Kementerian Kesehatan (Kemenkes), salah satu kandidat penerima penghargaaan TOP Digital Awards 2023 telah melewati sesi penjurian yang diselenggarakan secara daring beberapa waktu lalu. Diwakili Pusat Data dan Informasi-Digital Transformation Office (Pusdatin-DTO) Kementerian Kesehatan, pada sesi ini diungkap beberapa hal menarik seputar transformasi digital yang dilakukan oleh lembaga tersebut.
Di awal paparan, Setiaji, Staf Ahli Bidang Teknologi Kesehatan & Chief DTO, mengatakan, “(Digital Transformation Office), di mana kami melakukan akselerasi terhadap digitalisasi layanan kesehatan dengan memanfaatkan data dan teknologi yang salah satunya adalah tahun sebelumnya kita mengenal mungkin seperti PeduliLindungi dan kemudian kami transisikan dan transformasi menjadi Satu Sehat.”
“Adapun misinya tentunya bagaimana kita bisa memanfaatkan teknologi ini untuk bukan hanya melakukan integrasi data tetapi juga capacity building untuk para Nakes (tenaga kesehatan) serta pemanfaatan data ini untuk policy,” tambahnya.
Lebih lanjut dalam hal transformasi digital, Setiaji mengatakan bahwa Pustadin-DTO Kemenkes memiliki beberapa strategi, di antaranya adalah melakukan simplikasi layanan kesehatan.
“Kita ketahui bersama banyak sekali (ratusan) aplikasi yang ada di pemerintah, itu juga target kami untuk melakukan simplifikasi dan mengurangi jumlah aplikasi, termasuk mengintegrasikan layanan kesehatan, dari fasilitas kesehatan, rumah sakit, apotek, laboratorium dan lain sebagainya sehingga datanya terintegrasi menjadi Satu Data Kesehatan,” ungkap di hadapan Dewan Juri TOP Digital Awards 2023, Jumat (3/11/2023).
Selain itu, lanjut Setiaji, yang tak kalah pentingnya adalah melakukan penguatan ekosistem digital kesehatan, salah satunya dengan menjalankan Regulatory Sandbox berbasis AI, Blockchain, dan IoT. Kemenkes disebut menjadi Kementertian yang kedua yang telah melaksanakan Regulatory Sandbox.
“Pengembangan ekosistem dengan menerapkan Regulatory Sandbox, (bertujuan) untuk memastikan supaya health tech industry ini bisa growth tetapi tetap comply dengan regulasi maupun juga regulasinya adaptif dengan perkembangan saat ini. Karena pengalaman sebelumnya itu butuh 15 tahun untuk melakukan perubahan regulasi dan dengan adanya Sandbox ini diharapkan regulasinya akan adaptif terhadap situasi terkini, inovasi yang ada,” jelas Setiaji.
Dalam paparan selanjutnya, pada bagian tata kelola IT atau IT Governance, Setiaji mengatakan bahwa Kementerian Kesehatan telah memiliki tim GRC untuk memastikan seluruh produknya bisa memenuhi IT Good Governance yang baik, termasuk akses data, pengelolaan data, dan juga manajemen pengembangan sistemnya dipastikan secure by design. Selain itu, Kemenkes juga sudah mendapatkan ISO 27001 yang umum untuk security. Adapun secara spesifik untuk kesehatan, Kemenkes telah mengantongi ISO 27799:2016 pertama dan satu-satunya di Indonesia berbasis Health Information Security.
“Kurang lebih seperti itu komitmen kami, data kesehatan kan merupakan data yang sangat strategis dan masuk ke dalam IIV (Infrastruktur Informasi Vital), sehingga kami fokus bagaimana data ini bisa kita amankan dengan baik. Selain tentunya sudah terdaftar dan sudah diases oleh BSSN juga kita memiliki ISO,” jelas Setiaji.
Solusi Bisnis
Pada bagian ini, ada beberapa solusi bisnis yang diungkap Kemenkes. Pertama adalah Platform Satu Sehat. Seperti dikatakan Setiaji, di dalam platform ini terdapat protokol untuk pertukaran data berbasis FHIR HL7. Selain itu, di dalam platform ini juga ada standarisasi misalnya kode obat, juga kode-kode yang lain, seperti misalnya kode untuk dokter kemudian juga misalnya untuk tindakan kesehatan kalau suntik, imunisasi, vaksin dan lain sebagainya itu sudah distandarkan. Termasuk pemeriksaan di lab, untuk memastikan bahwa data yang ditarik itu menggunakan standar kodefikasi yang sama.
“Dengan adanya sistem ini, masyarakat pasien bisa mengakses data miliknya, yakni rekam medis secara langsung melalui aplikasi Satu Sehat Mobile yang dulu dikenal dengan Peduli Lindungi, dan kemudian faskes bisa mengakses data-data rekam medisnya melalui sistem ini juga,” jelas Setiaji.
Selanjutnya, inovasi lain yang dikembangkan Kemenkes adalah Satu Sehat Data. Dijelaskan Setiadi, Satu Sehat Data merupakan dashboard yang sudah disiapkan untuk bisa diakses oleh seluruh regional, yaitu provinsi, kota, dan kemudian dari Kemenkes. “Sehingga di sana menyebutnya satu di kami pun juga menyebutnya satu,” tandasnya.
Adapula layanan lain yang disebut ASIK, yaitu Sehat IndonesiaKu. Ini adalah solusi bisnis yang dikembangkan Kemenkes untuk layanan di luar gedung.
”Jadi, layanan kesehatan itu (selain) ada yang di dalam gedung tetapi ada juga yang di luar, seperti misalnya kunjungan rumah dan posyandu. Dan kita mengembangkan sistem namanya ASIK (Sehat IndonesiaKU) di mana di dalamnya untuk memastikan kader bisa menginput (data), selain ada berbasis aplikasi juga ada berbasis WhatsApp ataupun Chatbot. Dan kemudian ini terintegrasi juga dengan platform Satu Sehat,” ujar Setiadi.
“Dan dampak yang dirasakan kita bisa melakukan percepatan imuniasi kurang lebih ada 96 juta individual yang sudah tercatat dan kemudian 98% puskesmas sudah menggunakan ini, dan rata-rata per bulan 14 juta layanan imunisasi. Dan kemudian kita juga melakukan screening penyakit untuk memastikan pencegahan sejak dini, dan kemudian kurang lebih penggunaanya sudah 90%,” sambungnya.
Lalu, ada juga aplikasi Satu Sehat Mobile, yang merupakan transformasi dari PeduliLindungi yang dulu hanya untuk Covid, sekarang sudah perluas fiturnya. Melalui aplikasi ini, pengguna bisa akses rekam medis elektroniknya termasuk juga memonitor jarik kesehatan, fitur reminder, termasuk sertifikat vaksin dan imuniasi untuk anak-anak.
“Ke depannya akan banyak sekali yang kita siapkan. Ini ibarat seperti personalize health care assistant buat masyarakat Indonesia. Kemudian akan terhubung juga dengan wearable device sehingga kita bisa mendorong promotif,preventif, dibandingkan pengobatan misalnya dengan memberikan poin bagi Bapak dan Ibu yang berjalan 5000 langkah dengan poin dan kemudian bisa ditukarkan dengan voucer-voucer ataupun juga membeli obat-obatan,” jelas Setiaji.
Tidak berhenti sampai di situ, Kemenkes juga sedang menyiapkan solusi lainnya, yakni Satu Sehat Logistik, Satu Sehat SDMK, dan Satu Sehat Rekam Medis. Di Satu Sehat Logistik nanti di dalamnya terdapat kamus farmasi, serta ada informasi oba-obatan untuk kanker, jantung, kemudian stroke, dan urologi, sehingga masyarakat bisa melihat harga-harga obata-obatan secara langsung dan terbuka.
Adapun Satu Sehat SDMK ditujukan untuk tenaga kesehatan. Platform ini sudah mengintegrasikan data-data dokter yang dahulu terpencar-pencar, seperti ada yang di IDI, PGI, OGI dan sebagainya. “Ini kita sudah gabungkan di sini, sehingga dokter bisa terinfo dan termonitor termasuk kami apakah dokternya sudah valid statusnya termasuk juga apakah aktif atau tidak, terus kemudian kapan diperpanjang, kemudian bagaimana poinnya, termasuk juga sertifikatnya. Ini ada di dalam Satu Sehat SDMK,” jelasnya.
Sementara untuk Satu Sehat Rekam Medis, di platform ini untuk dokter bisa mengakses data rekam medis pasiennya walupun beda-beda rumah sakit dan lab.
“Kalau selama ini kan kita harus bawa dokumen dari hasil lab tempat lain, dan kemudian dengan adanya ini pasien tidak perlu lagi bawa-bawa berkas, ataupun paperless termasuk bisa membaca rekam medis si pasien, sehingga tidak ada lagi pertanyaan alergi obat ngga, riwayat jantungnya seperti apa, kemarin minum obat apa dan lain sebagainya,” pungkas Setiaji.














