Jakarta, ItWorks- Little Hotelier, pengembang software (perangkat lunak) manajemen hotel all-in-one yang dirancang khusus penyedia akomodasi kecil, membagikan analisis data baru berdasarkan 100 juta pemesanan yang diproses pada tahun 2022 oleh SiteMinder. Little Hotelier juga menginformasikan prospek bisnis akomodasi yang diprediksi akan makin berkembang sejalan dengan kian bergairahnya wisatawan yang menginap di berbagai akomodasi.
Pada kesempatan ini, Little Hotelier juga turut menginformasikan operasi bisnisnya di Indonesia yang sudah berkiprah selama 10 tahun. Sebagai pengembang sistem aplikasi yang berbasis cloud dengan model layanan di antaranya software as services (SAS), solusi yang dihadirkan untuk mendukung bisnis property akomodasi dan hotel kelas medium ini., ini juga terus mengalami peningkatan dari sisi jumlah pengguna (user).
“Secara global, layanan Little Hogtelier sudah terintegrasi dengan 9.000 properti akomodasi. Di Indonesia sudah ratusan dan kami optimistis ke depan bisa terus meningkat, seiring meningkatnya tuntutan transformasi digital untuk bisnis dan layanan properti penginapan dan hotel ini,” ungkap Regional Sales Manager Little Hotelier di Indonesia, Tander Lowongan menjawab ItWorks, usai paparan pers bertajuk “Tren Penting bagi Penyedia Akomodasi Kecil di Indonesia tahun 2023, Setelah Satu Tahun Pemulihan Pasca-Pandemi”, pada (14/03/2023), di Jakarta.
Dalam paparannya, ia membagikan analisis data baru berdasarkan 100 juta pemesanan yang diproses pada tahun 2022 oleh SiteMinder. SiteMinder merupakan platform perdagangan hotel terkemuka di dunia yang mendukung Little Hotelier bagi pelanggannya secara global. Temuan ini mencakup Top 12 distribution channels teratas yang menghasilkan pendapatan dari pemesanan tertinggi bagi bisnis akomodasi Indonesia pada tahun 2022, dalam 12 bulan pemulihan yang signifikan. Ditambah berbagai poin data tambahan yang yang dapat berpengaruh bagi properti lokal pada tahun 2023.
Temuan Little Hotelier ini diharapkan mampu bermanfaat bagi pemulihan dan persiapan pasca pandemi yang signifikan oleh penyedia akomodasi dan industri pariwisata pada skala yang lebih luas. Hingga 2027, pasar real estat perhotelan Indonesia diperkirakan akan mencatat tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) lebih dari 7,3%. Di Indonesia, pertumbuhan industri pariwisata biasanya terlihat menghasilkan perbaikan infrastruktur bagi perekonomian dalam negeri.
Dalam temuan Little Hotelier, daftar 12 besar Indonesia menyoroti perubahan asal wisatawan yang sekarang memesan penginapan secara lokal, serta pendekatan holistik yang sekarang dilakukan banyak bisnis perhotelan untuk menjual kamar mereka secara daring ketika industri pariwisata kembali pulih.
Traveloka yang berbasis di Jakarta menduduki puncak daftar 12 besar Indonesia pada tahun 2021, pindah ke posisi keempat pada tahun 2022. Hal ini dikarenakan hampir setengah dari semua check-in hotel sepanjang tahun datang dari wisatawan internasional. Dan saluran seperti Luxury Escapes, yang sebagian besar digunakan oleh wisatawan Australia, masuk dalam daftar Indonesia untuk pertama kalinya.
Terlepas dari hal ini, selain Traveloka, dua booking channels yang berbasis di Jakarta, Tiket.com dan PegiPegi kembali memainkan peran penting bagi bisnis lokal, yang masuk dalam daftar Indonesia.
12 booking channels hotel teratas pada tahun 2022, berdasarkan total pendapatan kotor adalah:
- Booking.com
- Agoda
- Expedia Group
- Traveloka
- Hotel websites (pemesanan langsung)
- Tiket.com
- Hotelbeds
- Luxury Escapes
- Trip.com
- MG bedbank
- Airbnb
- Pegipegi
Temuan utama lainnya dari data yang dibagikan oleh Little Hotelier hari ini meliputi:
● Rata-rata harga kamar harian (ADR) akomodasi di Indonesia naik sebesar 84% dari tahun ke tahun pada 2022, perubahan yang lebih besar daripada 19 pasar lainnya yang dianalisis untuk penelitian ini, dan di atas rata-rata global sebesar 24%.
● Jeda waktu pemesanan dan check-in rata-rata tumbuh dari 11 hari pada tahun 2021 menjadi 17 hari pada tahun 2022 di Indonesia, menunjukkan kepercayaan wisatawan yang meningkat dan bukti pertumbuhan tamu internasional yang sering memesan akomodasi mereka dari jauh hari.
● Tingkat pembatalan tetap di bawah 10%, dan merupakan yang terendah dari seluruh pasar yang dianalisis.
● Jumlah rata-rata waktu yang dihabiskan wisatawan di properti Indonesia adalah 2,20 hari pada tahun 2022, di atas rata-rata global sebesar 1,93 hari.
Tander Lowongan juga membahas betapa pentingnya bagi penyedia akomodasi kecil Indonesia untuk lebih terlibat dan memahami secara menyeluruh tren industri terbaru dengan memanfaatkan sistem teknologi informasi. “Dalam lingkungan perjalanan yang dinamis seperti ini, pengetahuan menjadi kekuatan, dan penyedia akomodasi yang memiliki pemahaman mendalam tentang bagaimana berkembangnya perilaku pemesanan wisatawan akan dapat menyesuaikan bisnis mereka dan tetap selangkah lebih maju dari pesaing. Membangun kesadaran tentang bagaimana dan di mana wisatawan menempatkan pemesanan mereka secara online saat bepergian secara lokal merupakan awal yang tepat bagi pemilik akomodasi untuk mengenal perilaku wisatawan,” pungkasnya.(AC)














