ItWorks- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta menggagas penguatan kerja sama riset lintas budaya dan peradaban. Kolaborasi ini mencakup bidang keagamaan, kebudayaan, sastra, hingga pengembangan pendekatan humaniora yang kontekstual dan inklusif.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN, Herry Jogaswara, menegaskan pentingnya inisiatif ini sebagai jembatan antara tradisi intelektual Islam dan perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer. Dalam pertemuan yang berlangsung di Kampus BRIN Kawasan Sains Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, belum lama ini, Herry menyampaikan apresiasinya atas kehadiran Direktur ICC Jakarta, Mohammad Syarifani, dan menegaskan bahwa kerja sama kedua institusi telah dimulai secara informal sejak 2022.
“Pada 2023, kami telah menyepakati penandatanganan naskah kerja sama. Sejak saat itu, berbagai agenda seperti riset bersama, seminar, hingga kegiatan nonformal telah dilakukan sebagai bentuk penguatan hubungan kedua lembaga,” ungkap Herry dilasnir portal web BRIN (21/05/2025).
Dalam kesempatan yang sama, Direktur ICC Jakarta, Mohammad Syarifani, memaparkan empat inisiatif program kerja sama yang ditawarkan. Pertama, penyelenggaraan seminar internasional bertema salat, peran ibu dan anak, serta teknologi terbarukan di era disrupsi digital. Seminar ini menyoroti pentingnya praktik ibadah di tengah dinamika teknologi, yang menurutnya bahkan mendapat perhatian hingga level kepala negara. “Indonesia, dengan lebih dari satu juta masjid aktif, merupakan mitra strategis untuk bertukar pengalaman dalam memanfaatkan teknologi demi memperkuat praktik keagamaan,” ujarnya.
Kedua, pengembangan kolaborasi dalam sastra dan puisi Islam. ICC menyoroti kekayaan tradisi pembacaan syair dari tokoh-tokoh besar Persia, seperti Rumi, Hafiz, dan Sa’di, yang dinilai sebagai ekspresi spiritual mendalam. Untuk itu, ICC mengundang Indonesia untuk berpartisipasi dalam Malam Puisi dan menjajaki bentuk kerja sama sastra lintas budaya.
Ketiga, seminar internasional bertema Nahjul Balaghah, sebuah karya monumental yang memuat refleksi keagamaan dan filsafat politik. Syarifani mengundang kontribusi dari para peneliti BRIN dalam menjelajahi nilai-nilai universal yang terkandung di dalamnya. “Karya ini sangat relevan untuk dikaji dari perspektif ilmu sosial dan humaniora, lintas agama dan budaya,” ujarnya.
Keempat, ICC membuka ruang riset kolaboratif yang lebih luas, dengan memberi kesempatan kepada peneliti BRIN untuk menentukan tema atau subjek riset sesuai minat. Syarifani berharap, dalam satu tahun mendatang, FGD tematik dapat diselenggarakan secara rutin setiap bulan, mencakup isu pendidikan, Al-Quran, hingga praktik keagamaan kontemporer.
Dalam sesi diskusi, para peneliti BRIN merespons positif tawaran kerja sama tersebut. Kelompok riset pendidikan agama yang tengah fokus pada pendidikan anak usia dini, menilai tema salat dan teknologi sangat relevan untuk pembentukan karakter religius sejak usia dini. Demikian juga dengan kelompok riset lainnya yang menekankan perlunya menjadikan pendidikan agama sebagai jiwa dari sistem pendidikan nasional.
Sementara itu, terkait dengan “Malam Bersyair”, Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PRMLTL) menyoroti keterkaitan antara kajian tradisi sastra Persia dengan warisan sastra di Indonesia. Hal ini membuka peluang pertukaran ide dan pendekatan lintas budaya.
Beberapa topik penting lain juga turut mencuat, seperti pengaruh globalisasi terhadap sejarah Nusantara, potensi jejak budaya Persia di Indonesia, serta pentingnya pendekatan akademik dalam mengkaji pengaruh linguistik dan budaya. Diskusi turut menyinggung praktik penggunaan bahasa lokal dalam pendidikan, yang dipraktikkan di negara seperti Jepang dan Iran, sebagai pijakan identitas budaya.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Syarifani menyatakan kesiapan ICC untuk menyusun estimasi pembiayaan dan skema pendanaan bersama. Selain empat agenda utama, ICC juga terbuka terhadap topik riset lainnya yang relevan dengan konteks sosial keagamaan di Indonesia. Ia juga menyoroti pentingnya pengkajian isu-isu seperti maslahat dalam beragama, serta perlawanan terhadap kolonialisme dan zionisme sebagai bagian dari refleksi keislaman kontemporer.














