Jakarta, Itech – Saat ini di dunia, pemanfaatan energi surya selama ini lebih dari 20 tahun terakhir telah mencapai tingkat yang signifikan, yakni sekitar 227 GWp pada 2015 (GSR 2016 REN21), sehingga sudah kompetitif terhadap pemanfaatan energi konvensional. Namun sayangnya di Indonesia pemanfaatan PLTS Fotovoltaik sampai saat ini masih terendah (0,95 GWp), sehingga masih jauh kontribusi sebagaimana ditetapkan dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN), yaitu 6,4 GWp pada 2025.
Terkait menjawab tantangan berat pengembangan energi surya tersebut, para stakeholder pemangku kepentingan sepakat mendirikan Asosiasi Energi Surya Indoneia (AESI) guna mendorong pemanfaatan energi surya bagi masyarakat Indonesia, serta membantu pencapaian upaya membangun kemandirian bangsa di bidang penyediaan dan pemanfaatan energi Nasional. Peresmian pendirian AESI tersebut ditandai dengan diskusi panel bertema “Mencari Model Bisnis PLTS Fotovotaik di Indonesi,” yang bertujuan mencari model bisnis maupun finansial yang tepat untuk Indonesia, sehingga akan mendorong penggunaan maupun pengusahaan/bisnis energi surya.
Arya Rezavidi, perekayasa Utama Bidang Energi, BPPT mengatakan, tujuan didirikan AESI ini adalah kami ingin menjadi partner pemerintah untuk memberikan masukan supaya bisa mencapai target dalam kebijakan energi Nasional,” kata Reza yang juga Sekjen AESI pada acara deklarasi pendirian AESI di GKM Green Tower, Kamis (15/12). Menurutnya, sudah sejak lama pengembangan teknologi energi, khususnya energi surya mendapat perhatian besar dari BPPT. Berdasarkan dari kondisi geografis, yang membuat negeri kita mendapat sinar matahari yang berlimpah sepanjang tahunnya, energi surya diharapkan menjadi salah satu energi alternatif yang sangat potensial bagi Indonesia.
Sementara itu, pendirian AESI bertujuan adalah untuk mendorong pemanfaatan Energi Surya bagi kepentingan masyarakat Indonesia, serta membantu pencapaian upaya membangun kemandirian bangsa di bidang penyediaan dan pemanfaatan Energi Nasional. Sementara misinya antara lain adalah sebagai wadah bagi berhimpunnya pengembang pembangkit listrik tenaga surya, sebagai wadah bagi industri manufaktur di bidang sistem tenaga surya, baik industri modul surya maupun komponen pendukungnya (BOS).
Selain itu juga sebagai wadah bagi perorangan maupun organisasi profesional yang memiliki kompetensi sebagai ahli energi surya, sebagai wadah bagi berhimpunnya pengguna pembangkit listrik tenaga surya, menjadi fasilitator bagi seluruh pemangku kepentingan di bidang energi surya, dan membantu pemerintah dalam membuat kebijakan yang tepat untuk mendorong pemanfaatan energi surya secara komersial, sehingga mampu menumbuhkan industri yang terkait. (red/ju)
Akamai menunjuk Fiona Zhang sebagai Wakil Presiden Regional Bidang Penjualan dan Program Saluran untuk kawasan Asia-Pasifik dan Jepang. Penunjukan Fiona...
Bagaimana cara mengolah Big Data sehingga dapat divisualisasikan, serta bagaimana dapat melakukan analitik dan dapat memprediksikan apa yang harus dilakukan...