Jakarta, Itech- Kenyamanan dan kemudahan komunikasi bukannya tanpa risiko, seperti halnya kemajuan teknologi lainnya, harus dibayar dengan pengotoran lingkungan. Untuk memperkecil risiko, bukanlah pekerjaan sederhana di tengah-tengah euforia seluler. Semakin beragamnya konten tentu semakin menuntut kapasitas dan kecepatan jaringan. Upaya ini akan lebih membutuhkan banyak tenaga alias akan meningkatkan energi yang dibutuhkan.
Namun dengan penyempurnaan jaringan seluler ternyata mampu membuat penghematan pemakaian listrik. Semangat ini yang sekarang tengah dilakukan para operator besar, di balik semangat hijau ini ada nilai ekonomis yang menguntungkan. Langkah penggunaan energi terbarukan secara menyeluruh memang masih bisa dihitung dengan jari. Namun, penghematan energi merupakan langkah positif untuk mengurangi pengotoran lingkungan yang makin dahsyat.
Konsumsi energi yang rendah akan menurunkan panas akibat energi yang terbuang dan hal ini juga akan sekaligus mengurangi penggunaan pendingin ruangan (AC) yang terkenal sangat rakus dengan listrik. Hasil akhirnya juga berupa efisiensi ekonomis yang diharapkan bisa meningkatkan layanan pada konsumennya. Keuntungan ini berupa penghematan pemakaian daya listrik pada base transceiver station (BTS) sampai 50 persen, selain juga efisiensi kebutuhan ruangan hingga 67 persen. Hal ini merupakan salah satu upaya mendukung penciptaan green telco di industri telekomunikasi, melengkapi penggunaan energi alternatif pada BTS yang juga dilakukan.
Charles Giroth, Director Engineering and Technology Cascadiant mengatakan, teknologi Fuel Cell enggabungkan sel-sel bahan bakar hidrogen (bahan bakar) dan oksigen (dari udara) untuk menghasilkan arus listrik. Kelebihannya, antara lain sel bahan bakar dapat menggunakan sejumlah bahan bakar yang berbeda tergantung pada ketersediaan lokal, misalnya, hidrogen, amonia, propana, gas alam, atau metanol. Kedua, sel bahan bakar cadangan solusi diharapkan memiliki hidup yang panjang dengan antara 8,000-10,000 jam produksi energi yang dapat diandalkan. Dibandingkan dengan generator diesel sangat rendah ada kebisingan dan polusi udara.
Namun, kekurangan, teknologi yang belum matang ini berarti bahwa biaya yang tepat menginstal dan menjalankan sistem sulit untuk menentukan. Tergantung pada sumber bahan bakar (hidrogen, amonia, propana, gas alam, atau metanol) sel bahan bakar yang sama mungkin memiliki masalah lingkungan sebagai generator diesel. “Sel bahan bakar telah ditempatkan untuk back-up sistem komunikasi TETRA, tetapi penggunaan sel bahan bakar di negara-negara berkembang dan untuk BTS sedang dalam tahap percobaan tanpa implementasi skala komersial saat ini,” tambahnya.
Charles Giroth mengklaim hampir seluruh pemain di industri telekomunikasi, terutama operator selular, telah mengadopsi Fuel Cell milik Cascadiant. Seperti misalnya, teknologi energi alternatif yang digunakan BTS Tri ini menggunakan energi hidrogen yang bersih, bebas polusi hemat energi dan ramah lingkungan karena hasil pembuangannya berwujud air murni sehingga tidak berbahaya bagi lingkungan.
“Keuntungan lain adalah peningkatan biaya listrik, memberikan cadangan listrik yang lebih tahan lama, serta menghemat biaya perawatan. Energi hidrogen ini pertama kali digunakan oleh NASA. Penggunaan BTS berbahan bakar hidrogen mampu menekan biaya perawatan sebesar 30 persen walaupun biaya investasi awal untuk BTS Hidrogen cukup besar,” tuturnya.
Tak hanya itu, Telkomsel diketahui telah menjalankan prakarsa strategis dalam upaya perluasan jaringan yang ramah lingkungan, yakni dengan mengadopsi ‘konsep‘ ekonomi hijau’ dalam pengoperasian BTS Telkomsel. Terkait dengan penerapan konsep tersebut, Telkomsel telah membangun dan mengoperasikan Green BTS, yakni BTS yang memanfaatkan energi matahari. Ratusan BTS ini tersebar di Sumatera, Jawa, Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan dan Sulawesi-Maluku-Papua.
Selain menggunakan tenaga matahari, di wilayah Sumatera, Telkomsel juga menerapkan teknologi fuel cell dengan memanfaatkan bahan bakar hidrogen. Teknologi ini dipakai karena mempunyai keunggulan, seperti tidak bising karena tidak terdapat komponen bergerak, dan tidak bersifat polutan. Keunggulan ini tercipta lantaran zat buangan dari proses fuel cell adalah air, yang tidak beracun dan berbau serta memiliki efisiensi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan sistem konvensional. (red/ju)














