ItWorks- Di tengah makin tingginya ancaman kejahatan siber berbasis AI, perlu peningkatan pendekatan kolaboratif secara nasional untuk melindungi infrastruktur kritis dan menjaga kepercayaan publik.
Demikian ditegaskan Direktur Strategi dan Kebijakan Pengawasan Ruang Digital, Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia), Muchtarul Huda saat membuka acara “Fortinet Accelerate Indonesia 2025” pada (11/06/2025), yang berlangsung di Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta. Dalam pidato kuncinya, ia menyoroti adanya tren peningkatan ancaman siber berbasis AI serta pentingnya pendekatan kolaboratif secara nasional untuk melindungi infrastruktur kritis untuk menjaga kepercayaan public ini.
Sementara itu, hasil survei terbaru Fortinet yang dilakukan bersama IDC menunjukkan lonjakan hingga 3 kali lipat dalam ancaman siber berbasis AI di Indonesia, dengan 54% organisasi mengalami serangan tersebut sepanjang tahun 2024. Jenis ancaman yang semakin canggih ini menantang sistem pertahanan konvensional dan menegaskan urgensi adopsi solusi keamanan siber yang lebih cerdas dan berbasis AI.
Sementara itu Edwin Lim, Country Director, Fortinet Indonesia, menegaskan komitmen Fortinet dalam mendukung transformasi digital Indonesia melalui platform Security Fabric berbasis AI. Ia menekankan pentingnya ketahanan, konvergensi, dan inovasi sebagai fondasi dalam menghadapi ancaman siber modern.
“Fortinet Accelerate Indonesia 2025 mencerminkan visi bersama menuju ekosistem digital Indonesia yang lebih aman, di mana kolaborasi lintas sektor, transparansi, dan kesiapsiagaan menjadi pilar utama dalam menghadapi kejahatan siber,” ujarnya.














