Banyak anak muda yang merasa resah dengan keamanan privasi data dan big data, Hasil survei yang dilakukan Youth 20 (Y20) terhadap 5.700 pemuda di 19 negara Group 20 (G20) mengungkapkan 64 persen responden mengaku cemas terhadap personal data security di dalam platform digital. Mereka mengaku cemas data yang ada dalam platform digital rawan diperjualbelikan dalam pasar gelap digital.
Hasil survei juga memperlihatkan, sebanyak 61 persen dari 5.700 responden pemuda di negara G20 memiliki masalah dengan konektivitas internet. Kemudian juga mengenai akses yang mahal untuk mendapatkan kecepatan internet.
Hasil survei tersebut akan dibahas dalam pertemuan pra konferensi tingkat tinggi (KTT) Youth 20 di Nusa Tenggara Barat (NTB) 23 hingga 25 April 2022. Acara ini mengagendakan membahas sejumlah hal dengan tujuan mendorong peran anak muda dalam transformasi digital di negara-negara G20.
Co-Chair Youth 20 (Y20) Gracia Paramita, dalam pernyataannya, 12/04/2022, mengatakan dua sub topik yang dibahas dalam pra KTT 2 tersebut. Pertama, mengenai peran pemuda dalam tata kelola digital. Kedua, terkait jalur keuangan atau keuangan digital. “Para pemuda yang berkumpul dalam Y20 juga akan membahas di antaranya hal-hal yang dirasa meresahkan dalam transformasi digital,” kata Gracia.
Forum Y20 menginginkan dari Presidensi G20 Indonesia ini ada penegakan hukum bagi pelanggar di dunia digital sehingga tidak terjadi lagi jual beli data yang merugikan masyarakat.
Terkait pelanggaran privasi data, Y20 menginginkan ada penegakan hukum (law enforcement). “Jadi tindakan lebih tegas dari pemerintah termausk sistem blok atau seperti sistem kontrol yang ketat ketika memang terjadi pembobolan data atau hacker dan lainnya,” kata Gracia.
Sedangkan yang berkaitan dengan keuangan digital, para pemuda di Y20 merasa resah dengan maraknya pinjaman daring dan aplikasi keuangan digital.
“Hal itu juga yang akan kami bahas dalam pertemuan nanti. Bagaimana peran pemuda dalam mengelola keuangan digital. Serta bagaimana antisipasi ketika ada pinjaman online ilegal atau bentuk-bentuk transaksi digital ilegal,” jelas Gracia.
Y20 juga ingin adanya kampanye bersama mengenai antisipasi berita hoaks. Kampanye ini harus dilakukan bersama di negara G20 sehingga seluruh masyarakat bisa mengetahui dan tidak dirugikan dengan berita yang tidak benar.
“Selain itu ada berita hoaks, misinformasi, disinformasi, hate speech yang menjadi topik kedua di dalam tata kelola digital. Karena sebagian besar generasi muda baik itu menjadi pelaku maupun menjadi korban. Perlu ada kampanye menghentikan misinformasi, disinformasi mengurangi ini,” tegasnya.
KTT Y20 mengusung tema “From Recovery to Resilience: Rebuilding the Youth Agenda Beyond COVID-19″ akan digelar pada 17 hingga 24 Juli 2022 di Jakarta dan Bandung.
Y20 merupakan wadah konsultasi resmi bagi para pemuda dari seluruh negara anggota G20 untuk dapat saling berdialog.
Baca: Pentingnya Akses Telekomunikasi Merata Disepakati DEWG G20
Baca: Keamanan dan Kesenjangan Digital Dibahas di DEWG G20
Baca: Transformasi Digital yang Inklusif Dibahas di DEWG G20














