Reporter: Abdullah Suntani
Editor: Teguh IS
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menyadari pemanfaatan teknologi menjadi solusi tepat dalam mengembangkan bisnis saat ini. Untuk mencapai misi sebagai National Forecast Strategy, instansi di bawah Kementerian Keuangan ini menghadirkan transformasi TI bernama Customs Excise Information System and Automation (CEISA) 4.0, aplikasi yang menghubungkan pengguna jasa dengan Bea Cukai.
Demikian dinyatakan Agus Sudarmadi selaku Direktur TI (Chief Information Officer) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai saat mengikuti Penjurian TOP Digital Awards 2021, Selasa, (02/11/2021).
“Tahun ini, kami membawa mempresentasikan terkait dengan positioning kami yang bercita-cita sebagai institusi National Forecast Strategy. Karena memang saat ini, apalagi di era pademi banyak sekali (inovasi) yang dibutuhkan. Maka salah satu inovasi yang mulai kami kembangkan dan masih terus bergulir yakni melalui CEISA 4.0 sebagai transformasi layanan publik yang modern dan inklusif, mendorong inovasi berbasdis komunitas dengan menciptakan ekosistem,” jelas Agus mengawali presentasinya kepada dewan juri.
Dengan materi presentasi bertajuk “Dengan CEISA 4.0 Mewujudkan Mewujudkan National Forecast Strategy Melalui Transformasi Pelayanan Publik yang Modern dan Inklusif”, Agus memaparkan saat ini TI di Ditjen Bea Cukai bukan lagi menjadi elemen supporting, melainkan lebih dari itu, yakni berperan penting dalam kemajuan dan transformasi institusi ke arah yang lebih baik dan membanggakan.
“Kami terus melakukan transformasi, di mana saat ini kami membangun sistem ini (CEISA) adalah untuk menuju National Forecast Strategy, National Logistic Enabler, Smart Targeting System dan juga sebagai Trade Balance Analysis karena mengelola arus keluar-masuk orang, barang dan juga transport.”
“Intinya, TI di Bea Cukai bukan lagi sebagai supporting sekarang menjadi enabler bahkan menjadi driver dari institusi,” lanjutnya.
Baca: Sempat Terganggu, Sistem CEISA Bea Cukai Berangsur Pulih
Area Transformasi Digital
Agus pun mengutarakan bahwa saat ini transformasi digital Ditjen Bea Cukai memiliki 4 area, yakni Business Process, Business Model, Domain dan Culture (Organizational).
Business Process merupakan transformasi digital yang dilakukan pada proses bisnis yang lama untuk menjalankan proses bisnis agar berjalan lebih efektif. Produknya seperti Risk Engine Penjaluran, Passenger Risk Management, CEISA 4.0 (Single Core System) dan Smart Customs.
“Saat ini memang kami masih berada di Business Process dan Business Model dengan beberapa produk seperti Risk Engine, lalu yang lagi on progress adalah Single Document. Single Document dikembangkan karena dokumen di Bea Cukai jumlahnya ratusan. Dengan adanya TI, kita paksa untuk mengarah kepada dokumen tunggal,” terang Agus.
“Memang tahapan pertamanya, aplikasi-aplikasi yang ada kita satukan dulu saat ini, lalu kita bicarakan kepada teman-teman pemilik bisnis untuk mengarah pada Single Document,” tambahnya
“Dampaknya untuk pengawasan itu luar biasa. Di Business Process, dulu pengawalan dan pemeriksaan berbasis orang. Saat ini, pengawalan barang, pemeriksaan, pengecekan yang kami lakukan sudah berbasis TI,” tegasnya.
Dalam Business Process pula, lanjut Agus, ada Single Core System yang merupakan penyatuan layanan dan elemen data core business yang ada di DJBC menjadi single portal dan single database (data lake) bertujuan mengintegrasikan sistem layanan, standarisasi elemen data dan mempermudah analisis data.
Area transformasi digital kedua, Business Model merupakan perubahan alur atau simplifikasi proses yang sedang dijalankan. Transformasi ini akan memberikan perubahan manfaat secara quantum leap baik bagi internal maupun external sehingga terjadi pengurangan kebutuhan resource dengan melakukan efisiensi bisnis model. Produknya seperti Penerapan Single Document, Penerapan Omni Channel (Seamless Submission) untuk submit PIB.
Ketiga, Domain. Transformasi domain terjadi ketika satu bisnis berhasil mengembangkan layanannya ke area yang lain. Pada kondisi nyata tidak banyak perusahaan yang berhasil dengan cepat melakukan transformasi pada area ini. Produk utama Bea Cukai yaitu National Logistics Ecosystem (domain bisnis DJBC adalah tentang Kepabeanan dan Cukai, namun dalam konsep NLE, DJBC berperan sebagai orchestrator infrastructur logistic).
Terakhir, Culture (Organizational). Secara garis besar, area transformasi ini menggambarkan sebagai proses perubahan pada pola pikir, proses, serta kemampuan organisasi untuk merangkul dunia digital. Produknya yakni penerapan Ruang Kerja Masa Depan melalui MyCEISA.
“Harapannya, domain kami semakin luas dengan menciptakan inovasi, sebagaimana misi kami adalah membangun national logistics ecosystem untuk akhirnya mengarah pada manfaat, inovasi dan efisiensi. Jadi ke depan transaksi dari manapun terkait logistik, Bea Cukai menjadi backbone-nya,” tutup Agus.
Baca: Bea Cukai Siap Implementasikan NLE di Banten dan Ambon














