Jakarta, ItWorks- Transformasi digital dan implementasi teknologi informasi di kalangan Rumah Sakit, kini bukan lagi pilihan, namun sudah menjadi keharusan. Apalagi memasuki era industri 4.0 sekaligus memenuhi aspek regulasi dari pemerintah yang juga mengharuskan Rumah Sakit melakukan transformasi digital (digitalisasi), sekaligus meningkatkan layanan bagi masyarakat (pasien).
Seiring dengan perkembangan zaman, sistem pengelolaan Rumah Sakit kini juga tidak bisa lagi dikelola secara manual dan juga konvensional, namun juga harus bisa mengikuti tren tuntutan kemajuan teknologi yang ada, agar bisa lebih optimal, efektif, dan efisien.
Pemerintah juga terus berupaya mendorong penguatan Pelayanan Kesehatan di Indonesia, di antaranya dengan meningkatkan performa sistem manajemen dan layanan di Rumah Sakit melalui pemanfaatan teknologi informasi atau melakukan transformasi digital.
Presiden Joko Widodo sejak tahun 2018 juga sudah mendorong agar semua Rumah Sakit di Indonesia mulai membangun sistem aplikasi terintegrasi yang disebut dengan Smart Hospital. Smart hospital adalah konsep pengelolaan dan layanan kesehatan di rumah sakit dengan menggunakan teknologi informasi, di mana berbagai jenis pelayanan, dari sistem administrasi, tenaga medis dan aspek lainnya mulai mengintegrasikan teknologi atau sistem informasi yang canggih dan terpadu.
Berbagai kebijakan pemerintah juga telah dikeluarkan untuk mendorong akselerasi digitalisasi layanan di rumah sakit ini. Di antaranya Peraturan Menteri Kesehatan No. 24 tahun 2022 Tentang Rekan Medis yang mewajibkan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes) untuk menggunakan rekam medis elektronik atau Elektronic Medical Record (EMR) sebagai dokumen dalam pemberian pelayanan di fasyankes.
Prinsip keamanan dan kerahasiaan data dan informasi juga menjadi aspek penting dalam implementasi EMR. Dalam hal ini, Kemenkes juga mendorong adanya sistem integrasi data rekam medis pasien di fasyankes ke dalam satu platform Indonesia Health Services (IHS) yang diberi nama SATU SEHAT yang telah diluncurkan pemerintah (Kemenkes RI) tahun 2022.
Berbagai kebijakan ini kian menguatkan bahwa di era teknologi informasi seperti saat ini, digitalisasi bagi dunia Kesehatan atau Rumah Sakit, kian tak bisa dielakan. Apalagi memasuki era revolusi industri keempat yang sarat penggunaan teknologi digital. Pandemi covid-19 juga memberikan pelajaran berharga betapa penting dan besar manfaat dari digitalisasi ini untuk mendukung operasional dan layanan Rumah Sakit bagi masyarakat melalui pemanfaatan teknologi informasi, termasuk layanan telemedicine (virtual health care) secara digital yang telah banyak membantu masyarakat meningkatkan kualitas kesehatannya.
Kesia Hadirkan Solusi Terintegrasi
Di tengah pesatnya kemajuan teknologi digital dan maraknya ragam platform digital, pelaku atau pengelola Rumah Sakit juga masih banyak menghadapi tantangan yakni bagaimana bisa cepat dan tepat menentukan platform digital untuk mengembangkan layanan (smart hospital) ini. Masih banyak Rumah Sakit yang kesulitan memulai implementasikan IT atau melakukan transformasi digital.
“Nah untuk menjawab tantangan dan memenuhi kebutuhan ini, hari ini kami melakukan grand launcing Kesia.Id sebagai solusi aplikasi (smart hospital/ rumah sakit pintar) dengan fitur lengkap. Kami memiliki solusi aplikasi terintegrasi mulai dari aplikasi di front office hingga back end yang terintegrasi. Termasuk ERP di sistem manajemen, layanan pasien, EMR, hingga manajemen pengelolaan bagi para tenaga medis atau dokter. Kesia kami bangun sekitar empat tahun dengan riset mendalam, mengikuti ketentuan yang ada, sehingga complay dengan regulasi pemerintah. Di antaranya juga sudah terintegrasi dengan platform Satu Sehat dari Kemenerian Kesehatan,” ujar San Emirza BSc. Co Founder & Commisioner Kesia pada acara “Digital Healthcare Overview 2023 & Produk Launching Kesia, (9/02/2023), di Hotel JS.Luwansa- Kuningan Jakarta.
Kesia merupakan salah satu perusahaan digital yang bergerak di bidang platform rekam medis elektronik. Kesia memiliki visi untuk meningkatkan standar pelayanan rumah sakit terhadap pasien demi tercapainya ketahanan kesehatan nasional.
“Dengan kebijakan PMK 24. Tahun 2022, rumah sakit sudah harus membangun sistem untuk menerapkan rekam medis elektronik. Tentang bagaimana rumah sakit dapat memulai perjalanan transformasi digital dengan baik, kami memberikan solusi yang komprehensif setelah 4 tahun melakukan riset pengembangan platform Rekam Medis Elektronik (RME). Dengan adanya transformasi digital, data rekam medis pasien akan terhubung dengan Kemenkes, sehingga memudahkan untuk memonitor data kesehatan di Indonesia dan menerapkan metode prevensi terhadap insiden pasien, sehingga lebih dapat meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit terhadap pasien,” terangnya.
Ditambahkan, Kesia memberikan layanan yang complete end to end. Mulai dari Registrasi pasien hingga klaim asuransi dan pengelolaan keuangan dengan sistem yang sudah menggunakan open interoperable API dengan format FHIR & HL7. Dengan interoperabilitas API ini, sehingga dapat terintegrasi dengan alat kesehatan seperti bedside monitoring, radiologi, cath lab, dan lain lain.
“Kesia juga sudah dapat terintegrasi dengan BPJS, SATU SEHAT Kemenkes, Antrian Online, Mobile JKN, LIS, PACS. Selain itu Rumah Sakit tidak perlu mengkhawatirkan kecepatan perkembangan dari luar, seperti cepatnya perubahan integrasi terhadap beberapa aplikasi dari BPJS, SATU SEHAT dari Kemenkes dan perubahan lainnya karena Kesia lah yang akan melakukan perubahan dan update secara berkala untuk semua Rumah Sakit pengguna Kesia. Tak hanya untuk Rumah Sakit, Kesia juga ada soljusi untuk pengelolaan klinik dan Puskesmas,” ujarnya.
Hal senada disampaikan oleh Dr. dr. Fathema Djan Rachmat Sp.B., Sp.BTKV(K)., MPH selaku Co-Founder & Commisioner Kesia.Id. Menurutnya, digitalisasi Rumah Sakit menjadi bagian penting yang mendesak dilakukan oleh para pelaku Rumah Sakit untuk meningkatkan daya saing di era persaingan global. Digital technology juga terbukti mampu menjadi enabler yang banyak menyelamatkan di saat pandemi. Ke depan diakui, tuntutannya juga makin kompleks, apalagi dengan perkembangan teknologi baru bidang kesehatan yang juga terus berkembang. Seperti teknologi Artificial Intelligence (AI), machine learning, dan lainnya yang juga banyak mewarnai perkembangan teknologi mesin dan alat kesehatan.
“Respons teknologi informasi ini penting sekaligus untuk meningkatkan daya saing bagi pelayanan Rumah Sakit di Tanah Air. Secara market, potensi health care market Indonesia itu sangat besar, mencapai Rp500 triliun per tahun. Nah ini peluang yang harus bisa ditangkap melalui peningkatan daya saing layanan yang lebih berkualitas. Banyak pasien ke luar negeri karena merasa pelayanan Rumah Sakit kita masih kurang berkualitas. Ini tantangan dan implementasi teknologi informasi bisa menjadi enabler untuk meningkatkan daya saing layanan ini,” ungkap Dr dr Fathema Djan Rachmat yang juga President Commisioner Jakarta Heart Center (JHC) ini.
Guna memberikan wawasan dan pengertian kepada para direktur atau pemilik rumah sakit terkait PMK 24 tahun 2022, bersamaan dengan launching Kedia ini juga diadakan diskusi dan seminar bertajuk “Digital Healthcare Overview 2023” dengan menghadirkan pembicara yang exspert di bidangnya. Antara lain dari unsur Kemenkes, Agus Rachmanto (Chief Deputi DTO -Kemenkes) yang memberikan wawasan pentingnya SATU SEHAT Platform HIE (Healthcare Information Exchange) termasuk cara rumah sakit berkontribusi.
Juga contoh success story dari negara lain yang telah mengadopsikan National Health Repository. Dalam hal ini menghadirkan virtual Sharing dari Mayo, “how Mayo get through Digital Transformation” dengan nara sumber Ben Langholz (Mayo Clinic) dan Sylvia Belford (Mayo Clinic).
Selain itu juga dihadirkan sesi Product Discussion and Testimony dari Rumah Sakit yang tekah implementasi solusi Kesia.ID. bertema “How they feel after Kesia implementation and how kesia can help more people in the hospital”. Di antaranya Dr Teguh Agus Santosa, MK3 (RS JHC Tasik), dr. Martina Yulianti , Sp.PD (RSUD AM Parikesit) Kutai Kartanegara-Kaltim, dr. M. Arza Putra Sp.BTKV (K) (RS UI) yang dimoderatori oleh Moh.Lutfi Handayani ,MBA,MM, CEO MSI Group & Editor in Chief IT Works Magazine.
“Kami tertarik menggukan solusi dari Kesia karena cukup mudah diaplikasikan dan prosesnya pun relative cepat. Selain itu juga ada dukungan langsung dari tim Kesia hingga go live, sehingga ini sangat membantu kami dalam upaya akselerasi tranformasi digital. Kami pernah punya pengalaman membangun aplikasi IT sendiri di internal, itu memakan waktu hingga berbulan-bulan dan hasilnya pun tidak optimal. Akhirnya untuk strategi transformasi ini kami cenderung menggunakan solusi dari pengembang yang sudah teruji. Dengan demikian kami tidak disibukan dengan urusan IT, tetapi bisa lebih fokus pada layanan rumah sakit yang memang menjadi core kompetensi kami,” kilahnya.
San Emirza B Sc – Co Founder & Commisiioner Kesia menyatakan, meski baru grand launching pada hari ini, namun Kesia sudah diaplikasikan di delapan rumah sakit di berbagai daerah. Dengan testimoni dan respons positif dari para pengguna Kesia ini, pihaknya optimistis ke depan akan lebih gencar go to market. Dari sisi implementasi prosesnya juga lebih cepat, hanya sekitar 3 hingga maksimal 6, sehingga ini diharapkan menjadi daya tarik tersendiri bagi calon pengguna. “ Saya optimis, targetnya paling tidak untuk tahun ini bisa 100 Rumah Sakit, bahkan bisa lebih,” ujarnya.
Berbagai jurus disiapkan, termasuk strategi pasar melaljui kerja sama asosiasi dan komunitas. Termasuk exstra layanan untuk instalasi hingga after dari go live. Dalam hal ini Rumah Sakit juga tidak perlu dan manual update jika ingin menggunakan Kesia karena telah di support dengan teknologi CI/CD (Continuous Integration dan Continuous Development), sehingga rumah sakit hanya perlu fokus terhadap progress implementasi, baik dari segi data maupun kepatuhan penggunaan.
Kesia juga memiliki fitur yang sangat lengkap dan sudah memulai masuk ke arah subspesialistik sesuai dengan diagnosa yang ada, seperti penyakit jantung, Kesia juga sudah memiliki menu khusus Cath Lab, dan seperti penyakit kanker Kesia memiliki menu khusus radioterapi. Begitupun dengan setiap spesialisasi yang berbeda, Kesia memiliki assessment anatomi tubuh yang berbeda, seperti odontogram pada pemeriksaan objective dokter gigi.“Kesia juga memiliki fitur yang didukung dengan user friendly navigation. Hal ini dapat dicapai dengan berlangsung nya riset dan pengembangan Kesia selama 4 tahun ke belakang,” tambahnya.
Selain itu, untuk mendukung kemudahan menggali insights dari setiap data yang masuk ke dalam platform Kesia, rumah sakit dilengkapi dengan free BI (Business Intelligence) tool agar dapat melakukan pendalaman data dengan cepat dan akurat. Hal ini memudahkan semua pelaku rumah sakit untuk melakukan improvement terhadap kualitas pelayanan.
Di sisi lain, Kesia juga memberikan kemudahan terhadap IT rumah sakit untuk melakukan penambahan kapabilitas rumah sakit. Kesia memiliki open internal API yang dapat digunakan oleh IT rumah sakit jika ingin mengintegrasikan service tambahan seperti mobile apps rumah sakit, website rumah sakit, maupun tools internal lainnya.
“Kesia juga telah menerapkan berbagai tolak ukur pengamanan terhadap keamanan data, baik dari segi data yang hanya bisa diakses melalui API gateway, maupun dari segi cloud cyber protection dan juga keamanan melalui modul IAM (Identity and Access Management),” pungkasnya. (AC)















