnya berasal Kabupaten Buleleng dengan inovasi Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) dan Jaminan Kesehatan Desa. Dalam paparannya, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana menyatakan, pelayanan Poskesdes menyediakan layanan medis yang bisa diakses 24 jam dan emergency service ambulance desa yang selalu siaga, baik untuk rujukan kegawatdaruratan, penyediaan layanan home visit/home care terhadap kaum marjinal, pelayanan kesehatan holistik mulai dari promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, serta layanan paket persalinan.
Layanan Poskesdes Terintegrasi dengan pelayanan administrasi kependudukan. Poskesdes memiliki tujuan untuk mendekatkan pelayanan kesehatan, meringankan beban masyarakat, dan meningkatkan derajat dan kualitas kesehatan masyarakat.
Sesi pertama presentasi dan wawancara hari kesebelas diakhiri oleh Kabupaten Badung dengan inovasi Pendeteksi Area Tangkapan Ikan Menggunakan Sistem Internet Of Things (Patriot) yang masuk pada kelompok khusus.
Sekretaris Daerah Badung I Wayan Adi Arnawa mengungkapkan inovasi Patriot diwujudkan dengan dibangunnya aplikasi berbasis teknologi navigasi FishGo. Aplikasi FishGo pada tahun 2020 memanfaatkan Dana Insentif Daerah (DID) menambahkan 8 fitur baru pada aplikasi, yakni fitur Informasi Cuaca, Pasang Surut dan Tinggi Gelombang Laut, Gawat Darurat atau SOS (Save Our Ship) untuk keselamatan nelayan di laut, Tambahan Jenis Ikan Prediksi, Laporan Hasil Tangkapan Nelayan, Pemasaran hasil Tangkapan Ikan, serta Pantau Jumlah User yang ditujukan kepada admin FishGo di Pemerintah Kabupaten Badung untuk memantau aktivitas nelayan sehari-hari.
“Fitur unggulan terakhir adalah Fitur IoT (Internet of Things) yang terintegrasi dengan perangkat yang mampu menampilkan informasi tentang kedalaman laut dan keberadaan ikan di area tempat para nelayan akan menebar jaring,” ujarnya.
Pada sesi kedua, Kabupaten Klungkung membawa tiga inovasi sekaligus yang dipresentasikan oleh Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta. Inovasi pertama adalah Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) dari kelompok khusus, merupakan pengolahan sampah organik menjadi pelet melalui metode peuyeumisasi dalam box bambu ukuran 2×1 meter, selama 10 hari menggunakan bioaktivator sampah dan hasilnya dicacah untuk dicetak menjadi pelet sumber energi gasifire menjadi pembangkit listrik.
Pengembangan yang dilakukan tahun 2020 dan terus dilakukan dengan bekerjasama dengan APSI (Asosiasi Pengusaha Sampah Indonesia) dan koperasi pengelolaan sampah. Kemudian sampah organik diolah tidak hanya untuk pelet, juga sebagai pupuk kompos dengan metode Osaki Jepang. Pengembangan lain adalah membangun tingkat partisipasi masyarakat kota Semarapura dalam melakukan pemilahan dan pengurangan sampah dari sumbernya, dan TOSS dikembangkan sampai tingkat desa.
Inovasi kedua dari Kabupaten Klungkung adalah Datangi Obati Rawat Kesehatan Masyarakat (Dorkesmas). Dorkesmas adalah salah satu inovasi bidang kesehatan yang diciptakan untuk menuntaskan permasalahan di sektor kesehatan. Sasaran Dorkesmas adalah masyarakat rentan dan penyakit kronis baik yang terencana maupun tidak terencana. Tujuan Dorkesmas antara lain untuk meningkatkan akses pelayanan kesehatan, terutama bagi penduduk rentan, meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memberikan perawatan kesehatan.
Kegiatan presentasi ditutup oleh inovasi ketiga, masih dari Kabupaten Klungkung yakni Pelestarian Kearifan Lokal Garam Kusamba (Uyah Kusamba). Dijelaskan, inovasi Uyah Kusamba merupakan upaya pemberdayaan masyarakat pembudidaya garam dan koperasi pesisir dalam rangka pelestarian keberadaan garam tradisional Uyah Kusamba.
Uyah Kusamba muncul sebagai solusi melalui cara perlindungan dan pelestarian pada pembudidaya garam sebagai produsen, mematenkan garam murni Uyah Kusamba melalui penyertifikatan Indikasi Geografis (IG), serta mengolah garam Kusamba menjadi garam yodium layak konsumsi untuk membuka peluang pemasarannya. (AC)














