Jakarta, Itech- Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui program pengembangan Science Techno Park (STP) dapat menghasilkan sejumlah perusahaan pemula berbasis digital berperan sebagai penggerak dari pengembangan ekonomi.
“Pembangunan taman sains dan teknologi nasional (National Science and Technology Park) diarahkan berfungsi sebagai pusat pengembangan sains dan teknologi maju, pusat penumbuhan wirausaha baru di bidang teknologi maju, dan pusat layanan teknologi maju ke masyarakat,” kata Direktur Jenderal Kelembagaan Iptekdikti, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Patdono Suwignyo pada acara workshop pengembangan STP sebagai wadah komersialisasi teknologi untuk peningkatan daya saing dan perekonomian nasional di Solo, Senin (8/8).
Masih menurut Patdono, pemerintah akan membangun 100 STP selama tahun 2015 hingga 2019. Mulai tahun 2015, telah dimulai pembangunan 60 STP yang tersebar di hampir di seluruh wilayah Indonesia,” paparnya. Pembangunan STP bukanlah hal yang mudah. Hasil studi banding pembangunan STP di negara-negara yang maju ternyata pembangunan STP sampai tahapan yang matang memerlukan waktu lama, ada yang memerlukan waktu 35 tahun, 28 tahun, minimal 15 tahun. “Dengan belajar dari negara-negara yang lebih dahulu sukses membangun STP. Diharapkan Indonesia bisa membangun STP sampai tahapan yang matang dalam waktu yang lebih singkat,” ujarnya.
Disisi lain, ntuk mensukseskan implementasi Nawa Cita, khususnya pembangunan 100 STP, Kemenristekdikti telah menyusun program-program prioritas diantaranya adalah memberikan dukungan pendanaan, tenaga ahli, laboratorium untuk melanjutkan penelitian yang sudah mencapai tahap Technology Readiness Levels (TRL) lima dan enam menjadi penelitian TRL sembilan, sehingga pasokan penelitian inovatif yang siap dihilirkan dalam STP jumahnya cukup banyak.
Kemudian memberikan dukungan pendanaan, tenaga ahli, mempertemukan dengan calon partner industri, calon pemasok, laboratorium pengujian, dan lain-lainnya, sehingga hasil penelitian yang telah mencapai TRL sembilan benar-benar bisa diindustrikan. Saat ini, STP di Indonesia masih dalam tahap pengembangan awal. “Ke depan, diharapkan STP menjadi wadah interaksi antara akademisi, bisnis, pemerintah, dan masyarakat yang dapat menghasilkan produk berbasis potensi daerah dan berorientasi pasar dalam negeri,” ungkapnya.
Di tempat yang sama, Deputi Menko Pembangunan dan Kebudayaan (PMK) Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama, Agus Sartono mengatakan, STP di Indonesia untuk mencetak pengusaha-penguaha muda berbasis teknologi. Dalam pengembangan STP pemerintah juga merevitalisasi Program SMK, sekarang sedang berjalan di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (red/ju)














