Jakarta, Itech- Berdasarkan penelitian Markets and Markets (2015) pasar global kota cerdas diprediksikan akan meraih angka $1,1 milyar di 2019 dengan Laju Pertumbuhan Majemuk Tahunan (CAGR) sebesar 22,5%. Permintaan akan peta panduan (roadmaps) pengembangan dan implementasi strategi kota pintar semakin meningkat, baik oleh pemerintah kota maupun pusat.
IDC meramal setidaknya 20 negara terbesar di dunia akan membuat peraturan kota cerdas nasional yang menitiikberatkan pada pendanaan, dokumentasi dan pedoman bagi bisnis. IDC juga memperkirakan pengeluaran pada Internet of Things oleh kota berbasis teknologi pintar mencapai $265 milyar di seluruh dunia.
Di Indonesia, untuk menjawab tantangan smart city, Blue Power Technology (BPT) yang merupakan anak usaha CTI Group bekerjasama dengan IBM dan merupakan satu-satunya mitra IBM di kawasan Asia Tenggara mengenalkan solusi Government Interactive Response Center (GIRC) untuk membantu mewujudkan kota pintar yang lebih transparan dan responsive. Solusi dan layanan berbasis Intelligent Operations Center (IOC) menjadi solusi bagi pemerintah kota dalam mengelola wilayah dan memonitor performa seluruh aparat agar dapat memberikan pelayanan lebih baik terhadap warga.
Inisiatif ini datang dari ramainya keluhan publik terkait permasalahan yang umum terjadi di perkotaan seperti kemacetan, kriminalitas, banjir, pemborosan energi dan insiden tertentu yang berpotensi mengganggu keamanan dan kenyamanan warga. Melalui solusi ini, pemerintah dapat menyelesaikan permasalahan di satu kota, berinteraksi dengan warga, meningkatkan responsifitas terhadap keluhan warga, dan memantau kinerja aparat.
Selain itu, solusi ini memadukan perangkat Emergency Management, sensor, CCTV dan video analytics yang memungkinkan penerimaan informasi dan data serta pengambilan tindakan secara real time terhadap keadaan darurat. Emergency Management sebagai perangkat dasar dari solusi ini akan menampilkan dashboard berisi informasi lengkap tentang situasi darurat beserta rekomendasi mulai dari penentuan personil dan peralatan yang tepat untuk menanggulangi perisitiwa tersebut hingga mengidentifikasi kemungkinan keterkaitan satu peristiwa denganyang lainnya.
“Keahlian yang dimiliki BPT dipadukan dengan teknologi terbaik dari IBM menghasilkan solusi GIRC yang didesain untuk menciptakan layanan pemerintah kepada publik secara transparan dan responsif. Solusi ini juga tepat digunakan oleh perusahaan yang mengelola gedung, perumahan, atau kawasan industri lainnya untuk membantu pengelolaannya secara lebih pintar,” ujar Lugas M Satrio, President Director BPT.
Pemda DKI Implementasi GIRC
Solusi GIRC ini tengah diimplementasikan di lingkungan Pemerintah Kota DKI Jakarta yang sedang gencar mengkampanyekan program kota cerdasnya sejak meluncurkan situs www.smartcity.jakarta.go.id awal tahun 2015. Pemkot Jakarta, menurut Kepala Smart City Jakarta Setiaji, memiliki impian untuk mengintegrasikan berbagai layanan umum, seperti transportasi dan kondisi cuaca, dengan pusat komando dan kontrol yang kini diberi nama Jakarta Smart City Lounge. Pusat komando ini akan memonitor dinamika masyarakat dan mendeteksi keadaan darurat maupun penyimpangan seperti parkir liar dengan bantuan CCTV dan aplikasi untuk menampung keluhan publik, seperti Twitter dan Qlue.
Dikatakan, DKI Jakarta sebagai kota Metropolitan dengan pertumbuhan urbanisasi yang cukup besar di Indonesia menjadi sumber beragam masalah di mana membutuhkan pengelolaan yang baik dan terencana. “Kami sadar teknologi merupakan salah satu jalan keluar dari rumitnya permasalahan ibukota sehingga kami menerapkan konsep smart city dengan harapan informasi publik lebih terbuka dan pelayanan dapat lebih cepat dilakukan. Kami melihat BPT sangat kompeten dalam menangani project ini mengingat experience dan expertise yang mereka miliki sebagai penyedia solusi dan layanan infrastruktur di Indonesia,” ujar Setiaji. (red/ju)














