
Jakarta, Itech- Badan Teknologi Nuklir Nasional (Batan) berhasil menekan populasi nyamuk Aedes aegypti, nyamuk pembawa virus Demam Berdarah Dengue (DBD) dan virus zika melalui pemanfaatkan teknologi nuklir. Batan menekan populasi nyamuk itu dengan membuatnya mandul melalui radiasi gamma melalui Teknik Serangga Mandul (TSM).
Kepala Batan, Djarot Sulistio Wisnubroto, TSM merupakan teknologi nuklir yang sudah lebih darl 50 tahun dipakai di seluruh dunia yang awalnya untuk melawan lalat buah, ngengat dan serangga pengganggu lainnya.
Batan melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) sudah meneliti TSM sejak 2005. Pada 2011 sampai dengan 2015, Batan telah mengaplikasikan teknik tersebut di wilayah Jakarta, Salatiga, Tangerang dan Bangka Barat dan berhasil menurunkan populasi nyamuk secara signifikan. “Untuk memandulkan nyamuk jantan selain menggunakan irradiator, juga bisa melalui Sinar X. Namun, TSM lebih ekonomis karena dalam membiakkan nyamuk cukup mudah dan tidak membutuhkan biaya banyak dan juga efektif,,’ kata Kepala Batan di Jakarta, Senin (7/11).
Sementara itu, Peneliti Laboratorium Entomologi Batan, Ali Rahayu, mengatakan dalam satu jam dengan menggunakan alat pemisah antara pupa jantan dan betina, mereka bisa memisahkan sekitar 54 ribu pupa jantan. Jika kebutuhan nyamuk jantan mandul sedikit, radiasi cukup dilakukan pada nyamuk jantan secara langsung. Tapi jika kebutuhan radiasi ingin dalam jumlah banyak, sebaiknya langsung disterilkan pada pupa nyamuk jantan.
Teknik serangga mandul memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan teknik Iainnya, di lantaranya adalah Iebih murah, ramah Iingkungan dan lebih mudah digunakan. Efektivitas penurunan populasi bisa mencapai 96,35 % pada penyebaran nyamuk jantan minggu ke empat, dapat menahan munculnya kasus baru di atas 7 bulan, dan dapat menghilangkan keberadaan virus yang dianalisis pada tubuh nyamuk setelah pelepasan kedua.
Seperti diketahui,Indonesia masih menduduki peringkat tertinggi dalam jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di kawasan ASEAN. Data Kementerian Kesehatan menyebutkan, dari sekitar 500 Kabupaten/Kota yang ada dl Indonesia, 90 persen di antaranya merupakan daerah endemik, termasuk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasl (Jabodetabek). Wilayah tersebut menjadi daerah endemik karena kondisi lingkungannya yang kurang kondusif. (red/ju)














