Sebagaimana diketahui Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang digelar di pada 15-16 November 2022 di Hotel The Apurva Kempinsky, Nusa Dua, Badung, Bali. Turut berperan guna mendukung sukses dan kelancaran acara besar ini salah satunya adalah Pusat Data dan Saran Informatika (PDSI), Kementerian Komunikasi dan Informatika.
“Gelaran KTT G20 itu hajatnya Indonesia dan kita bangga dengan itu. Terkait KTT itu adalah agenda bersama, di mana Kominfo diberi amanah oleh Presiden untuk meng-handle media centernya. Nah, untuk itulah PDSI berperan sebagai keamanan sibernya juga monitoring trafik internetnya juga,” ujar Bintang, selaku PIC Keamanan Siber PDSI Kominfo, di Bali, Selasa (15/11/2022).
Bertanggung jawab untuk menangani media center tentu bukan hal mudah. Bagaimana tidak, seperti dikatakan Bintang dari sisi media center ada banyak user dan 2000 wartawan yang terdaftar dari berbagai negara yang harus terlayani.
“Dengan pergerakan mereka yang mobile sekali juga kebutuhan mereka yang macam-macam, layanan yang mereka pakai, tentunya ini memaksa kita untuk menyesuaikan, bagaimana bisa melayani kebutuhan mereka tetapi tetap aman di sisi keamanan sibernya. Di situlah kita PDSI berperan sebagai pengamanan jalur koneksi dari dalam ke luar, begitu juga sebaliknya,” ujarnya.
Selain harus meng-handle banyak user dan wartawan yang meliput KTT G20, kesulitan juga dirasakan PDSI dari sisi koordinasi. Karena seperti diketahui, selain PDSI banyak instansi dan pihak lainnya yang juga terlibat guna mensukseskan KTT G20.
“Jadi kita memang harus berkoordinasi dengan banyak instansi, juga banyak unit kerja maupun vendor pihak ketiga. Seringkali kadang waktu yang bekejar-kejaran. Karena mereka juga punya target untuk tayang. Nah, kalau kami PDSI concern terhadap keamanannya, keamanan siber ini sangat penting,” ujar Irawati Tjipto Priyanti, Kepala PDSI Kominfo.
Bukan sekedar isapan jempol belaka, ancaman siber yang bisa saja mengancam atau menyerang, terutama di acara KTT G20 itu memang ada.
“Kita sudah meng-capture dengan XDR yang ada, kemudian dengan firewall yang kita punya, kita bisa buktikan bahwa memang serangan itu ada, sehingga kita harus tetap waspada agar sistem keamanan IT kita tidak diserang dari luar,” kata Irawati.
Tidak sendiri, dalam rangka mengawal keamanan siber di KTT G20, PDSI juga bekerja sama dengan BIN dan BSSN.
“PDSI di sini fokusnya dalam keamanan siber. Kita bekerja sama dengan BIN dan BSSN (untuk monitoring selalu trafiknya, karena kita sudah bawa (nama) negara, intinya (diharapkan) tidak ada insiden selama penyelenggaraan media center ini,” harap Irawati.
Harapan yang sama juga disampaikan oleh Bintang, di mana dia berharap KTT G20 bisa berjalan lancer dan tidak ada kendala yang berarti, khususnya di media center. “Semua wartawan dapat meliput, dapat mengirimkan beritanya, dapat mengirimkan video dan gambarnya, juga dapat koneksi yang lancar, tidak ada accident di media center ke jaringannya. Intinya semua konten yang ada di KTT (diharapkan) dapat terkirim dengan baik ke tujuan masing-masing,” ujarnya.
Sekedar catatan, Media Center KTT G20 dilengkapi dengan 192 komputer dan 192 akses LAN untuk perangkat komputer pribadi awak media. Selain itu, ada studio untuk live sejumlah 36 media booth. Total kapasitas dapat menampung sekitar 400 unit komputer atau laptop. Media Center KTT G20 juga memfasilitasi one on one studio dan ruang konferensi pers bagi para pimpinan negara.
















