Perubahan kebutuhan konsumen, meningkatnya perhatian terhadap kesehatan, serta tuntutan menghadirkan produk pangan yang tetap menarik menjadi peluang bagi industri makanan dan minuman di Indonesia. U.S. Dairy Export Council (USDEC) mendorong pelaku industri memanfaatkan inovasi bahan baku dairy Amerika Serikat untuk menjawab perubahan tersebut.
Hal itu mengemuka dalam U.S. Dairy Ingredients Supply & Innovation Seminar bertema “Unlocking Value in an Evolving Landscape” yang digelar di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Senin (14/9/2026).
Country Manager Indonesia U.S. Dairy Export Council, Southeast Asia, Arief Rashidi, mengatakan Indonesia merupakan salah satu pasar penting bagi produk dairy Amerika Serikat, termasuk lactose, whey complex, dan cheese. Indonesia juga menjadi pasar terbesar kedua produk U.S. skim milk powder di Asia Tenggara.
“Indonesia sangat penting bagi U.S. dairy,” kata Arief dalam sambutannya.
Menurut dia, seminar tersebut tidak sekadar menjadi forum presentasi, tetapi juga wadah bagi produsen, tim riset dan pengembangan produk, procurement, importir, distributor, serta pemangku kepentingan industri untuk membangun kolaborasi.
“Kami ingin seminar ini bukan hanya menjadi tempat untuk mendengar presentasi, tetapi juga menjadi kesempatan bagi Bapak dan Ibu untuk bertukar ide, terhubung dengan para U.S. suppliers kami, dan mengeksplorasi berbagai peluang baru bersama-sama,” ujarnya.
Salah satu isu yang turut menjadi perhatian dalam pembukaan seminar adalah regulasi Halal Pre-Shipment Inspection. Agricultural Counselor, Foreign Agricultural Service U.S. Department of Agriculture (USDA) Indonesia, Lisa Ahramjian, mengatakan pemerintah Amerika Serikat masih melakukan pembahasan dengan otoritas Indonesia terkait regulasi tersebut.
“Kami sudah mengirimkan surat secara rinci kepada mereka dan sekarang sedang menunggu tanggapan secara tertulis atas surat tersebut,” kata Lisa.
Dia mengatakan isu tersebut menjadi prioritas karena berpotensi memengaruhi eksportir dairy Amerika Serikat. Amerika Serikat, lanjutnya, juga tengah menyiapkan komentar melalui proses formal di WTO Committee on Technical Barriers to Trade.
Lisa menambahkan, Agreement on Reciprocal Trade antara Amerika Serikat dan Indonesia diharapkan dapat mengatasi sejumlah hambatan perdagangan. Berdasarkan perjanjian tersebut, produk dairy Amerika Serikat nantinya ditargetkan dapat masuk Indonesia tanpa bea masuk, sementara proses registrasi fasilitas juga akan dihapus.
“Jadi, pada dasarnya, seluruh daftar fasilitas dairy Amerika Serikat yang terdaftar secara federal akan diunggah ke CEMREC. Hal ini akan sangat memperluas pilihan fasilitas yang dapat Bapak dan Ibu impor produknya,” ujarnya.
Konsumen Semakin Peduli Kesehatan
Regional Director Southeast Asia USDEC, Dali Ghazalay, mengatakan perubahan perilaku konsumen membuat industri makanan dan minuman harus terus berinovasi. Konsumen kini semakin memperhatikan apa yang mereka makan dan minum, dengan kebutuhan yang semakin beragam, mulai dari konsumen aktif, orang dewasa yang ingin tetap sehat dan kuat, hingga keluarga yang membutuhkan makanan praktis sekaligus bergizi.
“Jadi, kalian menghadapi semua tantangan ini, dan hal tersebut menjadi dorongan atau kebutuhan yang terus-menerus bagi kalian untuk terus berinovasi,” kata Dali.
Menurut dia, USDEC tidak hanya berperan memperkenalkan produk dairy Amerika Serikat, tetapi juga menyediakan dukungan teknis dan sumber daya pasar melalui tim lokal serta U.S. Center for Dairy Excellence di Singapura.
“Kami ingin memahami konsumen kalian, produk kalian, dan tantangan bisnis yang kalian hadapi, lalu melihat di mana U.S. dairy benar-benar dapat membantu,” ujarnya.
Dali juga menyoroti aspek keberlanjutan dalam produksi dairy Amerika Serikat. Menurut dia, produksi susu Amerika Serikat meningkat 26% pada periode 2007-2020, sementara emisi gas rumah kaca turun 13%.
Dia mengatakan besarnya pasokan dairy Amerika Serikat juga membuka peluang bagi industri pangan untuk mengembangkan produk baru. Namun, yang terpenting bukan sekadar jumlah bahan yang tersedia, melainkan pemanfaatannya untuk menghasilkan produk dengan nutrisi, rasa, tekstur, dan format yang lebih baik.
“Dan jika kalian hanya mengingat satu hal dari apa yang saya sampaikan pagi ini, kami sebenarnya ada di sini untuk membantu kalian,” kata Dali.
Protein dan Indulgence Jadi Tren Utama
Key Account Manager APAC Innova Market Insights Indonesia, Felicia Kristianti, memaparkan 10 tren global makanan dan minuman 2026. Tren tersebut antara lain Powerhouse Proteins, Layer of Delight, Beverage with Purpose, Plant-based, Hybrid plant-based, Made for a Moment, Worth Every Bite, Mind Balance, Crafting Traditions, dan Sustainability.
Dua tren yang dinilai paling berkaitan dengan peluang U.S. dairy adalah Powerhouse Protein dan Layers of Delight.
Felicia mengatakan konsumen di Asia semakin aktif meningkatkan asupan protein. Menurut riset Innova, tiga dari lima konsumen secara aktif memasukkan lebih banyak protein ke dalam pola makan mereka. Peluncuran produk makanan dan minuman yang menggabungkan protein dengan manfaat kesehatan lainnya juga tumbuh 49%.
“Jadi, ini benar-benar sudah lebih dari sekadar berapa gram protein yang ada di dalam produk,” ujarnya.
Menurut Felicia, protein kini dikaitkan dengan berbagai manfaat, mulai dari imunitas, pengelolaan berat badan, performa olahraga hingga kesehatan mental, energi, dan fokus. Produk tinggi protein juga semakin meluas ke berbagai kategori, termasuk makanan ringan, saus, bumbu, ready meals, hingga produk yang sebelumnya tidak identik dengan protein.
Tren lainnya adalah Layers of Delight, yang menekankan pengalaman menikmati makanan melalui kombinasi rasa, tekstur, visual, dan sensasi. Menurut Felicia, konsumen tetap menginginkan produk indulgent, tetapi semakin memperhatikan aspek kesehatan.
“Karena saat ini, meskipun konsumen tahu bahwa mereka ingin menikmati sesuatu yang indulgent, mereka juga tetap memperhatikan kesehatan mereka,” katanya.
Dia menyebut 34% konsumen global mencari produk indulgent yang juga menawarkan healthier enjoyment. Produk dengan kandungan gula lebih rendah, lemak lebih rendah, tambahan vitamin dan mineral, maupun protein menjadi bagian dari tren tersebut.
Indonesia Jadi Pasar dengan Potensi Besar
Vice President Strategic Insights USDEC Southeast Asia, Anoo Pothen, mengatakan Indonesia memiliki posisi penting dalam pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara, didukung konsumsi domestik yang kuat dan besarnya sektor makanan serta minuman.
Menurut Anoo, perubahan perilaku konsumen Indonesia juga memperlihatkan semakin kuatnya perhatian terhadap kesehatan. Dalam survei konsumen USDEC, perhatian tersebut mencakup imunitas, kesehatan pencernaan, energi dan stamina, metabolisme, hingga kualitas tidur.
“Jadi, kesehatan kini semakin didefinisikan secara lebih holistik,” kata Anoo.
Dalam konteks Indonesia, energi dan stamina menjadi salah satu perhatian yang menonjol. Riset tersebut juga menunjukkan konsumen muda lebih mengkhawatirkan kualitas tidur dibandingkan konsumen berusia lebih tua.
Di sisi konsumsi pangan, Anoo mengatakan konsumen Indonesia relatif sering mengonsumsi berbagai kategori produk berbasis susu. Yogurt, minuman berbasis cokelat atau malt, es krim, frozen desserts, kue, cokelat, hingga produk nutrisi menjadi bagian dari pola konsumsi yang dipantau dalam riset tersebut.
Konsumen juga semakin memperhatikan kualitas nutrisi dan kejelasan label ketika membeli makanan dan minuman. Sekitar 50% responden menyatakan produk harus memberikan value for money yang baik.
Menariknya, konsumen Indonesia juga menunjukkan keterbukaan terhadap produk yang menawarkan manfaat kesehatan. Sekitar 48% responden dalam studi nasional menyatakan bersedia membayar 10% lebih mahal untuk produk dengan manfaat kesehatan, sementara 19% lainnya bersedia membayar 20% lebih mahal.
Dalam kategori protein, sekitar sembilan dari 10 konsumen menyatakan kemungkinan mempertimbangkan makanan yang ditambahkan protein. Namun, Anoo mengingatkan bahwa inovasi tidak cukup hanya menawarkan sesuatu yang baru.
“Menjadi baru hanya demi menjadi baru tidak akan memberikan banyak dampak jika tidak memiliki relevansi bagi konsumen,” ujarnya.
Dia menekankan pentingnya menempatkan kebutuhan konsumen sebagai pusat inovasi. Di tengah perkembangan teknologi dan penggunaan artificial intelligence (AI) dalam pencarian produk, relevansi, pesan, dan informasi produk juga semakin menentukan.
“Indonesia adalah seperti mesin pertumbuhan bagi Asia Tenggara. Ada pertumbuhan yang stabil dalam konsumsi makanan dan minuman kemasan. Nutrisi juga menjadi semakin penting,” kata Anoo.
Perubahan tersebut menjadi peluang bagi industri makanan dan minuman untuk mengembangkan produk yang tidak hanya memenuhi kebutuhan nutrisi, tetapi juga memberikan pengalaman konsumsi yang menarik. Dalam konteks itu, USDEC menawarkan bahan dairy dan dukungan teknis sebagai salah satu sumber inovasi bagi pelaku industri pangan Indonesia.














