PT BPR Bank Tulungagung (Perseroda) terus konsisten meningkatkan digitalisasinya. Dan mulai tahun lalu, bank milik Pemerintah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur itu menambah aplikasi digitalnya. Salah satunya Tulungagung Pay. Bahkan aplikasi anyar ini sudah turut berkontribusi positif terhadap kinerja bisnis Bank Tulungagung ini.
“Tulungagung Pay ini menjadi kebanggaan kami. Di situ banyak fasilitas dan keunggulan yang bisa dimanfaatkan, seperti pembayaran tagihan untuk PBB dan lainnya, juga transfer antar bank, tarik tunai, pembelian tiket KAI dan QRIS. Bahkan bisa untuk pengajuan pinjaman (kredit). Bisa klik dari situ. Dan saat ini kita sedang sosialisasikan ke masyarakat. Itu membanggakan kami,” tutur Direktur Utama Bank Tulungagung, Suhermin saat mengikuti proses penjurian TOP Digital Award 2023 secara online, Kamis (12/10/2023).
Dalam presentasinya, Bank Tulungagung mengangkat tema ‘Mengintegrasikan IT Governance dan Cyber Security Dalam Inovasi Bisnis dan Layanan’. Beberapa solusi bisnis perusahaan banyak dipaparkan. Salah satu yang diunggulkan adalah Tulungagung Pay itu.
“Ini baru dikembangkan tahun 2022 lalu. Jadi, Tulungagung Pay adalah aplikasi pembayaran dan pembelian berbagai layanan Biller secara elektronik dengan menggunakan Uang Elektronik SpeedCash. Dan ini sangat bermanfaat atau berdampak positif ke kami yakni Bank Tulungagung menjadi lebih dikenal oleh masyarakat umum dan bertambahnya nasabah tabungan di Bank Tulungagung,” tegas dia.
Sejatinya, Tulungagung Pay ini akan dibuat seperti mobile banking-nya satu bank atau nantinya disebut Tulungagung Mobile. Cerita dia, gara-gara perizinannya itu ketat dan harus lewat Bank Indonesia, maka untuk memagkas perizinan tersebut, pihakya langsung mengurus perizian ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Akan tetapi nantinya, kata dia, secara paralel sambil mengajukan perizinan ke BI, pihaknya akan menyempurnakan menjadi mobile banking. “Kalau yang ke OJK ini (perizinan) kita pakai otorisasi dulu,” katanya.
Maka dari itu, dalam hal otorisasi ini, Tulungagung Pay memang bisa untuk transfer dari rekening Bank Tulungagung ke bank lain, namun harus melalui beberapa tahapan. “Jadi tidak bisa langsung lewat Tulungagung Pay (transfernya), tapi melalui otorisasi di staf bank kami. Dan prosesnya lainya kemudian sama saja dengan yang lain, ada perintah memasukan PIN dan lain sebagainya,” tutur Suhermin.
Soal fasilitas transfer dana ke bank umum lewat aplikasi Tulungagung Pay ini, dijelaskan Suhermin, tentu menjadi hal yang psoitif. Hal ini merupakan nilai lebih dimana bank dengan kategori BPR yang tidak memiliki akses dalam lalu lintas Sistem Kliring Nasional atau SKNI yang diselenggarakan oleh BI itu, melalui layanan aplikasi Tulungagung Pay ini Bank Tulungagung dapat memberikan fasilitas tersebut.
Berdampak Positif
Kata Sang Dirut, TulungagungPay ini sudah dapat dirasakan dampak positifnya secara nyata. Makanya produk ini, disebutnya, sangat membanggakan. “Ini (Tulungagung Pay) produk solusi bisnis yang membanggakan bagi PT. BPR Bank Tulungagung. Dari awal peluncuran pada Agustus 2022 hingga September 2023 penggunanya telah mencapai 5.000 orang, dengan jumlah transaksi dalam sehari minimal 20 transaksi,” katanya.
“Hal ini menjadi bukti bahwa PT. BPR Bank Tulungagung telah dikenal oleh masyarakat luas termasuk generasi muda yang mengutamakan fleksibilitas dalam bertransaksi di era digital. Dengan demikian kepercayaan masyarakat terhadap PT. BPR Bank Tulungagung juga meningkat,” sambung dia.
Selain itu, nasabah milenial juga dapat melakukan pembayaran tagihan, pembelian tiket dan pulsa serta pembayaran di berbagai merchand melalui fitur QRIS hanya dengan menggunakan handphone. “Jadi, kalau begitu, ‘seolah dunia berada dalam genggaman’,” katanya berseloroh.
Lantas bagaimana soal kinerja bisnisnya? Kata dia, meski baru di-launching, produk ini sudah berdampak ke kinerja bisnis. DI akhir tahun lalu, Bank Tulungagung berhasil mencatatkan performa positif. Bahkan menyalip dari proyeksi.
Untuk asset mencapai Rp219,47 miliar pe akhir tahun 2022 lalu atau bertumbuh dari tahun sebelumnya (year on year) di posisi Rp214.47 miliar. Pendapatan juga naik dari Rp28,51 miliar menjadi Rp 30,01 miliar. Sehingga labanya melonjak dari Rp4,94 miliar menjadi Rp5,48 miliar.
Selain aplikasi Tulungagung Pay, bank BPR satu ini juga memiliki aplikasi lainnya seperti Sistem Informasi Analisa Kredit (SIAK). Dengan fitur unggulannya ada fitur Geolokasi untuk memperoleh lokasi agunan dan tempat tinggal debitur. Juga ada aplikasi Absensi Karyawan.
“Dan yang masih on process direncanakan akhir tahun 2023 ini adalah Tulungagung Apps. Ini seperti aplikasi Mobile Banking yang dapat diunduh melalui Playstore dimana nasabah dapat melakukan transaksi rekening tabungan Bank Tulungagung dari handphone. Dengan fitur unggulannya untuk pengecekan saldo dan mutasi rekening, top up saldo ke akun Tulungagung Pay,” terang dia.
IT Maturity Level
Kendati terus meningkatkan IT-nya, namun diakui Suhermin, dari lima level dalam tingkat kematangan IT atau IT Maturity Level ternyata posisi Bank Tulungagung belum ke level lima. “Pada saat ini Bank Tulungagung menerapkan beberapa level terkait IT Maturity yang di implementasikan untuk pengembangan Core Banking System,” katanya.
Untuk IT Maturity Level sendiri dapat dijelaskan sebagai berikut: untuk Level Tingkat Pertama: BPR tidak memiliki proses formal yang ditetapkan atau terstruktur dalam pengelolaan suatu sistem atau proses. Keputusan dan tindakan diambil secara acak tanpa adanya rencana atau koordinasi yang jelas.
Untuk Level Tingkat Kedua: BPR telah mulai mengadopsi beberapa proses dasar dalam pengelolaan suatu sistem atau proses. Beberapa kebijakan dan prosedur telah ditetapkan, meskipun belum sepenuhnya terdokumentasi. Proses-proses ini dapat diulang secara konsisten dalam organisasi.
Untuk Level Tingkat Ketiga: BPR telah mengadopsi proses yang terdefinisi dengan jelas dan didokumentasikan secara lengkap dalam pengelolaan sistem atau proses. Proses-proses ini telah didefinisikan berdasarkan praktik terbaik dan standar industri yang relevan.
Level Tingkat Keempat: BPR telah mencapai tingkat pengelolaan yang lebih matang dan terstruktur. Proses-proses yang terukur dan terkontrol secara konsisten dilakukan, dengan pemantauan dan pengukuran yang teratur untuk memastikan kualitas dan kinerja yang optimal.
Dan untuk Level Tingkat Kelima: BPR telah mencapai tingkat puncak dalam pengelolaan sistem atau proses. Mereka tidak hanya memiliki proses yang terdefinisi dengan baik dan terukur, tetapi juga terus melakukan inovasi dan perbaikan berkelanjutan untuk mencapai keunggulan operasional.
“Pada saat ini, BPR Tulungagung pada level tingkat kedua dan secara intensif naik untuk ke level ketiga. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya kerja sama dengan pihak konsultan IT (SKYPRO) untuk dilakukan penge-test-an terkait system yang berjalan pada BPR dan melakukan perbaikan tentang dokumentasi seperti SPTI dan dokumen lain terkait IT,” pungkas Suhermin.
Penulis: Busthomi














