Di Nusa Tenggara Timur, salah satu dari banyak pulau di Indonesia, hampir 25% rumah tangga hidup tanpa akses ke sumber air minum yang memadai dan berkelanjutan. Mereka perlu berjalan berkilo-kilo hanya untuk mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari. Hal ini menginspirasi Komodo Water, sebuah perusahaan sosial yang dibentuk pada tahun 2012, untuk membangun akses terhadap air bersih dan terjangkau bagi desa-desa terpencil di sekitar Taman Komodo dan Flores, didukung oleh teknologi terbarukan serta berkelanjutan.
Shana Fatina, CEO dan Founder Komodo Water mengutarakan, “Bersamaan dengan berkembangnya ekonomi pulau ini, permintaan dan penggunaan air warga sekitar juga ikut meningkat. Guna menghindari krisis air, Komodo Water melihat peluang untuk memperluas dan mengembangkan aplikasi pengelolaan air terintegrasi yang memaksimalkan penggunaan big data dalam mengidentifikasi sumber air potensial. Aplikasi ini dapat memberikan nilai tambah – tidak hanya kepada pelanggan langsung, tetapi juga kepada pembuat kebijakan dan bisnis komersial”.
Secara lebih rinci, aplikasi yang dikembangkan menggunakan Azure Kubernetes Services (AKS)–yang merupakan salah satu solusi cloud-native apps dari Microsoft Azure–membantu Komodo Water untuk dapat mengidentifikasi titik-titik air bersih di Labuan Bajo dan merekomendasikan lokasi pembangunan instalasi pengolahan air serta jalur distribusi air bersih yang sesuai.
“Penggunaan AKS sangat memudahkan proses pengembangan aplikasi kami dan meningkatkan efisiensi biaya. Dari sisi pengembangan, terdapat fitur Control Plane yang memungkinkan Azure mengambilalih kegiatan overhead seperti health monitoring dan maintenance aplikasi. Hal ini mengurangi beban kerja developer kami dan memungkinan mereka untuk berfokus pada aktivitas-aktivitas strategis lainnya. Sementara dari sisi biaya, Control Plane telah menjadi bagian dari Azure resource pengguna, di mana pengguna hanya perlu membayar dan mengelola AKS-nya itu sendiri, tanpa dikenakan biaya tambahan,” lanjut Shana.

Melalui teknologi tersebut, Komodo Water telah menjangkau 16 ribu orang, mengidentifikasi 104 sumber air dari 118 titik yang telah disurvei, memfasilitasi 107.187 galon air, mengurangi konsumsi bahan bakar hingga 30.000 liter, mengurangi kemasan plastik hingga 40 ton, dan menghindari setidaknya 64.589 kilogram emisi CO2. Bersama dengan Microsoft, Komodo Water berharap dapat menciptakan dampak keberlanjutan yang semakin besar bagi Indonesia.
Shana berharap ke depannya, teknologi kami yang inovatif dan andal ini juga dapat menjangkau masyarakat di luar Nusa Tenggara Timur. Sebab, data yang kami kumpulkan melalui teknologi ini tidak sekadar menampilkan data statis terkait air, tetapi juga berpotensi untuk memecahkan masalah yang lebih besar, seperti akses air dan penggunaan air di seluruh Indonesia, seraya mendapatkan hasil yang terukur dan nyata”.
Baca: Teknologi “Cloud Computing” Dapat Menghemat Biaya Industri Perbankan














