Jakarta, Itech- Tahun 2017 ini, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) menganggarkan dana untuk penelitian atau riset sebesar Rp 1,395 triliun. Dari dana tersebut, Rp 150 miliar dialokasikan untuk pengabdian masyarakat dan Rp380 miliar untuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN-BH).
Menteri Ristek & Dikti Muhammad Nasir menjelaskan, penerimaan proposal riset untuk seluruh skema pendanaan tahun 2017 ini telah dilaksanakan mulai pertengahan Mei sampai 9 Juni 2016. Sedangkan seleksinya dimulai pada 14 Juni sampai September 2016. Selanjutnya, penetapan pendanaan atau pemilihan proposal terpilih dilaksanakan pada pertengahan Desember 2016 sampai awal Januari 2017.
“Dari 28.286 jumlah usulan riset yang masuk, menurutnya, yang terpilih untuk didanai sebanyak 14.889 proposal. Sedangkan untuk pengabdian masyarakat, jumlah usulan riset yang masuk ada 12.988 dan terpilih 2.117 proposal.Usulan penelitian tersebut 47,45 persen berasal dari PTN (Perguruan Tinggi Negeri) dan 52,55 persen PTS (Perguruan Tinggi Swasta). Adapun usulan penelitian yang didanai 49,91 persen berasal dari PTN dan 50,09 persen dari PTS,” ungkap Nasir kepada wartawan di Jakarta, Jumat (6/1).
Lebih lanjut Menteri Nasir mengungkapkan, jumlah perguruan tinggi pengusul sebanyak 114 PTN dan 1.222 PTS. Sedangkan jumlah perguruan tinggi yang didanai sebanyak 113 PTN dan 991 PTS. Usulan pengabdian kepada masyarakat 49,3 persen berasal dari PTN dan 50,7 persen dari PTS. Adapun usulan yang didanai 56 persen dari PTN dan 44 persen PTS.
Dalam kesempatan itu, Menteri Nasir juga mengatakan daya saing Indonesia dibanding negara-negara lain menurun dalam kurun 2014-2016. Pada 2014, Indonesia berada di urutan ke-34 dari lebih dari 130 negara. Pada 2015, turun ke posisi ke-37 dan pada 2017 kembali turun ke urutan ke-41. Mengutif data dari The Global Competitiveness Report menyebutkan, pada 2016, posisi teratas negara yang memiliki daya saing tinggi adalah Swiss, disusul Singapura. Sedangkan Jepang berada di posisi ke-8. (red/ju)













