ItWorks- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan komitmennya memperkuat ketahanan pangan nasional melalui riset kolaboratif. BRIN meluncurkan inisiatif NutriFoodSync, riset yang berfokus pada tiga aspek utama, yakni inovasi superfood, pengembangan pangan alternatif, serta penerapan teknologi pertanian presisi.
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Puji Lestari, menekankan bahwa ketahanan pangan dan gizi tidak dapat dicapai hanya melalui kerja sektor pertanian. “Kita butuh sinergi riset, industri, dan pemerintah untuk menjembatani adopsi teknologi pangan dari hulu hingga hilir,” ujarnya, pada forum Roaferian #10, bebarapa waktu lalu dirilis Humas BRIN (19/08/2025) di Jakarta.
Menurutnya, tantangan terbesar ada pada link and match antara hasil riset dan pemanfaatannya di pasar. “Kolaborasi lintas sektor adalah kunci agar ekosistem pangan nasional semakin tangguh menghadapi krisis iklim, degradasi lahan, hingga persoalan gizi masyarakat,” ujarnya.
Kepala Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, Satriyo Krido Wahono, menjelaskan bahwa riset pangan bukan hanya isu ekonomi, tetapi juga persoalan sosial. “Kelaparan, malnutrisi, hingga penyakit degeneratif seperti hipertensi dan diabetes adalah masalah nyata. Solusi yang kita tawarkan adalah inovasi pangan bernutrisi tinggi seperti superfood,” jelasnya.
Ditambahkan, Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang luar biasa. Dari umbi-umbian, kacang-kacangan, serealia, hingga sumber pangan laut, semuanya berpotensi dikembangkan sebagai superfood dan pangan alternatif. “Dengan dukungan teknologi pengolahan, potensi tersebut bisa menjadi peluang industri sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional,” ucap Satriyo.
Selain aspek kesehatan, riset superfood dan pangan alternatif juga memiliki nilai ekonomi. Pasar global superfood pada 2022 mencapai USD 319,93 juta, dan Indonesia memiliki peluang untuk masuk lebih jauh ke industri ini.
Namun, Satriyo menegaskan bahwa kuncinya terletak pada inovasi teknologi pangan, mulai dari minimal processing, pengemasan modern, hingga sistem kendali keamanan pangan.
Sementara untuk pertanian presisi, Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Yudhistira Nugraha, menekankan bahwa produktivitas pertanian Indonesia menghadapi tantangan besar, antara lain perubahan iklim, degradasi lahan, dan rendahnya efisiensi. Dia menyebut ada tiga faktor pengungkit yang saling terkait, yaitu kebijakan pemerintah, investasi infrastruktur, serta penguatan riset dan inovasi.“Pertanian presisi adalah jawaban untuk meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan,” katanya.
Melalui forum ini, BRIN ingin memastikan bahwa riset tidak berhenti di laboratorium. Inovasi pangan yang dihasilkan harus bisa menjangkau masyarakat luas, mendukung UMKM, sekaligus masuk ke pasar global. Dengan kolaborasi multi-pihak, NutriFoodSync diharapkan menjadi platform penghubung antara riset, industri, dan kebijakan publik.
“Ketahanan pangan adalah isu multidimensi. Dengan riset kolaboratif, kita tidak hanya bicara soal produksi, tetapi juga distribusi, diversifikasi pangan, hingga kualitas gizi masyarakat. Inilah saatnya Indonesia menjadikan biodiversitasnya sebagai kekuatan utama untuk menghadapi tantangan global,” pungkasnya.














